One

1945 Words
Suara dentingan alat makan menggema di ruang makan sebuah rumah sederhana yang memiliki lantai dua, dua orang wanita tengah asik menyantap makan siang mereka dengan lahap tanpa adanya gangguan sedikitpun. Sesekali dua orang wanita itu menoleh ke arah pojok ruang makan melihat seorang gadis cantik yang tengah berdiri di sana menyaksikan mereka makan dengan tatapan sendu, sesekali gadis itu mengusap perut ratanya yang berbunyi karena lapar. Gadis malang yang tengah kelaparan dan berdiri di pojok ruang makan itu bernama Clair, seorang gadis keturunan manusia serigala yang tidak memiliki kekuatan apapun sebagai seorang werewolf. Sedangan dua orang wanita yang tengah asik menikmati makan siang mereka adalah Ibu tiri Clair bernama Marriam dan saudari tiri Clair bernama Tara. Ke dua orang tua kandung Clair sudah tiada, Ibu kandungnya yang seorang manusia biasa meninggal tatkala melahirkannya di dunia, sedangkan Ayah kandungnya baru meninggal Lima Tahun yang lalu setelah menikahi Marriam. Kehidupan Claie sebelum di tinggal meninggal oleh sang Ayah sangat bahagia, setiap kali ia menginginkan sesuatu maka Ayahnya akan memberikannya dengan senang hati. Namun setelah kepergian Ayahnya Lima Tahun yang lalu, kehidupannya berubah total, ia harus menghabiskan waktunya untuk membersihkan rumah dan di siksa oleh Ibu dan Kakak tirinya. Melakukan sedikit saja kesalahan, maka dirinya akan di siksa oleh ke dua wanita kejam itu. Di usia Clair yang sudah menginjak 20 tahun, ia sama sekali belum menemukan wolf dalam dirinya, tidak bisa berubah wujud dan belum menemukan mate atau pasangan abadinya. Ia tidak terlihat seperti seorang shewolf, namun ia lebih mirip dengan seorang manusia biasa yang sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun. "Malam ini adalah malam bulan purnama, nanti malam kita lihat, apa kau bisa berubah wujud atau tidak." cetus Tara sembari tersenyum sinis ke arah adik tirinya, Clair hanya bisa menundukkan kepalanya sedih, ia sangat takut dengan adanya bulan purnama nanti malam, ia takut menerima kenyataan bahwa nantinya ia tidak bisa berubah wujud menjadi seekor serigala. "Sedang apa kamu di sana?" tanya Marriam dengan keras. Clair yang mendengarnya lantas mendongakkan kepalanya menatap ke arah Ibu tirinya yang tengah menatapnya dengan tajam. "Pergi ke hutan dan cari huah beri sebanyak-banyaknya. Aku ingin memakan buah itu." titahnya dengan tegas, helaan nafas berat terdengar dari mulut Clair, hari ini ia sudah sangat lelah. Sejak tadi pagi ia belum istirahat sama sekali, membersihkan seluruh rumah, mencuci pakaian dan memasak makan siang. Bahkan ia belum makan sejak pagi, dan sekarang ia benar-benar sangat kelaparan. "Tapi Bu, aku belum makan." ucap Clair dengan pelan namun masih bisa di dengar dengan baik oleh Marriam dan Tara karena mereka adalah seorang manusia serigala murni yang memiliki indra pendengaran yang sangat luar biasa. Marriam menggeram marah lantas bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke arah Clair, salah satu tangannya terulur mencekik leher anak tirinya itu dengan kuat hingga membuat Clair tidak bisa bernafas. "Sudah beranu membantah perintah Ibu?" sinis Marriam menatap tajam ke arah Clair dengan ke dua bola matanya yang berwarna kuning keemasan tanda bahwa serigala dalam dirinya tengah menguasai tubuhnya. Clair menggeleng beberapa kali sembari menahan rasa sakit yang luar biasa di lehernya karena cekikan Marriam. "Lepaskan dia Bu, dia bisa mati nanti. Kalau dia mati maka kita harus mencari orang untuk membersihkan rumah kita dan menghabiskan uang kita untuk membayar mereka. Dia hari tetap hidup agar kita tidak perlu membayar orang untuk membersihkan rumah." kata Tara yang masih duduk manis di kursi kayu tempat ia menikmati makan siangnya. Dengan kasar Marriam melepaskan cengkeramannya pada leher Clair dan membuat gadis itu terjatuh di lantai dengan kondisi lehernya yang memerah dan lecet bekas kuku Marriam. "Pergi ke hutan sekarang dan carikan aku buah beri!" perintah Marriam dengan keras dan tegas, Clair dengan cepat bangun dari jatuhnya dan berlari kecil keluar rumah sembari membawa sebuah keranjang berukuran kecil untuk menaruh buah beri yang akan ia petik di dalam hutan nantinya. ---000--- Suara desahan menggema di sebuah kamar besar di istana kawasan para manusia serigala yang di beri nama blue moon pack, wilayah yang di pimpin oleh seorang alpha-julukan dari pemimpin kaum werewolf yang sangat kuat. Suara desahan itu milik seorang gadis cantik yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang besar sedang memuaskan hasrat s****l seorang pria berpangkat alpha bernama Edmund Carel pemimpin blue moon pack. Edmund memang sering membeli seorang wanita untuk memuaskan hasrat sexualnya karena ia belum menemukan seorang mate atau pasangan abadinya. Suara desahan wanita itu terhenti dan di gantikan dengan suara rintihan kesakitan saat Edmund dengan kasar mencekik lehernya dengan kuat, kuku panjang Edmund keluar dan menusuk leher wanita cantik itu hingga darah segar keluar dari leher wanita itu. Ke dua bola mata Edmund yang tadinya berwarna hitam hazel kini berubah menjadi warna kuning keemasan yang sangat mengerikan tanda bahwa Peter-nama wolf dalam dirinya menguasai tubuh Edmund karena emosi. Dengan kasar Edmund lantas melepaskan cengkeramannya pada leher wanita itu setelah mengetahui wanita yang telah ia beli untuk memuaskan hasrat sexualnya itu telah mati. Edmund memang kerap membunuh wanita yang telah ia beli untuk memuaskan hasrat sexualnya dengan alasan bahwa ia tidak pernah puas dengan wanita itu, Edmund paling benci dengan suara desahan nikmat yang keluar dari mulut wanita itu karena alasan dirinya, apalagi saat jalang itu mendesahkan namanya, ia hanya ingin Mate atau belahan jiwanya lah yang nanti akan mendesahkan namanya. Ia tidak mau wanita lain yang mendesahkannya. Setelah membunuh wanita itu, Edmund lantas bangkit dari ranjang dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk meredam hasrat s****l yang belum tertuntaskan setelah menyuruh para penjaga istana werewolf membuang jasat wanita penghibur itu lewat pesan telepati. Dalam guyuran air dingin yang mengucur dari atas kepalanya, Edmund terus saja merapalkan kata benci yang ia tunjukkan kepada Dewi bulan-Dewi yang di agungkan oleh para manusia serigala di seluruh dunia karena belun mengirimkan seorang mate kepadanya. Sudah sangat lama ia menantikan kehadiran Mate, namun Dewi bulan belum juga menakdirkannya seorang gadis yang akan menjadi pasangannya. Malam ini adalah malam bulan purnama, malam di mana banyak manusia serigala yang akan menandai pasangan abadinya untuk menjadi milik mereka selamanya, dan Edmund sangat membenci malam itu karena dirinya belum memiliki pasangan. "Aku benci MoonGoddes," lirihnya dengan pelan namun mengisyaratkan sebuah kebencian yang mendalam. ---000--- Clair sudah berjalan menyusuri hutan selama dua jam, namun keranjang yang ia bawa belum juga terisi huah beri permintaan sang Ibu tiri karena ia tak kunjung menemukan tanaman beri. Keringat sudah membanjiri area kening dan pelipisnya, kakinya terasa pegal dan berjalan jauh. Belum lagi perutnya yang terus berbunyi meminta di beri asupan makanan, di tambah lehernya yang terasa sangat sakit karena bekas cekikan Marriam beberapa waktu yang lalu. Lengkap sudah penderitaan Clair saat ini. "Aku haus," lirihnya dengan sangat pelan, kaki jenjangnya berhenti melangkah lalu tubuhnya merosot ke bawah terduduk di tanah yang lembab dan penuh dengan daun kering yang telah gugur dari pohon, ia sudah tidak kuat lagi berjalan jauh. "Aku lapar," sambungnya nyaris tak terdengar. Ke dua matanya terlihat sangat sayu dan bibir tipisnya yang telah memucat. Indra pendengarannya mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat, ia sedikit bernafas lega, ia berharap itu orang baik yang akan memberinya air minum dan juga makanan. "Tolong!" dengan sekuat tenaga ia berteriak walaupun suaranya tidak terdengar keras. Seorang pria berpakaian serba hitam berdiri tepat di hadapannya dengan ke dua bola mata yang berwarna merah menyala. Clair mendongakkan kepalanya ke atas, melihat siapa yang berada di hadapannya. Ke dua bola mata Clair membulat dengan sempurna saat melihat siapa orang yang tengah berada di hadapannya, seorang manusia serigala liar atau yang kerap di sapa rogue. Dengan sekuat tenaga Clair mencoba untuk bangkit dan melarikan diri, namun sayang, ia terlalu lemah untuk hanya sekedar berdiri. "Kau memasuki kawasan kami," ucap pria itu dengan tegas. Clair menggelengkan kepalanya berkali-kali, ia tidak tau bahwa ia telah melewati batas kawasan blue moon pack dan masuk ke dalam wilayah para manusia serigala liar. "Maaf, aku tidak tau." jawab Clair dengan suara yang sangat pelan, untung saja pria tampan itu adalah seorang werewolf yang memiliki indra pendengaran yang tajam, kalau tidak mungkin pria itu tidak akan bisa mendengar suara Clair yang nyaris tak terdengar itu. Dengan penuh rasa iba dan kasihan, pria itu membopong tubuh kecil Clair lantas membawanya berlari melesat membelah jalanan hutan pergi ke sebuah sungai terdekat. Setelah sampai di tepi sungai, pria itu langsung mendudukkan Clair di sebuah batu besar. Tanpa Clair mengatakannya, pria itu sudah tau alasan kenapa suara Clair sangat lemah. Ke dua tangan pria itu menyatu lantas menggunakannya untuk wadah air, setelah itu ia meminumkan air yang berada di telapak tangannya pada Clair, gadis lemah itu meminumnya dengan senang hati. "Terima kasih." ucap Clair yang saat ini suara sudah kembali seperti semula. Pria itu hanya mengangguk pelan lantas ikut duduk di samping Clair dengan santai. "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu." ujar pria itu dengan santai, Clair hanya bisa mengangguk lemah, jujur saja, ia masih takut dengan pria asing yang tengah duduk di sampingnya ini. Bagaimanapun juga, pria asing ini adalah seorang rogue yang secara alami menjadi musuh seorang manusia serigala murni. "Kau ini apa?" tanya pria itu menatap Clair dengan kening yang mengkerut, tadinya ia sempat berpikir bahwa Clair adalah manusia, namun ia ragu, jika gadis yang di sampingnya ini adalah manusia, ia sangat yakin bahwa gadis ini akan pingsan saat melihat warna matanya yang semerah darah. "Kau bukan manusia, lalu kau ini apa?" sambung pria itu masih dengan tatapan kebingungannya. "Aku werewolf," jawab Clair yang mengundang gelak tawa pria itu, pria asing itu menertawai Clair dengan sangat keras. "Kenapa?" tanya Clair dengan bingung. "Kau werewolf yang sangat lemah." ledek pria itu di sela-sela tawa kerasnya. Clair memberenggut, ia benar-benar tidak suka dengan kalimat yang baru saja di lontarkan oleh pria itu barusan. Melihat raut wajah Clair yang berubah memberenggut, pria itu lantas menghentikan tawanya lalu berdehem pelan. "Maaf," cicit pria itu merasa bersalah. Clair tersenyum lantas mengangguk pelan, 'gadis yang manis,' batin pria itu terpesona dengan Clair yang terlihat sangat manis saat sedang tersenyum. "Namaku Nathan, kau siapa?" tanya pria bernama Nathan itu dengan lembut sembari menyodorkan tangan kanannya ke arah Claie, dengan sigap gadis itu lantas menjabat tangan Nathan masih dengan senyuman menawannya yang berhasil membuat detak jantung Nathan dag dig dug tidak karuan. "Clairisa Candra, kau bisa memanggilku Clair." ucap Clair memperkenalkan diri. Nathan tersenyum lebar lantas membawa tangan Clair yang menjabat tangannya ke arah mulut lalu mengecupnya dengan lembut. Ke dua pipi Clair terasa sangat panas, ia merona dengan perlakuan manis pria tampan yang baru saja ia kenal ini. Netra merah Nathan mendelik aaat melihat luka di leher Clair, ia lantas melepaskan tangan Clair yang tadi sempat ia kecup lalu menyentuh leher jenjang Clari yang ada bekas sebuah kuku. "Akh!" pekik Claie kesakitan saat Nathan menyentuh luka bekas cekikan Marriam di lehernya. Nathan menjauhkan tangannya dari leher Clair, ia tau pasti rasanya sangat sakit, mengingat bahwa gadis itu hanya seorang werewolf lemah yang tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. "Lehermu kenapa?" tanya Nathan sangat penasaran, dalam hatinya ia mengira bahwa mats atau pasangan abadi gadis itulah yang telah menyakiti Clair. "Ibu tiriku yang melakukannya. Dia mencekikku karena aku membuat kesalahan." balas Clair sembari meringis, bekas kuku Marriam benar-benar sangat sakit. "Aku akan membuatkanmu ramuan obat dari tumbuh-tumbuhan." ujar Nathan bergegas bangkit dari duduknya hendak pergi meninggalkan Clair untuk mencari beberapa tumbuhan yang akan ia buat menjadi sebuah ramuan obat untuk menyembuhkan luka di leher Clair. Namun baru saja ia hendak pergi, indra pendengarannya sudah kembali menangkap sebuah suaranya yang berasal dari dalam perut Clair. Nathan menatap Clair sembari menahan tawanya agar tidak lepas, jari telunjuknya mengarah pada perut rata Clair yang ia yakini berbunyi meminta asupan makanan. "Kau lapar?" tanya Nathan yang berhasil membuat rona pipi Clair kembali terlihat, dengan lemah gadis itu mengangguk malu-malu. "Tunggu di sini, aku akan kembali membawa ramuan obat dan juga makanan untukmu." kata Nathan dan Clair mengangguk patuh, beberapa detik kemudian setelah mengatakan kalimat itu pada Clair, Nathan langsung berlari melesat ke arah hutan untuk mencarikan makanan dan juga obat untuk gadis asing yang baru saja ia kenal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD