"Nak, bukan seperti itu maksud ibu." Nyonya Moore sekuat tenaga menahan amarahnya. Tara semakin berani melawan apalagi setelah menikah dengan Rafael.
"Lalu apa? Kata-kata Ibu membuat orang-orang yang mendengarnya akan berpikir bahwa aku sangat kejam dan tidak tahu berterima kasih."
Karena dia tidak lagi harus kembali ke rumah keluarga Moore. Maka sudah saatnya bagi Tara melawan balik kedua wanita yang selama 22 tahun ini selalu memperakukannya seperti b***k tak berhak bahagia.
"Tara, jangan seperti itu pada ibu. Di sini akulah yang salah. Maaf sudah membuat mu tidak nyaman."
Seharusnya, setelah mengatakan hal tersebut banyak yang akan bersimpati padanya namun dia salah memilih lawan.
"Baguslah kalau Kakak tahu bahwa Kakak salah. Jadi, minta maaflah pada adik ipar ku, aku tidak ingin keluarga suamiku berpikir bahwa aku sengaja mempermalukan mereka."
Ingin rasanya Olivia dan ibunya menampar serta mencakar habis wajah Tara. Bukannya membantu, dia malah semakin memojokkannya.
Rafael yang mendengar hanya tersenyum sinis. Dia cukup puas dengan penampilan Tara yang tidak mudah di intimidasi. Dan sekarang dia juga yakin kalau pernikahan mereka tidak akan menyulitkannya atau membuat nama keluarga Xavier hancur.
"Maafkan saya Tuan Nathan." Meskipun enggan. Olivia masih melakukannya karena teringat bahwa tujuannya adalah menjadi nyonya kedua keluarga Xavier.
"Tidak masalah, tapi tolong lain kali ingat posisi mu. Aku hanya menganggap Tara sebagai anggota keluarga Xavier yang baru namun tidak dengan keluarga Moore. Jadi berhentilah mengganggu atau bahkan merusak pemandangan ku."
Lalu, Nathan pergi meninggalkan kelompok tersebut. Membuat semua orang merasa canggung.
"Kita harus menyapa ibu dan ayah." Rafael akhirnya angkat bicara. Dia sudah tidak nyaman berada di sekitar Olivia dan ibunya.
"Baik." Tanpa meminta izin, Tara langsung membawa Rafael pergi meninggalkan ibu dan saudarinya.
Bella dan Alexander yang sudah tahu sifat asli anggota keluarga Moore hanya bisa memaklumi pertikaian kecil yang terjadi barusan.
Sebenarnya, jika saja Bella tidak jatuh cinta pada Tara dan menginginkannya menjadi menantu keluarga Xavier. Mungkin Al tidak akan menaruh perhatian pada keluarga Moore. Namun, karena sang istri punya mata yang baik dalam mencari wanita baik untuk putranya, maka Al menuruti semua kemauan Bella-nya.
"Kalian akan tinggal di. Hotel malam ini?"
"Tidak, Bu. Kami harus pulang, besok aku sudah kembali
bekerja dan Tara pergi kuliah."
Rafael tidak memberikan Tara berbicara ataupun Bella menuntut hak aneh lainnya.
"Kenapa? Bukankah ini malam pengantin kalian?"
Bella tetap lah Bella. Dia mempercayai putranya namun lupa kalau sang putra mewarisi sifat angkuh suaminya dan sering lupa kalau jatuh cinta suka tidak tahu tempat.
Ya, Rafael berpikir bahwa dia tidak akan bisa hidup seperti pasangan normal kebanyakan bersama Tara. Bukan karena dia tidak yakin Tara tidak bisa, namun dia lah yang merasa tidak pantas.
Kelumpuhannya membuat Rafael menjadi kurang percaya diri. Dia menganggap dirinya tidak berguna padahal sebenarnya, Tara bukan tipe wanita yang melihat penampilan dan fisik. Jika memang bisa membuatnya bahagia maka Tara tidak keberatan memberikan hatinya.
"Bu, kami bisa melakukannya di lain waktu." Kini Tara mencoba membantu Rafael.
"Tapi ibu ingin segera menggendong cucu, Sayang Apakah aku terlalu berlebihan?" Kini Al yang repot di buat sang istri
"Bu, berikan kami waktu. Kami harus saling mengenal satu sama lain sebelum memberikan apa yang ingin Ibu mau."
Rafael tidak berdaya setiap kali melihat wajah sedih ibunya. Jujur, Bella tidak pernah meminta apapun darinya. Semua yang dia inginkan akan selalu wanita itu turuti meskipun kadang melanggar aturan yang sudah ditetapkan.
"Benar, ibu sampai lupa. Ingat, kau harus memperlakukan istri mu dengan baik. Jika kau mencintai ibu, maka kau harus menghormati istri mu lebih dulu sebelum kau jatuh cinta padanya."
Kini Bella kembali ceria dan Al mengucapkan banyak terima kasih pada putra pertamanya.
"Ya, Bu. Aku akan mengingat pesan Ibu."
Apapun yang diinginkan ibunya, Rafael akan memberikan, bahkan jika wanita itu memintanya memberikan hatinya maka dia langsung melakukan meskipun nyawa menjadi taruhannya.
"Bagus, itu baru putra ibu. Tara, jika Rafael membuat mu tidak bahagia, maka langsung laporkan pada ibu."
"Baik, Bu."
Sejak awal hingga akhir, Tara hanya menatap iri pada Rafael dan Nathan. Kedua pria itu begitu beruntung karena bisa terlahir dari wanita baik dan lembut seperti Bella.
Bahkan, ia merasa terharu setelah mendengar pesan Bella pada Rafael tentang memperlakukannya dengan baik meskipun belum yakin akan seperti apa pernikahan mereka. Seharusnya, dia mendengar nasehat itu dari ibunya. Tapi, ketika memikirkan bagaimana wanita itu memperlakukannya selama ini. Tara merasa bodoh kalau berharap kasih sayang darinya.
Acara pernikahan berlangsung hingga pukul enam sore. Dan setelah tamu pergi, kini giliran Tara serta Rafael yang pulang ke rumah mereka.
Tidak terlalu mulus kepulangan mereka. Tentu saja yang menjadi penghambat adalah keluarga Moore yang tidak malu-malu meminta Rafael mengizinkan Olivia sering berkunjung dan menginap.
Bella, yang korban dari pengkhianatan ayahnya menjadi geram. Namum ketika melihat kode Tara, dia merasa bahwa kekhawatirannya tidak akan terjadi. Wanita itubsemakin yakin kalau dirinya tidak salah ketika memilih menantu.
"Nak, karena kau sudah menikah. Kau harus sering mengunjungi kedua orang tua mu. Ibu benar-benar akan sangat merindukan mu." Wanita paruh baya itu mulai membuat drama kembali.
"Ibu mu benar, ayah juga akan meminta kakak mu sering berkunjung agar kau memiliki teman saat suami mu bekerja." Kini tuan Moore pun ikut ambil bagian.
"Atau, kalian bisa membawa kakak mu pulang lebih dulu."
Tidak mengizinkan Tara menolak. Ibu Olivia mengalihkan tatapannya pada Rafael.
"Nak, Tara gadis penakut. Apalagi dia sulit berbaur dengan lingkungan barunya, mungkin kakak perempuannya bisa menemaninya beberapa malam."
Tentu saja tujuan mereka untuk merusak malam pengantin Tara dan Rafael. Baik ibu dan ayah Olivia tidak rela kalau posisi nyonya Xavier di masa depan jatuh ke tangan Tara. Mereka akan melakukan segala macam cara gara hubungan Rafael dan Tata hancur berantakan.
"Apakah begitu, Istriku? Kau penakut dan sulit berbaur dengan lingkungan baru mu?"
Malam sebelum acara pernikahan. Rafael memang sudah meminta Tara bersiap-siap mengikuti drama yang ia lakukan ketika keluarga Moore mulai tidak tahu malu.
Dan Rafael tidak merasa bersalah ketika meminta Tara, yang sudah jelas-jelas putri keluarga Moore untuk melakukannya. Bagaimanapun dia sudah tahu kalau Tara tidak pernah akur dengan mereka.
"Aku baik-baik saja dengan sendirian di rumah saat kau pergi bekerja, dan aku akan berusaha untuk terbiasa dengan lingkungan hidup mu."
Ucapan Tara seperti pisau tajam yang menikam keluarga keluarga Moore. Mereka tidak menduga kalau anggota keluarga yang selama ini terlihat lemah setiap kali di intimidasi bisa berubah seperti landak dengan duri yang sangat tajam.