~Selamat membaca ~ "Kakekmu bilang bila Serin kembali menangis di kamarnya tadi sore. Apa kamu lebih suka Serin tumbuh dengan mental yang down? ingat nak, untuk mempertahankan Serin kita melakukan banyak pengorbanan. Terutama kamu juga Serena. Kamu menghilang bak di telan bumi dari semua pemberitaan media, sedangkan Serena...." Hidayat tak mampu melanjutkan kalimatnya. Bahu laki laki paruh baya itu berguncang hebat membuat Garen merasa semakin bersalah. "Maafkan Garen pa," ucap Garen parau. Meski ia sendiri sedang berusaha keras untuk menahan diri agar tak larut dalam kesedihan. Namun percayalah, saat ini Garen sangat ingin meluapkan semua sisi emosional terpendam dalam hatinya. "Jangan pernah membuat cucuku kembali meneteskan air matanya lagi Garen. Ingatlah, semua ini terjadi karena

