“Kakak, apa Kakak sudah baikan? Biar kubawa Kakak kembali ke kamar. Dua hari ini aku selalu menemanimu. Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan orang lain mendekatimu.” Yi Cheng berkata dengan tegas. Aku menganggukkan kepala. Aku mengerti semua yang Yi Cheng lakukan adalah untuk kebaikanku. “Apakah dokter barusan adalah dokter yang Kakak maksud sebelumnya?” Saat teringat wajah yang menakutkan sekaligus kenangan yang membuatku terguncang, aku mengangguk kesakitan. “Ternyata memang dia! Kurasa dia bukan orang baik. Sebelum aku datang, apakah dokter itu telah melakukan sesuatu padamu lagi? Nanti aku akan menemanimu dan tidak mengizinkan mereka mendekatimu!” sahut Yi Cheng sambil mengepalkan tinjunya. Mendadak Yi Cheng menatap mataku. Sorot matanya penuh dengan emosi. “Kak, aku sangat

