Aku menunjuk Liu Hairong dan berkata dengan murka, “Apa yang sudah kamu lakukan padaku?” Pria itu sama sekali tidak terprovokasi, namun malah meletakkan kembali barangnya, lalu duduk santai di atas kursi dan menatapku. “Sudah lama kamu tidak ke sini.” Aku menggebrak meja sekuat tenaga. Kali ini aku benar-benar marah. “Apa … yang kamu suntikkan! Kenapa aku … tidak punya … ?” Aku tak bisa mengatakannya, apalagi di hadapan seorang pria b******k sepertinya. Aku benar-benar tidak sanggup untuk menyelesaikan pertanyaanku. Liu Hairong mengerutkan kening dengan ekspresi yang tetap tenang. “Apa? Memangnya ada apa?” Suara Liu Hairong terdengar sangat pelan. Dia menelan ludah saat menatapku. “Kamu datang begitu malam, padahal aku sudah hampir pulang bekerja. Bagaimana kalau kita mencari tempat

