Vania malas berdebat. Atau apa pun istilah itu, dia malas berselisih. Terutama karena Fagan termasuk salah satu pria yang tidak suka dibantah dan tidak terbiasa mendapat penolakan dari sisi mana pun. Tak ada bagian romantis pria itu yang ingin Vania dekati. Saat mobil mahal ini melaju di jalan malam Tokyo yang senggang, pemandangan lampu trotoar menjadi satunya penyelamat ketika dia merasa letih. Vania tidak tahu mengapa perasaannya kerap berubah macam remaja belasan tahun yang dihadapkan pilihan sulit. Biasanya pikiran di dalam kepala selalu merespons cepat. Mengirim stimulus apa pun untuk memerintah tangan dan logikanya berjalan, tetapi sekarang tidak. Seakan dengan komando Fagan, bersama arahan pria itu segalanya teratasi tanpa solusi berarti. "Kau diam saja." "Aku lebih suka menyimp

