Cinta Sederhana

1304 Words
Aku tak butuh cinta yang rumit Hanya sebuah cinta yang sederhana Apa adanya dan bahagia *** Keduanya berjalan menuju motor Al yang diparkir tak jauh dari ruang loker karyawan. “Mbun, keinginan apa yang kamu belum terpenuhi? Aku pengen wujudkan itu sebelum kamu berangkat ke luar negeri. Biar kamu terus inget sama aku,” ujar Al sembari memasangkan helm di kepala Embun. Pemuda itu mendorong rambut Embun dengan telunjuk agar masuk ke helm dan tidak mengganggu mata gadis itu. “Nggak ada keinginan apa-apa, sih. Jalan-jalan ... kan, udah kapan hari. Aku bukan orang yang punya seribu keinginan, Al. Aku belajar untuk tidak banyak bermimpi dan berangan karena semua itu akan menyakitkan kalau sampai tidak tergapai. Aku juga harus sadar diri, siapa aku. Bisa hidup, makan kenyang, dan tidur nyenyak aja, itu sudah karunia luar biasa dari Tuhan.” Gadis itu tersenyum manis. Sungguh, gadis ini memang benar-benar polos serta tidak banyak tuntutan. Padahal di usia dia, teman-temannya menginginkan begitu banyak hal. Baju yang modis, bermerek, handphone, sepatu, laptop, dan lain sebagainya. Al sudah duduk di atas motor dan memindahkan tas punggung ke depan. “Come on, Baby,” serunya. Embun terkekeh lalu duduk di belakang lelaki itu. “Peluk, dong. Masa pegangan pinggang. Nggak seru, ih.” Embun tersenyum. Sudah terbiasa dengan kemanjaan pemuda itu. Direngkuhnya tubuh yang lumayan atletis itu. Dia melingkarkan tangan hingga terjepit di antara tas dan perut Alaska. “Sudah, Pak Bos. Ayo, jalan,” katanya sambil meletakkan dagu di atas bahu kiri Al. Mereka melaju perlahan. Al sengaja tidak mau ngebut supaya bisa menikmati momen ini lebih lama. Bahkan, kalau boleh meminta pada Tuhan, dia berharap waktu berhenti untuk beberapa jam saja. Sepanjang perjalanan, tak banyak percakapan mereka lakukan. Keduanya seolah sibuk menikmati suasana dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku ingin terus bersamamu, Mbun, ucap Al dalam hati. Al benar-benar menikmati posisi ini. Dia bisa berada dekat, tanpa jarak dengan wanita yang dia cintai. Aku nyaman bersamamu, Al. Tapi aku tak tahu, apakah ini cinta? Embun masih menimbang dan mempertimbangkan perasaan. Rasa yang berbeda dengan dia bersama Pandu. “Eh, kok, arahnya ke sini, Al?” Embun tersadar bahwa arah mereka bukan menuju kontrakan. “Ada kafe baru. Kita mampir bentar, ya.” “Ya udah. Tapi jangan lama-lama ya. Satu jam aja.” Embun tak tega menolak keinginan Al. “Iya.” Al menjawab santai. Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka tiba di kafe yang dimaksudkan oleh pemuda itu. Kafe sederhana. Sebuah ruko tiga lantai yang didesain sedemikian rupa menjadi tempat nongkrong yang asyik. Di lantai atas sendiri ternyata masih ada area terbuka. Jadi, kita bisa makan dengan memandang langit yang dihiasi bulan dan bintang. Embun memandang kagum. Tak ada lampu atau ornamen yang berlebihan di tempat tersebut. Hanya beberapa lampu bergaya obor dengan cahayanya nampak menari-nari seperti kobaran api. Embun memilih duduk di sudut area. Bagi gadis introvert dan insecure seperti dia, memang akan lebih nyaman berada di ujung yang tak terlalu terlihat. Kalau di tengah akan jadi pusat perhatian orang. Berbeda dengan Al yang lebih ekstrovert juga penuh percaya diri. Dia sebenarnya lebih suka duduk di tengah ruangan. Namun, dia mengalah demi kenyamanan gadis itu. Seorang pelayan mendekati meja mereka dan mengulurkan dua buah buku menu. “Mahal, Al. Ngapain sih beli di sini.” Embun terkejut melihat daftar harga di buku menu yang tergolong mahal untuk kalangan kafe di sebuah ruko seperti ini. “Nggak papa, sekali-sekali. Aku yang traktir. Tenang aja,” jawab Al. “Jangan boros-borosan. Katanya kamu mau kuliah. Mending uangnya ditabung. Kuliah itu banyak biayanya lho, Al. Jangan keseringan minta ke orang tua.” “Kuliah itu kewajiban orang tua, Mbun. Selagi orang tua mampu, ya nggak papa.” Al masih sibuk memandangi buku menu. “Lagian, dari dulu orang tuaku juga yang maksa aku kuliah, tapi akunya yang belum mau. Sekarang, begitu tahu aku mau kuliah, mereka sudah seneng banget. Plus dapat calon mantu kan sebagai bonusnya. Lengkap sudah kebahagiaan mereka.” Embun tidak setuju dengan pendapat Al. Baginya, selagi bisa mandiri kenapa harus merepotkan orang lain, walaupun itu orang tua sendiri. Namun, pemuda itu memang dibesarkan dengan cara dan situasi yang berbeda. Hal seperti ini tak mungkin dia pahami. Alaska mengangkat tangan, memanggil pelayan kafe yang segera datang mendekat. “Ya, Bang. Mau pesan apa?” tanya pelayan itu ramah. “Lo kira gue abang tukang bakso?” protes Al. “Eh, ya. Maaf, Pak,” jawab pelayan itu sekenanya. “Asoy. Lo kata gue bapak-bapak?” “Eh. Aduh, manggil apa? Mas?” Pelayan itu salah tingkah. “Nah, gitu kan enak. Saya rice bowl yang chicken mayo sama teh bunga telang hangat. Kamu, Mbun?” Al menoleh pada Embun. “Saya minum aja. Teh rosella hangat,” jawabnya singkat sembari mengulurkan buku menu pada pelayan itu. “Makan sekalian,” tukas Al cepat. “Masih kenyang.” “Ngemil, biar gemukan dikit. Burger, ya?” Embun enggan memesan karena melihat harganya sangat mahal. “Burgernya satu, beef aja.” Al mengambil inisiatif, memesan untuk Embun. Tidak dia pedulikan tatapan protes dari gadis itu. “Baik, Mas. Mohon ditunggu sebentar,” jawab pelayan itu sambil mengambil buku menu. “Jangan lama-lama, ya,” tegas Al. “Siap, Mas.” “Mahal, Al.” Embun bersuara setelah pelayan itu menjauh. “Udah, nggak papa. Lain kali kalau pergi sama aku, nggak usah mikir harga. Nikmatin aja. Oke?” Embun menyudahi perdebatan. Al memang selalu seperti itu, kekanak-kanakan. Semilir angin menemani keduanya. Sejuknya mampu mengusir penat dari tubuh mereka. Rasa letih seharian bekerja seolah ditiup sedikit demi sedikit dari raga, sirna berpadu dengan alam semesta. Bulan sedang tersenyum di atas sana, walau tubuh tersisa setengah dari purnama. Bintang bertabur di mana-mana seperti butiran pasir putih ditebar di atas permadani berwarna hitam kelam. Tiba-tiba, Al meraih tangan kiri Embun. Gadis itu sontak melihat ke arah Alaska. Pemuda itu tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah cincin dari saku jaket dan memasangkannya ke jari manis Embun. “Pas. Hehehe.” Pria itu terkekeh bahagia karena cincin pilihannya begitu pas di jari Embun. Embun memandangi tangannya. Indah. “Kapan belinya? Kok, bisa pas, ya?” Gadis itu tersenyum. Bahagia itu membuatnya merasa hangat. Al memang selalu mampu menghadirkan kejutan. Pantas saja, para gadis selama ini bertekuk lutut di hadapan pemuda itu. “Tadi siang. Belinya pakai hati, jadi pas ukurannya.” Masih saja dia berusaha menggombal. “Oh, kirain pakai duit. Ternyata, bisa ya beli cincin pakai hati,” goda Embun. Cincin ini sederhana, tanpa batu apa pun disematkan di sana. Hanya ukiran dan ulir yang membuat cincin itu seolah bersinar. Pilihan yang sangat tepat untuk gadis sederhana seperti Embun. “Cincin itu memang sederhana. Sama seperti aku mencintaimu dengan cara yang sangat sederhana, tidak seperti ke gadis-gadis lain sebelum kamu. Tapi sederhana dan apa adanya itu yang justru membuat semua serasa istimewa juga luar biasa.” Wajah Al bersemu merah. “Cincin itu seperti kamu. Sederhana tapi istimewa.” “Eaaaaa, romantis abis.” Embun tertawa. “Kamu selalu gitu, deh. AKu romantis malah diketawain. Nggak asyik,” ucap Al manyun. “Hahaha. Soalnya aneh aja kalau kamu itu terlalu romantis. Aku malah geli. Makasih banyak, ya. Cincinnya bagus. Aku suka, kok.” Embun mencium cincin yang melingkar di jari manisnya. “Dih, kok cincinnya sih yang dicium. Orangnya, dong, yang udah susah payah beli,” sahut Al. “Belum saatnya. Tunggu momen.” Embun cekikikan melihat wajah Al mupeng. “Tadinya mau aku belikan cincin permata, tapi nyarinya sulit.” “Sulit kenapa? Kemahalan?” Embun masih tertawa geli. Bisa-bisanya pria ini berpikir membeli cincin permata yang sudah pasti mahal harganya. Bukan barang biasa untuk mereka yang hanya karyawan biasa. “Bukan. Nggak ada yang lebih bersinar dari mata kamu. Makanya aku nggak jadi beli.” Al tertawa. “Nah, kalau gaya yang kayak gini, baru kamu, Al. Hahaha.” Embun ikut tertawa.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD