TA - 28

3389 Words
Aula menyengat matanya sampai garis terdalam. Pesta para orang kaya memang tidak pernah mengecewakan dari segi luar yang berkilau. Vania terkesima, mengamati sepanjang dekorasi serba keemasan dengan decakan kagum. Dia berbesar hati menerima semua kenyataan bahwa batasan serta gagasan antara kaya dan miskin itu benar adanya. Perdana Menteri hidup bergelimang harta sementara masih banyak penduduk lokal yang kesulitan mencari pangan untuk satu hari. Banyak dari golongan mereka ramai saling menunjukkan harta serta betapa berkelas mereka dalam satu tampilan pakaian mahal. Tas yang terangkat tinggi, perhiasan mewah yang melekat di kulit bersih mereka. Berbadan ramping dengan aura memikat menyala bagaikan kerlip bintang di tengah malam. Vania tak bisa menampik kalau semua ini kamuflase untuk mencari pengalaman dunia sesaat. Begitu pula dirinya. "Kau tidak pergi mencari sesuatu?" "Aku baru minum sebelum pergi. Air putih saja cukup," balasnya dengan senyum tipis. Fagan mengangkat alisnya datar. "Kau baru saja minum?" "Aku mendadak pusing dan itu ajakan Sarah. Seperti biasanya aku jelas tidak bisa menolak." Vania mengaku dengan jujur dan Fagan nampak tidak begitu peduli. Dia segera mengulurkan tangan, memberikan air dingin dalam gelas berkaki untuk Vania. "Acaranya lumayan megah." "Begitulah. Kalau pesta menjamu tamu dengan buruk, kritik pedas akan menyebar cepat besok pagi." Fagan membalas masam. Memahami benar kalau lingkungan bisnis tidak bermurah hati pada reputasi. "Oh, apa kau sudah mencarinya?" Kening itu berkerut untuknya. "Apa?" "Ya Tuhan." Vania tak habis pikir dengan pria itu. "Belum," kepala itu menggeleng kecil. Raut datarnya mengusik penasaran Vania. "Semua terlihat sama saja di mataku." "Yang mana menurutmu? Wanita bertubuh kurus karena berpuasa satu tahun penuh demi mendapatkan perut ramping?" Fagan meringis mendengar jawabannya. "Kau benar. Apa mereka tidak menyukai hidangan? Sayang sekali makanan ini akan terbuang percuma." Vania terburu menyesap airnya. Kemudian melihat sesosok gadis cantik yang berjalan menghampiri Perdana Menteri dengan senyum lebar. Dalam sekali pandang, dia bisa melihat bahwa itu putri bungsu sang kepala negara. "Elin namanya. Mereka yang berada dalam lingkaran pemerintahan terbiasa memanggilnya dengan nama semasa kecil. Termasuk teman sekolah dulu," ucap Fagan sembari berbisik. "Aku mendengarnya sebagai Erin," aku Vania pelan. "Dia manis." "Bukan asli. Ayahnya sedikit melakukan pemborosan karena mengubah wajah putrinya sendiri," tukas Fagan dingin menyelipkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Dagu, bibir dan rahang pada kedua pipi. Sekiranya ada dua sampai tiga kali prosedur agar hasilnya maksimal." Vania membelalak. "Kau tahu sejauh itu?" "Bagian mana yang tidak aku sadar?" sinar matanya membalas Vania datar. "Banyak orang berbicara tentang putri Perdana Menteri yang terus berkeliaran di rumah sakit bedah dan bertemu dokter spesialis termahal di sana. Kalau kau melihat fotonya ketika remaja, dia tidak semenarik sekarang." "Bicaramu sangat terdengar tidak bersahabat." Fagan memutar bola matanya. "Kenyataan." "Perempuan berusaha menjadikan diri mereka yang terbaik. Tidak peduli berapa harga perawatan dan berapa banyak dana yang mereka habiskan." Vania menjelaskan menurut sudut pandangnya. "Iya, tapi dia dengan sesukanya mencela wanita lain karena berbeda dengannya. Apa itu pantas?" Fagan mengejek dengan pandangan mencemooh. "Putri dari salah satu anggota dewan ternama memutuskan tidur selamanya berkat Elin dan temannya." Vania kehilangan suara selama beberapa menit. "Kau tidak mungkin sedang bergurau." "Aku tidak bercanda dan ini serius. Ayah tidak mau memiliki menantu sepicik Elin," Fagan melirik Vania yang berubah kaku. "Kalau begitu, aku juga tidak akan setuju." Senyum Fagan muncul dengan imbuhan miring yang memukau. "Aku tidak mengharapkan kau setuju membiarkan mataku berkelana, sementara aku terpesona padamu." Vania sama sekali tidak bereaksi saat mendengar sebuah suara dengan aksen manis penuh kepalsuan menghampiri meja mereka. "Halo, selamat malam kalian berdua." Pandangannya berpindah dari sosok cantik di hadapannya ke arah perempuan penuh polesan yang mengambil alih tempat Vania sebelumnya. Vania masih di sana dengan sengaja memberi ruang agar mereka berdua bisa berbincang. Tanpa peduli jika Fagan ingin sekali melarikan diri sekarang juga. "Hai, Fagan. Apa kabarmu?" Semua yang terucap dari bibir Elin membuat Fagan merinding. Walau selama masa sekolah Elin tidak banyak bertingkah, rupanya kesuksesan kedua orangtuanya berhasil membuat kehidupan wanita itu berkembang pesat. Elin yang ramah menjadi sombong. "Aku sangat menghargai perkenalan singkat dari perempuan yang kau ajak malam ini." Vania terbatuk pelan dari tempatnya. Cukup santai dan penuh kehangatan menjulurka tangan, sebelah lainnya memegang gelas baru. "Senang melihatmu, namaku Vania." "Elin. Apa pekerjaanmu?" tanyanya tanpa jeda. Singkatnya, ekspresi Vania luruh. Semula yang ramah berubah sedikit terusik. Saat tangannya membebaskan gelas dan belitan tangan Elin terlihat seperti jabatan medusa. "Dia seorang pengusaha," tukas Fagan yang membuat Elin mendongak ke arahnya. "Membawahi beberapa bisnis untung kecil." "Bisnis biasa?" Elin tidak perlu menutupi kesinisan dalam suaranya. "Kau serius? Reputasimu berbanding terbalik sekarang." "Itu sama sekali bukan urusanmu," balas Fagan dingin dan Elin bungkam. "Terdengar sangat tidak sopan kalau kita bertanya soal pekerjaan, bukan? Apa mereka di sini memiliki pekerjaan tetap yang menghasilkan pundi uang ke rekening mereka? Bukan dari hasil mengambil hak orang lain?" Elin tercengang. Pendar pada matanya tampak dingin. "Sebaiknya jaga ucapanmu. Mereka lebih berkelas darimu." "Aku tidak merasa demikian." Sementara Fagan bersikap baik sebagai seorang penonton. Elin tidak mungkin mempermalukan dirinya sendiri atas nama keluarga di pesta umum. Ketika Vania rileks, menikmati perselisihan kecil di antara mereka. "Kau sangat tidak beruntung menerima perempuan ini sebagai pasangan kencan," tebak Elin. Sorot matanya yang kesal tidak bisa menipu. "Karena aku yakin ada ratusan yang lebih sempurna darinya." Fagan hanya mengangguk, memberi reaksi singkat agar Elin segera pergi. "Terima kasih sarannya. Aku menerimanya dengan baik." Elin pergi dengan perasaan sebal luar biasa. Sedangkan Vania mendengus, meneleng kecil dengan senyum merekah. "Itu hebat." Fagan senang karena wanita itu melupakan rencana konyol soal mencari calon istri di pesta membosankan ini. "Aku berasumsi kau tidak setuju dia menjadi pasanganku di masa depan," katanya dengan seringai tipis. Vania berbalik, menatap matanya dan menghela napas berat mengakui keberatannya. "Aku tidak bisa membayangkan reaksi ayahmu." "Dia akan sangat marah. Kenta tidak bisa menahan diri untuk terus menggerutu kepada putranya sendiri selama masih bernapas karena salah melangkah." Vania mengangkat kedua alis. "Kau pernah mendapatkannya?" "Berjalan lama. Aku tidak terlalu ingat," dia segera merubah topik percakapan. Karena selanjutnya ekspresi Vania acuh, terkesan abai. "Sulit mencari perempuan sama dengan Alena." "Istri kakakmu berdiri di kelasnya sendiri." "Memang." Fagan sepakat dengan itu. "Tapi itu sepadan karena Ivan sama luar biasanya." "Kau terlalu banyak memujinya. Percayalah, dia tidak lebih baik dariku. Semasa dia sendiri dulu, sikapnya terlalu sembrono." Fagan memberitahu dengan nada konyol. Riuh dari tamu yang hadir melingkupi Perdana Menteri membuyarkan atensi mereka. Saat Fagan berpaling bersama Vania yang menahan kantuk. Semua adegan melelahkan itu berlalu. Fagan tidak terlalu mendengarkan. Ia datang untuk menjaga nama baik ayah dan kakaknya, tidak lebih dari itu dan Vania terlihat sama malasnya. *** "Aku tidak tahu kalau pemilik yang baru terlihat lebih muda dan berkarakter." Pujian itu mengalir setelah Vania berhasil merombak kekakuan staf biasa menjelma menjadi atasan berwajah dingin. Tidak, dia tak akan serupa orang lain. Dia hanya bertindak tanpa pandang pilih. "Terima kasih banyak, tetapi usiaku tiga puluh dan aku tidak lagi muda." Vania mengulas satu senyum. "Begitukah? Pemilik lama sakit dan tidak bisa mengelola tempatnya sendiri dengan benar." "Aku harap ada kemajuan di sini. Lokasi cukup strategis. Ini bernilai eksklusif, mereka memilih jalur cepat karena sedang butuh. Silakan duduk karena ada beberapa hal yang perlu kusampaikan." "Tentu saja. Aku terkesima dengan pekerjaan yang cepat untuk merombak seutuhnya restoran tua ini," ujar pria itu manis seraya menarik kursi untuk duduk sedangkan Vania memberikan minum seadanya. Vania tersenyum. Pria ini adalah kenalan Sarah yang turut mempromosikan bisnis mereka saat itu. Vania berniat mendatangkannya kembali demi mencari tambahan pegawai baru serta mempromosikan restoran miliknya. Ia menyukai konsep keluarga yang hangat. "Apa kau turut membuka kedai?" "Tidak. Aku lebih mengusung pada suasana rumah yang teduh," balasnya pelan. "Inspirasi yang bagus." Dia seharusnya berterima kasih pada keluarga Fagan, pikir Vania tidak enak. "Tema sebelumnya juga seperti itu. Lalu kehilangan jati diri karena mulai tergerus pasar," semul dia membicarakan tentang proyek lama. "Kau ingin perubahan yang bagaimana?" "Tentu saja karena itu diperlukan. Namun yang terpenting aku sebenarnya orang baru." "Bagaimana dengan pekerja lama?" pria itu bertanya dengan sibuk. "Ada beberapa yang masih layak dan pantas dihubungi kembali. Aku setuju meminta mereka dan menunggu selagi restoran dibenahi. Akan ada banyak tambahan di tempat ini." "Aku bisa mencari koki," sahutnya memberi ide kepada wanita itu. Senyum Vania terpatri. "Kau perhatian sekali. Sebelumnya aku hendak memberi kesempatan pelamar untuk mencoba peruntungan mereka. Jalur orang dalam harus berhenti sementara." Si pria dengan potongan cepak cokelat terkekeh lucu. "Kau benar. Mari, kita bahas prospek iklan. Aku dan Sarah cukup dekat dan terlalu jarang melihatmu." "Aku tidak memiliki banyak waktu," papar Vania jujur. "Terlalu sibuk dan sekarang pun sama. Kau melihatnya sendiri." "Hanya Sarah yang santai," gumamnya resah dan Vania tertawa. "Oke, apa rencanamu?" "Aku ingin memberi diskon bagi mereka yang berkunjung dan memesan menu khusus. Untuk satu ini, belum tahu pasti karena aku yang harus memegang kendali." "Kau harus mencari partner berbisnis serius." "Sarah. Dia pasti membantu." Vania menarik napas. "Modalku tidak terlalu banyak. Tapi aku mencoba tahap lain. Untuk iklan, tolong katakan yang sebenarnya. Sarah pernah membahasnya dan itu cukup lama. Dana selalu bersifat dinamis." Si pria tertawa geli. "Kau bertingkah canggung. Tapi baiklah, kita bicarakan itu lain hari. Aku sudah punya gambaran untuk memperlihatkan tempatmu yang baru." "Bangunan ini ramah lingkungan. Tidak ada polusi berkeliaran dan itu jaminan. Aku mengajukan bertemakan alam serta membuat taman kecil untuk anak agar suasana tetap terjaga." "Kau membutuhkan biaya yang lumayan," sahutnya pelan dan Vania mengangguk. "Juga tidak sedikit." Vania memundurkan kepala, menatap mata kecokelatan itu dalam dan mendesis ringan. "Aku setuju dan memakan waktu yang tidak sebentar. Ini hanya menyampaikan sedikit dari ide yang terlintas di dalam kepala." Senyum si pria melebar indah. "Tidak usah sungkan. Aku sangat senang dapat berkontribusi karena kenalanku yang meminta tolong." "Kalau dia berbicara tentang uang, itu seharusnya padaku dan bukan dirimu." Sebuah suara mengejutkan mereka berdua. Vania bangun dengan kikuk, matanya membelalak menatap Fagan yang muncul seperti hantu dari pintu depan. "Aku tidak tahu kau yang terlalu sibuk mengobrol atau suasana sepi membuat kalian larut dalam pikiran aneh. Tapi kau tidak mendengar suara alas sepatuku mendekat," tegur Fagan sinis. Entah pada siapa lebih tepatnya. "Aku yang merasa tersanjung. Kita akan bicara lain waktu secepatnya." Vania mengulas satu senyum tipis. "Bisakah aku menghubungimu?" Vania mengernyit. Kemudian sebuah suara membungkam maksud pria itu dalam rentan. "Kalau kau menghubungi untuk pekerjaan, tentu saja ada jam tertentu yang kita semua mengerti. Selagi kau tidak berniat membawanya pada kencan satu malam." Sang pria mundur penuh sesal. Ketika Vania membungkuk, meminta maaf melalui matanya dan membiarkan pintu kaca itu tertutup setelahnya. "Kau menyebalkan sekali." "Kau bilang tabunganmu sedikit, tapi dirimu baru saja melampiaskan kekesalan ke pintu kaca malang itu." "Apa maumu? Mengapa kau tahu restoranku ada di sini?" Vania menyembur sebal. "Kau bilang begitu menghormati privasiku?" "Pribadi? Ini restoran dan artinya tempat umum. Sebentar lagi kau buka secara cepat atau lambat. Apa bedanya dengan sekarang?" Vania mendengus dengan napas berat. Ia meraih kursi, duduk di sana dengan kepala berdenyut sakit. "Kau membuatnya takut. Kasihan bocah malang." "Apa dia terbebas dari masa pubertas?" "Usianya baru dua puluh tujuh." Vania menatap Fagan datar. "Masih terlalu muda." Fagan berbisik lamat. "Dia terlihat tidak mandiri dari jarak jauh." "Kau tidak bisa menempatkan tuduhan seperti itu padanya," sungut Vania dalam mematut pandangan mereka dengan mencela. "Dia orang yang baik." "Dia menyukaimu," imbuh Fagan dingin. "Atas dasar apa kau bicara sembarangan?" Alis Fagan yang rapi terangkat naik. "Kami adalah pria. Mata mereka tidak bisa berbohong," tunjuk Fagan pada dirinya sendiri. "Dia melamun dan selalu berpikir tentangmu sampai tidak mendengar kedatanganku." "Aku juga sama." "Kau pengecualian. Pada dasarnya kau memang tidak pernah peduli," keluh Fagan muram menatap pada sosok di depannya. "Apa yang kau perlukan selain dana lain?" "Tidak ada spesifik," aku Vania. "Kita bisa membicarakan itu mulai saat ini." "Aku yang tidak mau," balas Vania pahit. "Ini bukan ranah bisnismu dan tidak menjadi urusanmu mengasuh milikku." Bibir tipis itu terkatup. Fagan hanya memandangnya datar, sama sekali tidak bergerak dari sana. "Yah, sayang sekali kau bersikap tinggi di depanku." Vania menautkan alis. "Kau tidak bekerja?" "Ini waktunya makan siang. Aku bisa bersantai sebentar," jawabnya setengah menahan kuap. "Oh, ya benar. Sudah saatnya mencari makanan." Vania melirik jam di tangannya sendiri. "Aku pesankan sesuatu." "Untukku?" Fagan nampak bersemangat. "Siapa bilang? Untuk diriku sendiri karena aku lapar." Fagan ikut mencibir pelan. "Pesankan seporsi, aku belum menyantap apa pun sedari tadi." "Kau sebaiknya kembali ke kantor. Pekerjaanku banyak yang terbengkalai di sini." "Aku belum mau bangun," selanya menolak jika Vania bisa berbuat semaunya. "Aku duduk kurang lebih lima menit." Vania mengambil napas. Meraih ponselnya dan dengan cepat menghubungi satu restoran ayam kesukaan bersama Sarah. "Sudah selesai. Kau yang membayar makan siangnya?" Senyum Fagan muncul. "Tentu." Kemudian yang Vania lakukan menjauhkan ponselnya ke atas meja, menyembunyikan wajah dengan tangan menjadi bantalan. Membiarkan Fagan mengamatinya dan memasang tampang datar. Dia ingin istirahat barang sebentar. "Kau tidak apa?" "Hm," hanya gumaman yang terdengar. Yang Vania rasakan selanjutnya adalah bukan teguran atau si pria menjengkelkan ini memintanya penuh secara terbuka untuk istirahat. Tidak sesuai dugaannya. Melainkan pada tangan yang terulur, menyempatkan untuk menyentuh anak rambutnya yang terlepas dari ikatan dan mengusap kepalanya penuh perhatian. Seakan memberi dukungan semangat berbentuk aksi yang tersirat. *** "Oh, ya Tuhan. Bagaimana kau bisa masuk?" "Aku memencet bel dan mengetuk pintu, tak ada jawaban. Tapi kendaraanmu berada di rumah dan langsung masuk ke sini. Pintumu tidak terkunci," balas Fagan sekenanya dan Vania mengembuskan napas. Kembali berbalik badan, meminta pria itu menunggu dengan suaranya yang agak lantang. "Oke, tetap di sana sepuluh menit." "Aku bisa meneruskan pendidikan yang tertunda sembari menunggumu mengeringkan rambut," sindirnya dan Vania memelotot menutup pintu kamarnya cukup keras. Selagi Fagan menunggu, pemandangan lainnya yang menarik perhatian jatuh pada akuarium bersama aneka tanaman hias dan batu karang yang Vania belikan sebagai pemanis. Ikan itu mungil dan terlihat kesepian, pikir Fagan murung. Mengamati dua ikan yang berenang saling menjauh. Apa mereka pasangan yang baru saja putus? Ivan mengirim kabar. Memberitahu hal bagus kalau dia bisa terbang untuk melihat ayahnya dan sang istri bersedia menemani pengobatan Kenta sampai kondisinya stabil. Yaitu berencana beradaptasi oleh kedua anak kembarnya, mereka akan bersekolah di tempat baru. Tapi Kenta tidak suka dengan keputusan tersebut. Seolah dia yang turut andil besar dalam pilihan hidup putra sulungnya. Ivan bahagia di kota luar dan tidak usah kembali untuk mengurus dirinya yang berpenyakitan. "Apa yang kau lakukan dengan itu?" Fagan menengadah, terkejut mendengar dehaman itu berasal dari Vania yang membeku di ambang pintu. Ketika kakinya mendekat, membuat Fagan tercenung. "Aku diam saja selama berdiri," ujarnya. "Bukan dirimu tapi Fagan si ikan," katanya seraya menunjuk akuarium berukuran medium di atas meja. "Astaga, dia kembali bersikap angkuh ke temannya." Alis Fagan tertarik bingung. "Siapa yang begitu? Kau ini bicara apa?" "Lihat, dia menolak temannya lagi. Aku iba kepada Milen. Dia selalu mengalah dan menyingkir karena Fagan terlalu berlebihan." Otak cerdasnya perlahan menguap. Fagan berusaha merespons setiap kalimat dengan serius, bibirnya berkedut menahan kesal. "Kau sedang membahas si ikan mengesalkan itu?" "Siapa lagi memangnya? Mereka berdua sering salah paham. Milen menyukai tempat ini dan kembaranmu tidak senang ada makhluk lain serupa mengambil tempatnya." "Aku senang mendengarnya. Begitulah hidup terus berjalan," timpal Fagan ringan dan Vania mendesis kembali ke kamar untuk mengambil tas selempang. "Keduanya lelaki?" tanya Fagan sumringah. "Yap, hebat dan tangguh." Fagan menunduk untuk sekadar memastikan. "Aku rasa tidak salah satunya. Ikanmu yang kurus payah." "Dia terlihat tenang dan kalem. Tidak semua lelaki berwajah ketus sepertimu. Ayo, pergi sekarang." Vania membubarkan lamunan Fagan terhadap hewan barunya. Saat dia membuka pintu, terkejut karena mendapati bukan serupa atau merek mobil ternama lain. Melainkan ada sebuah sepeda motor hitam yang terparkir. "Kau bisa mengendarainya?" "Hem, kau beruntung karena tidak memakai gaun atau rok yang menyulitkan." Vania terdiam, lalu terburu masuk ke rumah untuk meraih jaket dan helm. Kali ini Fagan yang tercengang. "Aku lebih dari siap." "Kau punya benda itu?" "Aku terlahir bukan dari golongan atas dan tidak terbiasa meminjam helm orang lain." Saat melintasi teras yang teduh, Vania terkesima. Ini bukan motor yang digunakan orang lain untuk mengais rezek termasuk jenis motor mahal. Kendaraan yang biasanya dipakai sebagai koleksi. "Ini sangat tampan." "Terima kasih. Aku sependapat kau juga ikut memuji pemiliknya?" Fagan memberi senyum separuh ke arah sang kekasih. Vania cemberut, menatap pria itu datar. "Kau terbilang percaya diri. Aku kagum dengan motor ini." Suara mesin yang menyala membuat dirinya berdebar. Fagan bertambah seribu kali lipat dalam hal pesona saat menumpangi motor ini. Yang membuat Vania tidak nyaman hanyalah dia merasa ingin berguling dan menangis karena Tuhan menciptakan satu hamba berbakat tanpa cela dari segi fisik. "Vania, aku seperti sedang bermimpi. Apa kabar?" Vania tidak perlu memasang wajah palsu di hadapan Kenta sekarang. Ia menyukai pria ini luar dan dalam. Ayah Fagan dan Ivan pengecualian dari banyak konglomerat. Dari semua penggambaran keluarga harmonis, Fagan mengambil andil di sana. Terlepas jika Kenta pernah menikah lagi itu bukan sesuatu yang serius. "Aku bertambah sehat setiap hari. Terlampau baik saat Fagan menjanjikan akan membawamu menemuiku di rumah." Kenta menghelanya sampai ke ruang tamu. Ketika Fagan pamit untuk pergi ke kamarnya dan ayahnya terlihat riang. "Melegakan karena Fagan akhirnya menemukanmu di kota ini." Keningnya berkerut halus. "Maaf? Aku tidak mengerti." "Ya Tuhan, dia bicara padaku kalau kau bersembunyi darinya. Kau tidak tinggal di apartemen tua itu lagi, kan? Kau pindah tanpa mengabari. Dia kelimpungan seharian." "Kau juga tahu?" Vania terkejut mendapati fakta tersebut. Kenta tersenyum bersalah. "Aku ayah kandungnya. Fagan selalu di rumah untuk memeriksa dokter baru khusus. Aku berupaya mengajaknya mengobrol dan dia nampak tidak berselera." Apa sekarang Kenta yang berbohong? Vania menarik napas, mengembuskannya perlahan. "Aku berada di rumah sahabatku. Kami bertukar kabar setiap waktu. Bertanya soal pekerjaan dan aku menyewa kediaman baru." "Kabar bagus," kata Kenta ceria. "Gayamu terlihat pantas. Kau cocok memakai apa pun." "Dia hendak membuka restoran baru dan akan rilis sekitar dua sampai tiga minggu ke depan. Sedang kesusahan mencari investor," sahut Fagan santai menuruni tangga. Vania tidak bisa menahan diri untuk mendengus pada pria tak pandai menyimpan rahasia satu itu. "Kau kekurangan uang?" "Ada rencana bertemu salah satu pegawai pada sebuah bank lokal yang terbiasa menolong. Sebelumnya tidak ada kendala dan tentu saja proses tidak serumit biasanya." "Modal yang lumayan?" Kenta menyela dengan kritis. "Ya ampun, kau sepatutnya bicara padaku." Apakah itu keharusan? Vania tidak mau merepotkan keluarga kaya ini. "Itu bagian dari pekerjaan, aku berusaha sekuat tenaga membangun tempatku sendiri. Aku terharu atas apresiasimu, benar merasa lega." "Kau salah paham sepertinya," kepala Kenta menggeleng satu kali. "Fagan sebisa mungkin membantu. Ada pilihan memakai dana dengan pengembalian rendah tanpa syarat. Ini khusus untukmu karena kau keluarga." Vania tidak tahan untuk membeku. Seluruh tubuhnya mematung dengan cara asing. Fagan kembali dari dapur, memberikannya jus dingin. "Bernapaslah." "Aku tidak tahu harus apa." "Bersikap biasa saja. Aku tidak mendapat keuntungan apa pun nanti. Semisal kau tidak bisa melunasi, bukan masalah yang mesti dipikirkan." Kenta memandang Vania penuh kasih, seperti ayah dengan putrinya. "Kau sangat baik," bibirnya mengulas senyum. "Serta bijaksana dalam segalanya. Namun sekali lagi, aku belum menerimanya. Aku akan mencari jalan sendiri." "Bukan sesuatu yang mudah, kan?" sindir Fagan datar. Kenta tidak terlihat sedih. Dia malah tertawa berkat Vania dan sebuah senyum saat Nina meminta agar pria renta itu tidur siang lalu menyimpan kue kering yang Vania bawakan di laci dapur. Fagan ikut mengantarnya sampai kamar. Sama halnya dengan Vania yang sangat terpukau. Tak bisa melepaskan tatapannya dari desain kamar Kenta yang istimewa. "Biarkan Vania menginap semalam. Kabulkan kemauanku sehari ini saja." Vania memberinya senyum penuh tulus. Kenta selesai meminum vitamin, Nina mengatur suhu pendingin ruangan sesuai anjuran dokter. Memastikan Kenta terlelap nyaman. Ponsel Fagan berdering ketika mereka ada di luar pintu. Sebelum Vania beranjak turun, Fagan meraihnya ke sebuah ruangan. Meminta agar dia menunggu di sana dengan isyarat mata dan Vania menurut. Napasnya tertahan secara lamat. Binar matanya menunjukkan semangat yang melimpah. Menemukan kamar bernuansa pria sejati terhampar luas di depan mata. Semua cenderung ke warna abu dan hitam dan corak putih hanya sebagai penetral. Vania menelusuri jemarinya di sepanjang meja dan lemari kaca. Koleksi Fagan hanya berupa poster dan gitar yang tertempel di dinding. Di sana menyimpan banyak barang dan terdapat foto masa kecilnya bersama sang ibu. Senyum Vania merekah tipis. Ia menyukai ide memiliki keluarga saling mencintai di masa depan. Namun masa lalunya terlanjur kacau, dia tidak bisa merubahnya semudah itu. Semua gambar itu menarik perhatiannya. Sampai pada kecerobohan pertama yang dia tak sengaja lakukan dengan sikut menyentuh sebuah pigura sedang kemudian berhambur menjadi kepingan. Satu foto kenangan terlihat di atas lantai. Saat dia membungkuk, meraih gambar itu dalam satu tarikan napas berat. Aku cinta kamu. 2 Desember.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD