“Jangan menangis. Kamu mau seluruh orang di gedung ini mendengarmu?” tanya Lu Mochuan dengan suara dingin. Aku langsung menggigit bibirku. Aku takut dia akan semakin melukaiku. Aku juga tidak berani mendorong Lu Mochuan lebih jauh, jadi aku hanya bisa merintih pelan. Namun, Lu Mochuan tampaknya masih juga belum ingin menunjukkan belas kasihan. Aku sangat benci dengan sifat Lu Mochuan yang kejam. Aku juga membenci diriku sendiri karena tak bisa memenuhi harapannya, sehingga Lu Mochuan tak henti-hentinya menyiksaku dan aku selalu jatuh dalam pengaruhnya. Perlahan-lahan, sambil menangis dengan lirih, tanpa sadar aku melingkarkan tanganku ke lehernya. Sikapku saat ini setengah berterima kasih dan setengahnya lagi meminta belas kasihan. Bagian tubuhku yang dipukul Lu Mochuan terasa kebas da

