Saat aku hendak menoleh untuk mencari tahu tangan siapa itu, si pemilik tangan meletakkan tangannya di atas bahuku. Suara memabukkan itu mendekati telingaku. "Kebetulan sekali, kita bertemu lagi! Rokmu tidak basah hari ini!” Memori memalukan itu mendadak teringat kembali di benakku dan wajahku tiba-tiba memanas! Ada banyak orang di sekitar kami. Kutebarkan pandanganku ke sekelilingku, tetapi tidak ada yang memperhatikanku. Semua orang menatap keramik di lantai. Aku menggigit bibirku, dan mengulurkan tanganku ke belakang untuk mendorongnya menjauh. Aku tak ingin dia memegangku erat-erat. “Di sini ada banyak orang, bukankah ini sangat mendebarkan? Enak, tidak?” Telapak tangan dokter itu sangat dekat dengan pantatku. Jari-jarinya menggaruk pantatku, merangsang hasr

