Sebuah Drama

1069 Words
Janji hati telah lama kau ingkari Di sini aku sibuk menjaga hati Tapi kau malah sigap berpindah hati *** Keesokan paginya, Broto sudah bersiap diri di dalam kamar. Ketika sedang mematut diri di depan cermin, menoleh ke kanan, ke kiri, dia melihat ada sesuatu yang janggal di belakang telinga. Oh, sh*t. Ada bekas ciuman di belakang telinga sebelah kanan. Memang kecil, tetapi terlihat sangat mencolok. Warna merah kehitaman, tentu terlihat sangat kontras dengan kulit laki-laki itu yang tergolong putih. Jangan-jangan, Ningrum sudah melihat bekas ciuman ini, pikir Broto. Ah, Lady memang terlalu ganas semalam. Pria itu tersenyum mengingat kemesraan dirinya dengan Lady semalam. Sedetik kemudian, dahinya sedikit mengernyit. Dia harus mencari cara agar Ningrum tidak mencurigai macam-macam pada dirinya. Segera dia menuju ke ruang makan. “Ningrum, punya obat anti alergi, nggak?” Broto melihat Ningrum sedang menyuapi anak mereka. “Nggak ada, Mas. Kenapa?” Ningrum menjawab tanpa menoleh. Hatinya masih kesal karena melihat bekas ciuman semalam di belakang telinga sang suami. “Beberapa hari ini sering muncul ruam di badanku. Hilang, muncul lagi. Hilang, muncul lagi. Terus kayak gitu. Ini sekarang muncul lagi di belakang telinga. Kemarin di d**a, udah hilang,” kata Broto sambil memalingkan muka agar Ningrum bisa melihat tanda merah itu. Ningrum melihat ke arah sang suami dengan heran dan sedikit bimbang. “Itu ... ruam alergi?” kata dia sedikit tidak yakin. “Ya, kalau digigit serangga juga nggak mungkin gini kali. Pasti juga ada bentol-bentolnya.” Broto menjawab dengan santai dan sangat datar. Dia berusaha tetap tenang dan natural, padahal hati menyimpan segudang ketakutan bahwa perselingkuhan dengan Lady akan terbongkar. Ningrum mengamati ekspresi Broto yang terlihat tenang dan biasa-biasa saja. Tak ada bayangan kecemasan sama sekali. Dia tidak nampak menutupi suatu hal besar, apalagi sebuah perselingkuhan. “Mas, maafin Ningrum, ya. Sebagai istri, Ningrum malah nggak tahu kalau Mas sudah beberapa hari ini mengalami ruam karena alergi,” ucap dia penuh sesal. “Maksudmu? Biasa aja kali, Ningrum. Kan, memang kita juga sibuk dengan kerjaan masing-masing. Selama ini, kamu sudah jadi istri dan ibu yang baik, kok. Kamu selalu bisa meluangkan waktu untuk keluarga di tengah menjalani profesi. Buktinya, semalam aja masih sempat masak buatku, kan?” kata Broto, tetap dengan sikap yang tenang. “Semalam, Ningrum malah mencurigai Mas sudah selingkuh sama wanita lain. Ningrum pikir, itu bekas ciuman, Mas.” Ningrum menunduk malu. Wajah Broto nampak terkejut. Hufff, untung gue cepat tanggap, batin laki-laki itu. “Kamu ini ada-ada aja, Ningrum. Selama ini, aku cuma tahu rumah sakit sama rumah. Mana pernah aku pergi ke tempat lain. Aku ketemu banyak wanita, tapi ya di tempat praktek. Kumpul sama teman-teman rumah sakit juga jarang. Kalaupun kumpul sama mereka, kamu juga pasti tahu. Mereka juga teman-teman kamu, kan.” Memang, selama menikah, Broto hanya menjalani hidup dengan sangat hambar. Kerja, pulang, tidur. Begitu terus setiap hari. Sesekali dia berkumpul bersama teman-teman seprofesi. Namun, itu pun bisa dihitung jari. Dia memang sudah tidak memiliki gairah hidup. Semua gairah itu telah dibawa pergi oleh Lady, beserta mimpi, harapan, dan segenap keceriaan. Tak ada sisa lagi. Ningrum sendiri adalah tipe wanita rumahan yang hanya tahu tempat kerja dan bangunan yang mereka tinggali saat ini. Kalaupun pergi, dia hanya berkunjung ke rumah orang tua, mertua, dan supermarket. Sesekali dia berbelanja baju dan kebutuhan lain di mal. Namun, sangat jarang. Nongkrong? Bersantai di kafe? Tak pernah ada dalam kamus kehidupan mereka berdua. Ditambah lagi, pekerjaan mereka sangat menyita waktu. Kesibukan membuat tubuh dan pikiran mereka sudah teramat lelah. Istirahat menjadi satu-satunya keinginan terkuat bagi mereka setiap hari menjelang petang. Di rumah, mereka juga jarang berbincang lama. Biasanya hanya perbincangan singkat tentang hal-hal penting dan pokok saja, juga rencana esok hari atau beberapa hari lagi yang memang perlu mereka diskusikan. Bahkan, kehadiran si kecil pun ternyata tak mampu memperbaiki kualitas maupun kuantitas komunikasi mereka. Rumah tangga yang damai, tak ada perselisihan, tetapi teramat dingin untuk dijalani. Sering kali Ningrum menangis karena merasa hidup dengan orang asing yang dengan terpaksa harus dia panggil suami. Broto seolah b******a hanya karena menginginkan anak. Itu pun bukan karena dia memimpikan momongan, tetapi sebatas memenuhi tuntutan orang tua dan mertua, juga pandangan masyarakat terhadap mereka. Sejak hamil tua, Broto tak pernah lagi menyentuh Ningrum. Si kecil hanyalah simbol dan pembuktian pada semua orang bahwa dia adalah seorang lelaki sejati. Tidak lebih. Sungguh, sangat menyedihkan. “Iya, Mas. Maafin Ningrum. Mas mau dibelikan obat anti alergi?” “Nggak usah, deh. Nanti aku minta di rumah sakit aja.” Broto merapikan kemeja, lalu mengambil sepatu. Ningrum datang mendekat dan bermaksud membantu sang suami mengenakan sepatu. “Nggak usah, Ningrum. Kamu kayak jaman feodal aja. Udah, urus aja si kecil,” tolak Broto. Ningrum diam dan duduk di samping Broto. Dipandanginya lelaki ini. Pria yang sudah membuat dia jatuh cinta sejak awal bertemu. Cinta sebelah sisi. “Aku berangkat, ya. Daaa.” Broto bangkit dan berlalu begitu saja. Tak ada kecupan mesra ataupun cium tangan layaknya pasangan lain. Bahkan, pada buah hati yang sedari tadi memandang polos pun, tak ada usapan sayang sebagai seorang ayah. “Iya, hati-hati.” Ningrum menjawab lirih. Keras juga tidak akan dijawab, jadi percuma. Seperti inilah cara mereka menjalani hari demi hari kehidupan rumah tangga. Orang luar melihat adem ayem. Benar juga. Adem itu dingin. Ayem itu melempem, kerupuk masuk angin. Terkadang, Ningrum merasa putus asa dengan situasi rumah tangganya. Terlalu sulit bagi dia untuk bisa legowo dengan keadaan beku di antara mereka. Namun, dia tak bisa berbuat banyak. Pun dia tak bisa menuntut apa-apa. Sejak awal, Broto sudah berterus terang padanya bahwa hati dia sudah untuk wanita lain. Laki-laki itu dengan gamblang menjelaskan bahwa dia belum tentu bisa mencintai Ningrum. Kalau memang Ningrum tidak keberatan dengan itu semua, dia bersedia menerima ajakan wanita itu untuk menikah. Celakanya, Ningrum menyetujui itu dan berjanji tidak akan menuntut apa-apa. Dalam benak Ningrum saat itu, yang penting bisa menikah dengan Broto. Soal cinta, dia yakin akan tumbuh perlahan dengan sendirinya. Ternyata, dia salah. Broto bukan semakin hangat dan dekat, dia malah semakin jauh dan sibuk dengan dunianya sendiri. Memang, tidak pernah aneh-aneh. Namun, ada dan tidak adanya seolah sama saja. Kehadiran buah hati yang dia pikir akan jadi perekat hubungan mereka berdua, ternyata juga tidak berhasil. Tidak ada kedekatan sama sekali antara Broto dengan anak mereka, sama seperti Broto terhadap dirinya. Ningrum hanya bisa menghela napas panjang. Suka tidak suka, mau tidak mau, dia harus menjalani rumah tangga seperti ini. Entah, sampai kapan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD