Kerah pakaianku terbuka setengahnya, menunjukkan belahan dadaku yang dalam! Sial! Aku benar-benar mati kutu! Lu Mochuan langsung meluruskan pandangannya dan menatap lekat-lekat pada dua gunung yang terpampang di balik pakaianku. “Kembali!” Saat hendak kabur, Lu Mochuan menahanku. “Kau tadi ingin minta maaf dengan tulus. Kau bilang kalau kau bersedia melakukan apa saja. Kenapa kau mau lari sekarang?” Mata m***m Lu Mochuan menyapu tubuhku dengan penuh makna. Aku mencoba menarik bajuku untuk menutupi bagian bawah leherku. Aku tidak bisa menghentikan rasa panas yang menjalar ke wajahku. “Maaf, saya lancang.” “Aku akan memberimu satu kesempatan, tapi untuk kerja sama jangka panjang, itu tergantung pada kinerjamu,” seulas senyuman tersungging di wajahnya. “Ayo

