3. Tragedi

1023 Words
Bilqis masih melanjutkan aksinya membuat contekan yang sempat tertunda karena teman-teman yang mengajaknya gila, eh bukan. Lebih tepatnya Bilqis lah yang mengajak semua temannya gila. "Masih bikin contekan, Qis?" tanya Axvel yang memang partner Bilqis jika urusan mencontek. "Iya, banyak banget gila materinya," gerutu Bilqis yang misuh-misuh tidak jelas. Seharusnya jika akan ulangan para siswa belajar, bukannya malah membuat contekan seperti ini. Memang Bilqis anak yang aneh, ya! "Ututu sayangku, kasian banget, sini abang bantu," ledek Axvel sambil merebut pulpen Bilqis. "Lo pelit sih, Vel! Napa contekan lo gak dibagi aja ke gue coba? Nanti gue foto copy." Yang benar saja Axvel ini, pelitnya minta ampun. Padahal pria itu sudah menyelesaikan contekannya, mengapa tidak dibagi coba? Kan Bilqis tinggal foto copy, gak usah susah-susah membuat contekan. Axvel menjulurkan lidahnya mengejek. "Ogah, enak di lo, gak enak di gue. Lagian contekan gue takutnya gak lengkap, makanya lo tulis semuanya supaya bagi-bagi jawaban yang susah besok." Guru matematika peminatan memang sangat galak, ia tak segan-segan memberikan peringanan kepada murid, jika ulangan harian murid tersebut jelek maka nilai yang dimiliki murid itu jelek, tidak ada remidi, pengayaan, atau apapun. Bahkan jika tidak mengerjakan satu soal pun akan langsung dinotice oleh guru tersebut.  Lalu pertemuan berikutnya guru tersebut memerintahkan murid yang tidak mengerjakan salah satu nomor untuk mengerjakan soal dan menjelaskan langkah-langkahnya. Rasa hati ingin menyantet, tapi guru sendiri. "Lagian itu guru kebanyakan polah banget, ya! Gue yang remahan rengginang gini kan merasa paling rendah, gak bisa apa-apa. Gue cuma butiran debu." Bilqis memang tidak pernah bisa di pelajaran matematika, padahal namanya ada unsur sains, yang benar saja kedua orang tuanya memberikan nama seperti itu. Apakah mereka semua mengharapkan Bilqis menjadi anak yang pandai di bidang matematika? "Eh besok kalian semua jangan sok tuli kalau gue panggil loh, ya! Awas aja kalian tuli, gue doain tuli beneran yang ada." Bilqis berteriak mengingatkan teman-temannya untuk tidak menuli saat besok dirinya kesusahan. "Kenapa sih, Iqis? Lagian materi trigonometri itu gampang kok," sahut Azila yang sebenarnya tidak suka jika Bilqis mencontek, Azila sangat mementingkan kejujuran, bagi Azila kejujuran adalah nomor satu. Lagian juga tugas siswa itu belajar bukan mencontek saat ulangan. Lalu materi yang dijadikan ulangan adalah materi trigonometri yang gampang. "Sembarangan kalau ngomong! Mana ada gampang! Gue satu kuadrat aja masih mikir berapa," jawab Bilqis yang merasa direndahkan. Bilqis memang tidak pandai hitungan, gadis itu selalu meminta bantuan pada kalkulator. "Bener tuh apa yang diomongin Zila, coba deh Qis lo sekali aja serius, lo belajar, bisa gak?" Abel memberikan pro kepada ucapan Azila. Mereka berdua memang bintang kelas. Abel peringkat dua, serta Azila peringkat ketiga. "Gak," sahut Bilqis dengan cepat, Bilqis memang tidak bisa serius, tidak bisa belajar, Bilqis selalu nyaman di zona nyamannya sehingga malas melakukan hal lain. Satu kelas hanya bisa berdecak sabar kepada jawaban Bilqis yang terlalu pasrah. Bilqis itu memang gadis yang pemalas, ia malas jika berhubungan dengan belajar. Mengapa Bilqis bisa masuk SMA Widyatama coba? Padahal SMA Widyatama merupakan SMA berstatus swasta yang sangat favorit di kawasan Jakarta. *** "Lo pulang sama siapa, Qis?" tanya Azila saat Bilqis membereskan tasnya. Bel pulang sudah berbunyi sekitar lima menit lalu. "Sendiri," jawab Bilqis yang masih sibuk dengan tasnya. "Naik mobil?" tanya Azila lagi. Bilqis hanya mengangguk sebagai jawaban. "Ck, Bilqis, Bilqis. Lo kan belum bisa bawa mobil sama motor, kenapa dipaksa coba? Tiap hari curhat kalau nabrak pohon lah, ngerem mendadak lah, nabrak kendaraan lain lah, tapi masih aja bawa mobil sama motor," omel Azila yang sudah bosan mendengar curhatan Bilqis. "Kalau gue latihan terus pasti bisa, Zil. Lagian jarak rumah ke sekolah itu jauh, gue gak mungkin buang-buang uang buat ojek, taksi, atau apapun itu." Bilqis memang sudah sering merasakan semuanya, dari menabrak pohon, ngerem mendadak, menyerempet kendaraan lain, tapi gadis itu yakin bahwa suatu saat pasti ia bisa mahir dalam mengendarai mobil maupun motor. Bukankah bisa karena terbiasa? "Ya udah gue balik dulu, ya. Ditunggu cerita hari ini, nabrak siapa." Azila meninggalkan Bilqis, gadis itu sudah ditunggu oleh kekasihnya. Bilqis yang sudah selesai merapihkan tasnya langsung berjalan menuju parkiran. Gadis itu memasuki mobil putihnya dan mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Bilqis memang sengaja untuk pulang lebih lama, supaya parkiran menjadi sepi, dan ia tidak mungkin menabrak kendaraan lain. Seperti inilah Bilqis yang mengendarai mobil dengan labilnya, kadang cepat dan kadang lambat. Gadis itu masih mendadak mengerem saat lampu merah berada di depannya. Bilqis juga kadang mengerem mendadak saat mau menabrak mobil lain, entah mengapa tangan Bilqis ini tidak mahir apapun, hanya mahir dalam menyetel musik saja sudah. "Musikan aja deh, bisa mati karena gabut kalau gue diem mulu kaya gini, tapi musik apa ya?" monolog Bilqis yang memencet tombol musik. Gadis itu mengantuk, padahal jarak rumahnya masih sangat jauh, belum lagi jalanan ibu kota yang macet. "Laper gue tuh, makan apa ya? Nanti kalau gue gak makan gue bisa gak fokus terus nabrak lagi, gue gak mau nabrak terus. Yang ada malah papah ngetawain gue mulu, terus nanti Dila ngomel mulu." Mata Bilqis berbinar saat melihat camilannya masih ada di dalam tas, buru-buru gadis itu mengalihkan atensinya dan membuka tas lalu memakan camilan satu persatu. Ada cireng yang dibelikan oleh Axvel. Ada sosis yang dibelikan oleh Azila. Ada nuget yang ia minta dari Abel. Gadis itu juga mempunyai pop corn yang dibelikan oleh Axvel. Big love banyak-banyak untuk Axvel yang baik hati kepadanya. Axvel memang best friend forever. Pria itu selalu menuruti apa yang Bilqis minta. "Sampai menara eiffel pindah ke Indonesia, Axvel bakalan tetep jadi sahabat gue! Axvel emang dabest banget!" ujar Bilqis yang memuji Axvel. Karena atensi Bilqis berpindah ke makanan sepenuhnya, Bilqis tak memperhatikan jalan, gadis itu melajukan mobilnya seolah tak ada yang lalu-lalang. Sampai .... BRAK!!! "Anjir! Nabrak siapa lagi ini gue?" teriak Bilqis sambil memijit pelipisnya yang terbentur stir. Bilqis langsung membuka pintu mobilnya, ia akan minta maaf kepada siapapun yang ia tabrak. "Lo gak bisa bawa mobil atau apa sampai nabrak mobil gue?" Seorang pria yang turun dari mobil hitam yang barusan Bilqis tabrak langsung menceramahi Bilqis, Bilqis masih menunduk, belum menatap pria itu karena ketakutan. Apa ia akan dipenjara? "M—maaf." Bilqis menegakkan kepalanya, ia mendelik tajam ke pria yang baru saja memarahinya. Demi apa? "Loh, Ernest?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD