Chapter 114

1575 Words

Dalam perjalanan pulang, suasana dalam mobil Azka terasa sunyi. Hanya suara mesin yang mengisi kekosongan di antara mereka. Athira duduk tenang di kursi penumpang, menatap jalanan malam yang dihiasi lampu-lampu kota. Namun, dari sudut matanya, ia bisa merasakan sorot tatapan Azka yang mengandung begitu banyak pertanyaan yang belum terucap. Tiba-tiba, suara Azka memecah keheningan, berat dan penuh tekanan emosi. “Athira... Arman Saputera... Dia ayahmu, ya?” Athira tercekat. Nafasnya sempat tertahan. Ia tahu pertanyaan itu akan datang cepat atau lambat, namun ia belum siap menjawabnya. Belum siap membiarkan kenyataan yang rumit itu menjadi bumerang dalam hubungan mereka—terutama jika itu membuat Azka merasa dirinya dijebak atau dimanfaatkan. Setelah jeda yang terasa sangat panjang, Athir

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD