Mu Heng menatapku dengan matanya yang merah, dan tampak sebuah kekecewaan dalam sorot mata itu. Kami memang satu keluarga, tapi ketika membicarakan hal ini, hatiku rasanya sangat tersiksa. Apakah boleh menggunakan cara seperti ini? Aku tidak ingin menyakiti siapa pun, apalagi Mu Heng. Di mataku, dia hanyalah seorang anak kecil. Tapi sekarang, mau tidak mau aku harus bersikap lebih tegas padanya. Saat teringat bagaimana dia melecehkan aku, hatiku terasa sangat sakit. Aku ingin bertindak lebih jauh agar Mu Heng bisa mengerti bagaimana perasaanku. “Kakak Ipar, jika tidak ada hal lain yang ingin kamu katakan, aku akan pergi,” kata Mu Heng. Suaranya terdengar bergetar dan jari-jari tangannya mengepal erat. Aku bisa melihat bahwa Mu Heng pasti sangat sedih. Namun, apa gunanya dia bersedih?

