Relativitas masa memang jauh berbeda
berlari cepat bagi yang sedang terpikat
merangkak lambat untuk yang sedang tercekat
***
Sudah beberapa hari ini, Pandu mencoba mengumpulkan banyak informasi tentang Embun, gadis yang sudah diincar bosnya untuk menjadi kandidat sewa rahim. Tentu saja dia tidak turun ke lapangan. Dia meminta beberapa orang suruhan untuk mengumpulkan semua informasi tersebut. Sebagian dia minta fokus pada masa lalu gadis itu, sebagian lagi, fokus pada kehidupan sekarang dan pekerjaan.
Tidak sulit mengumpulkan keping-keping kehidupan orang lain, selagi ada imbalan yang pantas untuk itu semua. Uang memang selalu mudah berkuasa, bahkan atas privasi dan hal pribadi orang lain. Dalam waktu beberapa hari saja, Pandu sudah mendapatkan banyak informasi tentang Embun. Dia membaca satu per satu dengan detail, lalu menyusunnya menjadi sejarah lengkap kehidupan gadis itu untuk kemudian dilaporkan pada Kala dan Lady.
“Ini sudah semua?” tanya Pandu sekali lagi pada tim lapangan yang menyelidiki Embun beberapa hari ini.
“Sudah, Pak. Tidak ada lagi,” jawab seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap, pimpinan kelompok pencari informasi tersebut.
“Oke. Pembayaran sudah saya transfer juga. Nanti kalau perlu informasi lain lagi, saya akan kabari kalian. Terima kasih banyak atas bantuannya.” Pandu mengulurkan tangan dan dibalas dengan jabatan erat oleh pemimpin kelompok tersebut.
Mereka meninggalkan ruang meeting kecil di kantor Pandu. Ketiganya sudah sering mencari informasi untuk Pandu. Biasanya juga terkait rival-rival bisnis atau calon partner perusahaan. Kala cenderung berhati-hati dan selalu meminta data di lapangan tentang kehidupan pribadi orang-orang yang tersangkut dengan dia dan bisnisnya. Karakter sehari-hari tentu menjadi bahan pertimbangan juga dalam berbisnis.
Menyusun dan membaca lagi kisah Embun, membuat hati Pandu tersentuh. Dia memandangi beberapa lembar foto gadis itu di tangannya. Gadis secantik dia, tetapi harus mengalami hidup yang menyedihkan. Menjadi yatim piatu saja sudah cukup sulit, ini masih ditambah beban utang warisan sang ayah.
Hebat. Dia gadis yang kuat, puji Pandu dalam hati.
Dia memeriksa sekali lagi semua data dan rangkuman kehidupan Embun. Tidak ada yang kurang. Sepertinya, sudah lebih dari cukup. Pandu kembali berkonsentrasi pada tugas-tugas dia yang lain.
***
“Morning, Bee. Bangun, gih. Mandi, terus sarapan,” ucap Lady membangunkan Kala seraya membelai lembut rambut laki-laki itu. Semalam saat dia pulang, Kala memang sudah terlelap.
“Morning too, Honey. Gimana dengan si Broto? Dia pasti mau bantu kita, kan?” Kala menggeliat dengan malas. Dia rentangkan kedua tangan lebar-lebar sembari menguap, berusaha untuk mengusir rasa kantuk yang masih setia menyergap.
“Mau, lah. Udah tugas dia juga, kan, untuk itu. Dia juga akan rahasiakan semua data dan prosesnya agar jangan sampai orang luar tahu,” jawab Lady penuh keyakinan. “Itu yang paling penting.”
Mereka memang tidak ingin ada yang tahu tentang perjanjian sewa rahim. Biarlah orang tahunya Lady hamil seperti biasa dan melahirkan dengan normal.
“Syukurlah. Oh, ya. Pagi ini, kamu ikut aku ke kantor, ya. Kita dengarkan hasil penyelidikan Pandu soal si Embun. Kalau kita nilai sekiranya dia layak, Pandu akan segera bernegosiasi dengan dia,” ajak Kala. “Biar rencana kita segera terlaksana.”
“Oke. Gue juga pengen dengar hasil penyelidikan Pandu, kok. Kita lihat, kali ini, feeling gue salah atau benar seperti biasanya. Gue tunggu di bawah ya, Bee,” ucap Lady mengecup sekilas pipi kiri sang suami.
Kala segera bangkit menuju kamar mandi dan bersiap-siap, sementara Lady turun ke ruang makan untuk mengecek sarapan.
“Non, jadi sewa rahimnya?” Bik Maneh masih saja kepo.
“Nggak usah nanya-nanya. Itu bukan urusan Bik Maneh,” jawab Lady singkat, membuat pembantunya itu langsung bungkam seketika. Dia memang paling takut pada wanita satu ini. Kalau Kala, dia masih berani bercanda dan bicara santai. Namun, kalau Lady ... lebih baik tidak. Singa betina yang satu ini tidak bisa diajak bermain-main.
Bik Maneh memilih diam dan lanjut mengerjakan pekerjaan lain di dapur. Dia menyiapkan sayuran yang akan dimasak nanti siang untuk para pekerja di rumah itu sambil menghindari sang majikan yang sudah memasang tampang garang. Rumah bak istana itu punya sembilan orang pekerja. Bik Maneh selaku ketua dan penanggung jawab dapur. Yang lainnya, lebih fokus pada kebersihan dan taman.
Lady mengincipi buah-buahan yang sudah disiapkan oleh Bik Maneh sembari menunggu Kala turun. Dia berharap, informasi bagus yang akan mereka dengar dari Pandu, bukan sebaliknya. Karena untuk saat ini, Embun satu-satunya kandidat yang mereka miliki. Kalau bukan dia, entah harus mencari ke mana lagi sosok gadis cantik dan introver yang mau disewa rahimnya.
Gadis cantik, rata-rata pasti memperhatikan penampilan. Kebanyakan dari mereka tentu keberatan kalau harus hamil dan merusak bentuk tubuh sebelum waktunya. Kalau setelah melahirkan lantas mereka kembali langsing, tidak masalah. Namun, kalau tidak? Tidak mudah untuk mengembalikan bentuk tubuh pasca melahirkan.
Belum lagi kalau ternyata kelahiran tidak bisa dilakukan dengan jalan normal alias harus operasi. Penyembuhan pasca operasi tidak bisa satu atau dua bulan saja. Mereka butuh waktu beberapa tahun untuk bisa pulih total. Ini jelas sebuah resiko besar dan kerugian yang berkepanjangan.
Gadis cantik, biasanya juga sudah memiliki pacar. Kalaupun jomlo, pasti banyak orang yang memperhatikan keberadaan mereka karena selalu jadi sorotan dan menarik perhatian. Tidak mudah menemukan gadis cantik, pendiam, dan tidak menjadi sorotan.
Entah kenapa, melihat Embun, Lady merasa ada feeling yang bagus. Gadis itu cantik, ramah, tetapi terkesan tertutup. Dia pasti tidak memiliki banyak teman. Itu satu hal yang sudah diyakini oleh Lady sejak awal. Pas sekali dengan target yang mereka inginkan.
Tidak satu atau dua kali saja Lady memperhatikan Embun. Sudah lama dia memindai penampilan dan tingkah laku gadis itu, entah kenapa. Tidak ada alasan khusus sebenarnya. Dia hanya tertarik melihat kepribadian gadis itu. Unik.
“Bikinin chamomile tea sama kopi ya, Bik.” Lady berseru pada pembantunya.
“Iya, Non,” jawab Bik Maneh.
Tak berapa lama, Kala turun dan langsung duduk di hadapan Lady. Pria itu sudah berpakaian rapi.
“Aku penasaran sama info Pandu. Semoga aja oke, ya,” kata Kala.
Lady menggangguk sambil tersenyum. Mereka segera sarapan karena sama-sama sudah tidak sabar untuk segera tiba di kantor dan mendengarkan penjelasan Pandu tentang Embun.
“Siapin juga perjanjian dari tim legal. Gue mau baca,” kata Lady saat perjalanan menuju kantor.
“Sudah disiapkan semua oleh Pandu. Sekalian kita discuss nanti. Kalau ada yang kurang cocok biar bisa segera diperbaiki. Tapi kurasa, tim legal kita sudah sangat handal untuk mengatur perjanjian. Mereka sudah sangat paham dengan apa yang kita mau. Selama ini, mereka tidak pernah mengecewakan.” Kala memuji tim legal perusahaan mereka.
“Ya, tapi apa salahnya kita cek lebih dulu. Tim legal juga manusia biasa, masih bisa terlewat satu atau dua hal, kan?” tukas Lady. Wanita ini memang terbiasa meneliti semua hal dengan detail sebelum mulai melangkah dan memastikan semua rencana sempurna untuk dijalankan. Meminimalkan resiko.