Saat ini, suara hatiku sedang berdebat sengit. Seolah ada dua orang di dalam diriku yang saling mempertahankan argumennya masing-masing. Di satu sisi ada perasaan senang karena perlakuan Lu Mochuan, tapi satu sisi lainnya mengatakan bahwa ini perbuatan yang keliru dan tidak seharusnya dilakukan. Aku sudah kehabisan kata-kata dan merasa kecewa pada diriku sendiri. Rasanya seperti ada sebilah pisau tajam yang menusuk jantungku. Setelah kejadian ini, aku sama sekali tidak ingat bagaimana aku turun dari mobil hingga naik ke pesawat. Bahkan sesampainya di pesawat aku langsung tertidur dan ketika bangun, aku menemukan diriku sudah berada di sebuah kamar hotel. Desain dan dekorasi kamar hotel ini sangat mewah. Dari luar jendela yang tidak jauh dari tempat tidurku, tampak lampu-lampu kota yang

