Alam mengambil seseorang darimu
yang tak kau sangka akan kehilangannya
Semesta hadirkan dia untukmu
yang tak kau sangka akan memilikinya
*****
Alaska mencoba meyakinkan Embun untuk mau menerima bantuan darinya, walau mungkin memang tidak banyak. Namun, seperti biasa, gadis keras kepala itu selalu menolak. Dia tipikal perempuan yang tidak mau mengandalkan orang lain. Bukan bermaksud untuk jual mahal, tetapi dia memang tidak ingin berutang budi pada siapa pun. Bagi Embun, utang budi adalah sesuatu yang tidak pernah bisa terbayar. Dia tidak mau terikat dan terbebani dengan itu semua, apalagi statusnya dengan Alaska hanyalah teman biasa, tidak lebih.
“Dasar, kepala batu,” rutuk Alaska merengut.
“Bukan gitu, aku cuma nggak mau ngerepotin siapa pun, kok. Itu aja.”
“Gengsi tinggi,” kata pemuda itu lagi.
“Ini bukan gengsi, hanya mau mandiri.”
“Sok kuat.” Tak mau kalah, Alaska berucap lagi dengan tampang semakin ditekuk.
“Mau nggak mau harus kuat,” balas Embun santai.
“Terserah lo, deh.” Alaska menyerah, daripada terus berdebat.
“Sayur asem aja, jangan lodeh.” Embun mengulum senyum.
“Gue ada tabungan dikit, kok, Mbun. Udah, lo pake aja. Kagak apa-apa. Suer. Gue juga belum butuh. Jadi sama aja, buat apa tu duit ngendon di tabungan gue, kan? Kalo lo pake, kan, jadi lebih ada gunanya. Lo bisa balikin pelan-pelan. Gue juga belum tahu, kok, itu duit mau buat beli apa,” kata Al, masih bersikeras untuk membujuk Embun.
“Buat modal kawin kali,” jawab Embun sambil tergelak.
“Udah, nggak usah. Aku nggak mau utangku semakin menumpuk. Utang Bapak aja belum kelar, masa mau aku tambahin lagi. Kalau tiba-tiba aku nggak ada umur, gimana? Mati nanggung utang segitu banyak. Takut, ah,” lanjut gadis itu sambil bergidik ngeri.
Mereka kemudian larut dalam diam dan sibuk dengan tangan masing-masing. Alaska sibuk membaca makian Claudia yang dikirimkan melalui w******p sebelum kemudian memblokir nomor gadis itu. Sementara Embun sedang berselancar di akun i********: miliknya, mengagumi foto-foto tempat wisata dan alam.
“Percuma kalo liat doang. Rekreasi, yuk? Sekali-kali, kita liat alam berdua,” ajak Alaska tiba-tiba.
Dari hasil stalking, dia tahu akun yang diikuti oleh Embun mayoritas adalah tempat wisata dan alam. Pasti gadis itu sangat menyukai alam, pikir Alaska. Namun seingat Alaska, sejauh ini, belum pernah gadis itu pergi berwisata atau menjelajah alam. Tidak ada foto satu pun, juga tidak pernah bercerita sedikit pun.
“Nggak ada waktu. Lagian, bokek juga.” Embun tidak mengalihkan pandangan dari telepon genggam.
“Astaga, nyamber mulu kaya geledek. Udah, lo tinggal ikut aja. Lo libur Kamis besok, kan? Kita berangkat Rabu sore.” Alaska mengumbar senyum.
“Aku ada kuliah hari Rabu malam.” Embun mengalihkan pandangan ke pria di hadapannya.
“Katanya mo berhenti, ngapain mikir kuliah?”
“Kan, baru rencana, Al. Siapa tahu ada rezeki nomplok turun dari langit, aku bisa bayar kuliah. Doa kamu jelek banget, sih?” Embun mencebik, pura-pura marah.
“Bukan doain jelek. Gue malah seneng kalo lo bisa lanjut kuliah, kok. Kan, itu emang yang lo suka dan salah satu impian lo. Sekarang, gue mo bantu lo wujudin satu keinginan lo yang lain, yaitu pergi ke alam.” Alaska melemparkan senyum.
“Ya, udah. Kamis pagi kita berangkat, balik malam. Oke?” Alaska menjentikkan jari di depan Embun dengan penuh semangat.
“Mo kemana emangnya?” Embun heran dengan ajakan mendadak dari Alaska. Selama ini, mereka hanya kongkow di sekitaran Jakarta saja. Belum pernah mereka pergi keluar kota apalagi berwisata.
“Udah, itu urusan gue. Anggap aja, surprise.” Alaska setengah berteriak.
“Ssst, berisik, ih.” Gadis itu menempelkan telunjuk di depan bibir dan memandang sekeliling. Untung saja, pelanggan di warung itu tidak ada yang merasa terganggu dengan kebisingan Alaska. “Emangnya, dalam rangka apa kita jalan-jalan?”
“Tidak butuh alasan untuk jalan-jalan. Sama seperti aku yang tidak butuh alasan untuk mencintai kamu. Eaaa ....”
“Gombal!” Embun melempar tisu yang sedari tadi dia remas-remas ke wajah Alaska. Pemuda itu semakin terbahak-bahak. Dia memang suka sekai menggoda Embun, sahabat tercinta.
“Lo dah banyak bantu gue selama ini, Mbun.” Mata Alaska berbinar-binar, melihat ada peluang bahwa Embun akan menerima ajakan dia. “Jadi, sekarang giliran gue bantu lo untuk mewujudkan salah satu impian lo. Nggak ada salahnya, kan?
“Tapi, bener nggak ngerepotin kamu?” Embun mencoba meyakinkan diri sendiri.
“Ya elah, kaya ma siapa aja lo. Fix, ya? Kamis jam tiga pagi gue jemput lo. Entar, gue mo pinjem mobil saudara gua.” Alaska mengulurkan jari kelingking.
“Deal.” Embun mengaitkan jari kelingkingnya.
“Cie cie, apaan, tuh.” Bapak warung tahu-tahu nongol.
“Wanna know aja, deh. Rahasia dong.” Embun tersenyum geli dengan kelakuan bapak satu itu.
Si bapak senyum-senyum sendiri sambil meletakkan pesanan Embun dan Alaska di meja hadapan mereka.
“Makasih, Pak,” seru mereka hampir bersamaan.
“Cie cie, kompak, nih, ye,” goda si bapak lagi sambil berlalu.
Embun dan Alaska segera menyantap pesanan mereka. Cacing di perut sudah meronta-ronta bahkan sejak sore tadi.
Tak jauh dari tempat mereka makan, takdir seolah memberikan sinyal. Lady sedang menghabiskan waktu di sebuah mal. Setelah maraton menonton bioskop tiga film berturut-turut dan berbelanja beberapa pakaian, Lady mengistirahatkan kaki di sebuah kafe di dalam mal tersebut.
“Blueberry Pancake, toppingnya saya minta vanilla ice cream, plus saya minta tambahan butter di bagian atas, ya. Minumnya hot lycee tea. Thanks.” Lady sudah hafal dengan menu di salah satu kafe favoritnya itu. Jadi, tak perlu lagi membaca buku menu. Dia selalu meminta tambahan butter di atas pancake, yang kemudian akan dia oles merata untuk menambah rasa gurih di lidah. Mungkin sedikit aneh, karena jarang ada permintaan seperti itu dari pelanggan.
Pikiran wanita itu sudah lebih segar dan tenang setelah semua aktivitas seharian di mal. Sekarang, waktunya untuk berpikir. Ya, memikirkan jalan keluar dari masalah dia.
Harapanku cuma Broto, tak ada yang lain, kata Lady dalam hati.
Dia termenung selama beberapa saat, kemudian mengeluarkan telepon genggam dari clutch miliknya. Dia menekan sebuah gambar gagang telepon dengan latar belakang warna hijau, lalu mengetikkan nama Broto di kolom pencarian. Riwayat percakapan dengan sang dokter pun muncul. Hati Lady masih sangat ragu untuk melanjutkan lagi pembicaraan tadi siang. Dia menghela napas panjang berkali-kali sebelum akhirnya mulai mengetik pesan.
[Broto ....] Hanya satu kata itu yang mampu dia tulis. Tak kunjung ada balasan. Mungkin, Broto sedang sibuk menangani pasien, pikir Lady. Wanita itu menunggu sambil menikmati pancake yang sudah tiba di hadapannya.
Tuhan menciptakan kehidupan seperti sebuah pancake. Ada manis, asam, gurih, asin, hangat, dan dingin. Mungkin, dunia akan membosankan jika hanya ada satu rasa. Perasaan di hati Lady juga sudah nano-nano. Semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Beban yang sudah dipikul sendiri selama beberapa tahun ini, akhirnya menemukan sebuah solusi. Namun, tetap saja tidak semulus apa yang dia harapkan. Dia menikmati pancake dan teh leci hangat sembari menguatkan diri.
[Sori baru balas. Kenapa Lad?] Akhirnya, Broto membalas pesan yang dikirimkan oleh Lady.
[Bisa kita ketemu?] Lady menahan gejolak hati dan pikiran hingga kedua tangannya gemetar. Susah payah, dia menuliskan kalimat itu.
[Sekarang?] Broto heran dengan Lady yang tiba-tiba mengajak bertemu. Namun, sepertinya ini sangat penting.
[Yes, bisakah? Please.]
Tanpa ada kata ‘please’ pun Broto sudah pasti semangat empat lima untuk menemui wanita itu. Tambahan kata please, justru membuat dia berubah menjadi semangat enam sembilan. Eh ....
[Aku bisa sekitar jam 8. Kita ketemu di mana, Lad?] Tangan Broto sedikit gemetar. Dia punya firasat bahwa Lady akan mengatakan sesuatu yang di luar perkiraannya. Entah apa.
[Cal’s Cafe, gue tunggu. See, ya.] Lady melirik jam yang melilit pergelangan tangannya. Masih ada waktu untuk menyelesaikan makan dan meluncur ke tempat tersebut.
[Oke. See you there, Lad.] Broto bergegas bersiap.
“Ada pasien darurat, aku pergi dulu, ya,” pamit Broto pada Ningrum.
“Iya, ati-ati,” jawab istrinya itu tenang karena memang sudah biasa bagi seorang dokter untuk pergi tiba-tiba karena panggilan darurat. Broto tersenyum sekilas dan segera berlalu.
Mobil BMW putih seri lima bernopol B 120 TO melaju dengan tenang, tetapi tidak dengan jantung si pengendara. Jantungnya serasa melompat-lompat di rongga d**a. Sesekali pria itu memegang dan menekan d**a, memastikan bahwa jantungnya masih berada di sana.
Apa Lady setuju untuk bercerai dan menikah denganku, ya? Terus, kalau beneran dia mau seperti itu, aku harus gimana? tanya Broto dalam hati.
Sempurna sudah hidupku kalau bisa berhasil jadi suami Lady, Broto tersenyum menampakkan sederetan gigi putih bersih di sela bibirnya.
Sejurus kemudian, telepon genggam Broto di dekat persneling bergetar. Diliriknya sekilas nama yang muncul di layar ponsel. Lady.
“Hai, ini aku on the way, ya. Tunggu sebentar kalau kamu sudah sampai duluan.” Broto sengaja mengucapkan kalimat dengan selembut mungkin.
“Ya, santai aja. Gue cuma ngabarin kalo gue udah sampai. Nggak usah buru-buru.” Suara wanita di seberang sana terdengar tenang. Lady mencoba untuk setenang mungkin berbicara. Banyak hal berkecamuk dalam benaknya. Berbagai pertimbangan dan pemikiran hinggap di kepala wanita itu.
Langkah apa yang sebaiknya dia ambil? Hingga detik ini, Lady sebenarnya belum mengambil keputusan yang bulat. Dia akan mencoba untuk berdiskusi dengan Broto mengenai beberapa alternatif solusi. Semoga saja, salah satu dari apa yang dia tawarkan bisa diterima oleh sang dokter.
God, please help me, ucap Lady dalam hati.
Sesosok pria yang sedari tadi dia tunggu, akhirnya muncul juga di depan pintu masuk kafe. Dia masih terlihat formal dengan celana katun hitam dan kemeja lengan panjang berwarna merah marun. Hanya bedanya, lengan kemeja itu kini dilipat hingga sedikit di atas pergelangan tangan. Itu membuatnya terlihat sedikit lebih santai.
Lady melambaikan tangan, memberi tanda pada Broto yang segera menghampiri dan duduk di hadapannya. Mereka saling melempar senyum.
“Sori, lama, ya, nunggunya.” Broto menyapa dengan lembut dan tentu saja senyum yang dibuat semanis mungkin.
“Nggak, kok.”