Kini mobil yang dinaiki oleh Bilqis dan Ernest sudah berada tepat di depan pintu gerbang berwarna silver yang menjulang tinggi. Pintu gerbang mewah yang menjadi identitas salah satu sekolah swasta di daerah ibu kota.
Bilqis membulatkan mulutnya, bukan karena berdecak kagum melihat kemewahan sekolah yang lebih dari satu tahun sudah ia tempati, tapi membulatkan mulut karena masih tidak percaya kalau dirinya dan teman yang absennya di bawah dirinya sudah telat, ralat sangat telat.
"Jadi, kita telat, Nest?" tanya Bilqis dengan bodohnya.
"Hm." Ernest yang notabenenya anak rajin pun masih tak percaya. Sekarang ia harus apa? Memang membantu Bilqis merupakan kesialan pagi hari yang harus sangat ia hindari.
"Terus gimana?" tanya Bilqis yang sudah pasrah, tidak peduli lagi dengan nilai matematika peminatan, tidak peduli dengan hukuman, atau bahkan nilai yang terancam rendah, padahal nilainya sekarang sudah jauh di bawah rata-rata. Kalau Ernest sih enak, nilai sebelum-sebelumnya sudah di atas batas.
"Masuklah, gue gak mau buang-buang bensin dengan cara putar balik, apalagi ada ulangan matematika peminatan." Ernest melangkahkan kakinya keluar dari mobil, pria itu nampak memanggil satpam untuk membukakan pintu gerbang.
"Mas Ernest telat?" tanya satpam yang memang sudah sangat kenal dengan Ernest, oh ayolah seluruh penjuru sekolah ini juga kenal dengan Ernest. Pria tampan, dingin, yang sangat suka sekali mengikuti olimpiade, bukan mengikuti lagi malah, namun menjuarainya juga.
"Iya, Pak. Tadi ada orang gila yang harus saya bantu, makanya saya bantu." Perkataan santai itu datang dari Ernest yang tentunya seratus persen no debat tidak dapat didengar oleh Bilqis.
"Loh, Mas, buat apa juga bantuin orang gila? Seharusnya ya tinggalkan saja." Bukannya membukakan pintu gerbang dengan cepat, satpam itu malah bertanya hal yang sama sekali tidak penting, buang-buang waktu saja.
"Harus saling membantu dan tolong menolong, Pak. Jadi saya boleh masuk tidak?" tanya Ernest dengan nada kelewat lembut.
"Wah boleh Mas boleh, tapi jangan lupa hukumannya." Satpam pun langsung membukakan gerbang membuat Ernest mengucapkan terima kasih dan memasukkan mobilnya.
Di sekolah ini memang akan ada antrian jika terlambat, antrian yang memang langsung dihadang oleh anak-anak OSIS di depan gedung. Mereka semua yang terlambat harus terlebih dahulu menjalankan hukuman.
"Kita mau dihukum apa ya, Nest?" tanya Bilqis was-was. Walaupun dicap sebagai biangnya kelas XI MIPA 4, Bilqis sama sekali belum pernah memasuki ruangan keramat dengan kayu yang bertuliskan ruang bimbingan konseling di atasnya.
Ernest yang belum pernah merasakan terlambat pun langsung mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu apa-apa.
Mereka berdua sekarang berada di depan kakak-kakak OSIS yang sangat garang dan disegani semua orang. Kakak-kakak yang memang sudah kelas dua belas. Sebenarnya Bilqis heran, kenapa kelas dua belas masih banyak yang menjadi OSIS? Bukankah seharusnya mereka fokus dengan materi untuk ujian serta fokus memasuki perguruan tinggi?
"Pukul tujuh lebih tiga puluh lima menit, ke mana saja kalian sampai baru menginjakkan kaki di sekolah ini?" tanya salah satu kakak OSIS dengan almamater yang bername tag Azka.
"Mobil saya tadi mogok, Kak. Dan secara tidak sengaja saya bertemu dengan Ernest, dia membantu saya, dia yang menelepon bengkel, dia juga yang berbaik hati mengajak saya supaya ikut mobilnya." Bilqis menceritakan semuanya dengan jujur dengan wajah yang pucat pasi. Sudah tak ada lagi Bilqis yang gila, Bilqis yang pemberani, apalagi Bilqis yang menganggap remeh semuanya.
"Halah, palingan juga pacaran dulu, ngaku lo! Gue juga kenal siapa lo kali, Bilqis Theta Sarendra yang terkenal barbar," cibir OSIS perempuan yang sangat menjatuhkan diri Bilqis.
Bilqis mendongak ke arah kakak OSIS itu. Ia melirik name tag yang berada di almamater gadis itu, Pramesti Sarah. Ah iya, Bilqis ingat sekarang! Kakak OSIS yang gayanya melangit itu terlalu tergila-gila dengan Ernest. Pasti itu sebabnya ia tidak suka dengan Bilqis.
"Jangan sok tau, jangan merendahkan orang lain jika ingin tampak tinggi," ucap datar Ernest yang mampu menghadirkan senyum di bibir mungil berwarna merah muda milik Bilqis.
"Mampus!" sinis Bilqis yang tentu saja di dalam hati. Gadis itu tidak berani dan masih mempunyai sopan santun untuk menghormati kakak-kakak kelasnya yang lain.
"Hm, oke kalian berdua silakan lari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali, setelah itu minta surat izin masuk kelas ke ruangan BK," putus Alvian selaku ketua OSIS.
Dengan loyo dan tidak bersemangat Bilqis hanya mengangguk singkat sambil mengucapkan terima kasih. Gadis itu langsung mengitari lapangan agar cepat selesai melaksanakan hukuman.
***
Sudah dua putaran Bilqis lalui dengan sangat kelelahan, gadis itu sama sekali tidak menyukai olahraga, gadis itu lemah dalam segala hal olahraga, karena memiliki salah satu ah nanti kalian juga pasti tahu sendiri.
"Huh huh huh, Ernesthh lo gak capek apa?" tanya Bilqis dengan ngos-ngosan. Ia sangat tidak percaya dengan Ernest yang melakukan putaran jauh lebih cepat darinya, pria itu bahkan sudah mengelilingi lapangan sebanyak lima kali.
"Gak, lo capek emangnya? Mau nambah hukuman lagi karena gak menyelesaikan lari dengan baik?" Tidak berakhlak! Bukannya menyemangati Bilqis, atau menyuruh Bilqis duduk saja di pinggir lapangan dan mengatakan 'biar aku aja yang gantiin hukuman kamu' malah menakut-nakuti Bilqis seperti ini. Memang manusia batu!
"GAK ADA AKHLAK YA LO, ERNEST! AWAS AJA!" Dengan kekuatan yang pas-pasan, Bilqis langsung mengitari lapangan kembali. Gadis itu bertekad untuk menyelesaikan hukumannya kali ini, tidak peduli capek, tidak peduli tentang keadaannya, pokoknya Bilqis harus bisa!
***
"Ernest, Ernest, kamu ini salah satu siswa yang kami banggakan, kamu pintar, kamu multitalenta, tapi kenapa kamu terlambat coba? Citra kamu bisa hancur seketika!" omel salah satu guru bimbingan konseling yang memang sedang bertugas saat itu, membuat Ernest membungkam mulutnya tak berani mengucapkan sepatah katapun.
"Jangan diulangi lagi ya, Ernest. Kamu bisa mengecewakan kami semua," timpal salah satu guru bimbingan konseling lainnya.
"Baik, Bu."
"Bilqis Theta Sarendra, besok-besok berangkat yang lebih awal ya supaya mobilnya tidak mogok, kalau mogok juga masih mempunyai waktu untuk pesan ojek online atau apapun itu, jangan terlambat lagi, ya." Bilqis hanya mengangguk paham, gadis itu juga tidak mau terlambat lagi sebenarnya. Apalagi mendapatkan hukuman seperti ini, harus merasakan sesak dan ngos-ngosan karena berlari mengitari lapangan sebanyak sepuluh kali.
"Terima kasih, Bu."
***
Bilqis dan Ernest berjalan menuju gedung jurusan matematika ilmu pengetahuan alam. Mereka berjalan dengan harapan yang sangat besar untuk bisa mengikuti ulangan matematika peminatan, sayang sekali jika mereka harus mendapatkan nilai rendah di raport hanya karena terlambat dan tidak mengikuti ulangan harian.
"Lo dulu aja!" perintah Bilqis kepada Ernest untuk mengetuk pintu lebih dahulu.
"Assalamualaikum!"
"ERNEST PSI LAMBDA, BILQIS THETA SARENDRA KALIAN TERLAMBAT DI MATA PELAJARAN SAYA! KALIAN TERLAMBAT ULANGAN HARIAN! PADAHAL NAMA KALIAN BERDUA SAMA-SAMA SIMBOL SAINS!"