"Ka.. Kamu..!" "Kamu..!" Pekik keduanya bersamaan.
Ternyata yang di tabrak Zia adalah Luna lagi, posisi mereka sama-sama terduduk, untung saja lantainya baru di pel sama mang Soleh jadi baik celana Zia dan celana Luna tidak kotor hanya basah sedikit. Dengan susah payah Luna berdiri, namun karena kakinya di rasa sakit, akhirnya Luna hanya menatap Zia seolah minta pertolongan untuk di bangunkan.
"Dia lagi..!" batin Luna.
“Mmm. Maafkan saya.. Saya nggak sengaja terpeleset karena lantai licin.” Zia terperangah saat gadis itu menatap nya.
"Haaddduh.. Kamu.. Saya.. Perasaan apa ini..?” Bathin Zia gugup.
Dengan gugup Zia bangkit dan membantu mendirikan Luna, mata Zia dan Luna bertemu di satu titik.
Dddssssrrrr.. Zia merasakan dadanya bergemuruh hebat, seakan-akan jantungnya mau copot.
Dug.. Dag.. Dug.. Dag.. akibat dari tatapan yang teduh dan mematikan dari Luna. Zia spontan meraih tangan serta merangkul ketiak gadis itu, kemudian di kalungkan ke leher Zia. Luna pun pasrah saat Zia merangkul tangannya. Padahal Zia juga merasa kesakitan di bagian b****g dan kakinya sedikit linu.
Mang Soleh yang melihat kejadian itu hanya bisa melongo dan sedikit takut.
"Maaf mas.. Tadi mamang mau peringatin.. Eeh mas Zia udah keburu jalan dan akhirnya..." Mang Soleh tidak meneruskan ucapannya.
Zia mentatih Luna berjalan menuju kursi yang ada di dekat kamar mandi,
“Yap..! kamu duduk di sini dulu ya, saya mau ke UKS ngambil kotak P3K.” seraya Zia melepaskan rangkulannya dan mengibas-ngibaskan celananya yang basah.
“Biar saya aja mas Zia.. “ mang Soleh ber inisiatif dan langsung berlari menuju UKS yang berada di ujung sekolahan.
Zia hanya mengangguk sambil melepas kepergian mang Soleh dengan matanya. Kemudian Zia kembali ke tempat gadis itu berada.
Zia sangat merasa bersalah pada gadis itu.
“Aaaaah.. kenapa dia lagi sich yang aku tabrak.." Sesal Zia namun dalam hati. Zia melihat telapak gadis itu sedikit terluka dan berdarah, karena tadi menahan tubuh nya di lantai. Gadis itu meringis kesakitan sambil sesekali meniup telapaknya yang di rasa agak perih.
"Shit..! Again and again." Umpat Zia pelan.
Gadis itu mengernyitkan dahinya dengan heran.
"Kenapa dia yang marah-marah sampe mengumpat gitu sih..?" Batin Luna. Ternyata u*****n Zia meskipun pelan sempat di dengar oleh Luna.
“Eeemmm.. Kamu nggak papa..?” tanya Zia khawatir sambil mengulas senyum, yang di rasa senyuman itu adalah senyuman yang paaaaling manis. Hhhmmmm walaupun hati Zia dad dig dug, seperti ada pemukul bedug di dalam dadanya. Namun Zia berusaha tenang agar tidak terlihat gugup.
“Sakit.. perih..” sahut Luna lirih dengan ekspresi kesakitan dan tak berani menatap Zia, sambil sesekali menyibakkan rambut panjang nya. Mukanya merah merona tanpa di sadarinya, namun Zia sangat memperhatikan dan menikmati wajah gadis itu. Suasana hening seketika. Kedua nya nampak kikuk dan serba salah, Terutama Zia yang sudah membuat gadis itu terluka.
“Oh ya.. Saya Zildjian Ganesha Paramayoga.. Panggil saja Zia.” Zia memberanikan diri memecah keheningan di antara mereka berdua sambil mengulurkan tangannya.
“Eemm.. iya kak Dion eh.. Kak Zia..” Luna sangat gugup
“Eh kok Dion..? Dion itu kan nama peran dalam shooting.. Hehhe.." Zia terkekeh pelan.
“Eeeh.. iya.. Saya Luna.. Aluna Zakiya Pramitha.. ” Luna meraih tangan Zia. Tangan Zia sangat lembut dan halus untuk ukuran tangan seorang cowok, apa mungkin karena dia seorang artis..? kecuali dia tukang kuli bangunan kali ya.. hihihih.
Tiba-tiba ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh Luna.
Di tempat tak jauh dari toilet, lagi-lagi ada sepasang netra yang sedang memperhatikan mereka berdua. Tatapan itu sangat tidak bersahabat, tatapan yang penuh kebencian dan cemburu yang berapi-api. Dengan menghentakkan kakinya, kemudian ia berlalu dari balik tembok dengan wajah jengkel.
“Ohya.. Kamu murid disini ya..?” Tanya Zia
“Iya kak.. kelas 9D..” Jawab Luna kalem
“Maksudnya kelas 3 SMP..?” Tanya Zia bingung dan auto merasa bodoh.
"Padahal kan emang kelas 9 itu ya kelas 3 SMP. Masa kelas 3 SD..? Hihihhi” Bathin Zia konyol, gegara gugup atau apa sich ini..? perasannya jadi tak menentu. Benar-benar sulit di artikan.
“I.. i.. iyalah kak.. Masa kelas 3 SD kak..” Sahut Luna sambil mengulas senyum dan sedikit merona dan Zia sangat menyukai senyum itu.
merona. Zia sangat menyukai senyum itu. Zia menepuk jidatnya sambil terkekeh.
"Hahaha.. iyaya, kirain saya kamu tuh udah kelas 3 SMA, habis badan kamu tinggi sih, di bandingin sama temen-temen kamu.” Lugas sekali Zia menjelaskan kebingungannya tadi.
Luna (karena udah kenalan, jadi bukan gadis itu lagi, sekarang pakai nama Luna.. heheh..) tak henti-hentinya meniup lukanya yang berdarah untuk menghilangkan perih. Mungkin di lantai ada kerikil kecil sehingga telapak Luna berdarah.
Spontan Zia ikut-ikutan latah meniup lukanya Luna, aroma mint yang keluar dari mulut Zia sangat kuat tercium oleh hidung Luna, hingga Luna kaget di buatnya dan berhasil membuat pipi Luna merona tuk kesekian kali. Zia hanya senyum-senyum saja saat melihat Luna malu-malu.
“Ohya.. Sekali lagi maaf ya Lu.. Na..” Zia gugup saat menyebut nama Luna.
"Kan.. Tadi udah minta maaf..” Sahut Luna polos.
“Ini permintaan maaf yang tadi siang, saat saya berlari nabrak kamu..” Mata Zia menatap Luna intens. Lagi-lagi Luna di buat gugup dan merona.
“Hmm..” Luna hanya mengangguk
" Pipi kamu tuh mudah sekali merona ya." Ucap Zia lirih.
"Hah..! Apa kak..?"
"Enng nggak papa kok."
"Haduh b**o banget sih gue.. Keceplosan." Batin Zia.
"Ooh.."
Untung Zia yang menabrak Luna, pasti akan lain cerita, jika yang menabrak Luna adalah orang lain atau sebut saja orang lewat atau bukan seorang artis tampan. Apakah Luna akan marah-marah tidak terima saat di tabrak..? apalagi orang tersebut tidak bertanggung jawab, atau bahkan bisa mencaci maki orang itu.
Ternyata tidak pembaca yang setia.. heehee..
Aluna adalah gadis yang sopan dan baik, namun agak pendiam, ia anak yang cerdas, berprestasi di sekolahnya, baik di bidang akademik maupun di bidang non akademik. Ia di senangi oleh teman-temannya, baik cowok ataupun cewek, guru-guru pun sangat sayang sama Luna karena pembawannya yang sangat kalem dan santun. Dan juga tatapan mata Luna yang meneduhkan, membuat orang yang menatapnya akan langsung timbul rasa sayang. (begitupun dengan Zia, cowok ganteng itu telah jatuh hati pada Luna saat pandangan pertama..) Ehem.. Eheeemmm.
Mata Zia terus memandangi luka di tangan Luna, lalu sebentar berpindah ke wajah Luna yang putih dan bersih tak ada noda sedikit pun, tak peduli dengan tatapan Luna yang risih saat mata mereka bertemu.
Dari kejauhan terlihat mang Soleh tergopoh-gopoh datang sambil membawa kota P3K.
"Aaaah, mang Soleh kenapa cepet banget datengnya sich..” Bathin Zia sebal, padahal Zia masih ingin berlama-lama berduaan dengan Luna.
“Ini mas..” Mang Soleh menyerahkan kotak P3K, dan setelahnya mang Soleh meneruskan kembali pekerjannya yang sempat tertunda tadi.
“Makasih Mang..” Dengan gesit Zia meraih dan membuka kotak tersebut, kemudian mengambil kapas yang sudah di tuangi alcohol. Cekatan sekali tangan Zia mengobati luka di telapak Luna.
Perlahan dan lembut Zia memperlakukan Luna. Zia membubuhkan kapas yang sudah di tetesi obat merah ke luka Luna. Sesekali Zia meniupnya perlahan. Sedangkan Luna hanya meringis dan malu sehingga pipinya bersemu merah.
“Mulus dan halus banget tangan Luna.. Astagfirullah.. apaan sich nih otak , jadi m***m gini sich..” Bathin Zia konyol.
"Pasti ini gegara gue kelamaan akrab sama Dodit neh." Zia tersenyum kecut.
“Awww.. heeesttt.. perih kak..” Rintih Luna sembari mengangkat sedikit telapaknya.
“I.. iya ini juga pelan-pelan kok.” Sahut Zia sambil terus meniup lukanya Luna.
“Ini hanya lecet dikit, dan lukanya nggak dalem, besok juga kering Lun..” Jelas Zia.
Entah kenapa ada perasaan nyaman saat berada di dekat Zia, luka Luna terus di totol-totol perlahan, setelah bersih lalu Zia meneteskan obat merah kemudian Zia menepelkan plester di atas perban sambil terus menekan-nekan lembut plesternya, ternyata kaki Luna juga ada luka besot sedikit.
Zia mengambil kapas lalu membersihkan kaki Luna yang kotor akibat sliding kaki Zia.
“iiih kak Zia pinter banget cara ngobatin luka..” Bathin Luna
Tentu saja pintar dan cekatan, kan Zia terlahir dari lingkungan keluarga dokter.
Rasa hangat mengalir ke dalam rongga tubuh Zia, serta memenuhi semua ruang yang kosong dan hampa saat tangan Zia memegang kaki Luna.
“Gimana sekarang.. sudah enakan kah..?” Tanya Zia, dan Luna hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa keluar suara sedikitpun.
Lalu kemudian suasana lengang kembali, mereka berdua sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran nya masing-masing.
“Eemm.. Luna.. kamu udah lama ikut nari-nari gini..?” Tanya Zia demi memecah keheningan
“He’eh.. udah dari kecil kak..” Luna menganggukkan kepalanya
“Hah..! dari bayi..?” Zia menautkan kedua alisnya konyol dengan nada meledek sambil terkekeh.
“Iiiih apaan sich kak Zia.. ya kali nari dari bayi..” jawab Luna pelan setengah merajuk dan memberengut sambil memajukan bibirnya yang tipis
"Duuuuh Luna, kamu kalo lagi kayak gitu imut banget dech.. bikin gemeezzz..” Bathin Zia
“Hehehe.. Kirain dari bayi..? Lalu dari kapan dong..?” Goda Zia masih terkekeh
“Dari pas masuk Play Group kalo nggak salah..” Luna ikutan terkekeh tapi malu.
“Kalo nggak salah berarti bener dong Lun..” Entah rasa humor dari mana kok tiba-tiba Zia pandai menggoda, padahal kan Zia di kenal cowok pendiem dan cool nya.
“Au aach..” cicit Luna
Blushing lagi
Muka Luna merah padam. Dan Zia sangat suka ketika melihat raut wajah Luna yang merona dan malu-malu.
Lalu kemudian tatapan mereka bersitubruk, Mata Luna dan mata Zia saling menatap saling menelusuri dan saling mencari sesuatu, entah apa itu, namun sangat sulit sekali untuk di terjemahkan pandangan kedua insan itu.
Zia mengulum bibirnya, ia mengulas senyum dengan mata yang masih lekat menatap Luna, setelah Luna tersadar kalo Zia menatap nya dengan intens, Luna tertunduk malu dengan senyum simpulnya. Hati Luna pun sebenarnya sangat Dag.. Dig.. Dug.. nggak karuan, secara yang ngobatin luka kakinya adalah seorang artis FTV. Luna telah di tabrak dua kali, di rangkul, di papah, di tiupin, di obatin lukanya oleh seorang Zildjian Ganesha Paramayoga yang ganteng, tinggi, cool, berkharisma dan baik.
"Ternyata kak Zia itu sangat baik dan nggak sombong..” Bathin Luna, seperti yang mak Poni bilang.
“Ehheem.. maaf Mas Zia di cariin sama tim kreatif tuh..” Mang Soleh membuyarkan lamunan kedua insan itu.
"Ooh ok mang.. Saya segera kesana.. Eeng Luna ayok kita kesana.. Kira-kira bisa jalan nggak..? Atau mau saya--gendong keruang ganti." Setengah gugup Zia mengulurkan kedua tangannya, Luna jadi salah tingkah di buatnya.
"Ng--gak usah kak." Dengan malu-malu Luna menjawab.
"Gapapa kalo kamu nggak kuat jalan.. Saya kuat kok gendong kamu sampai ke ruang ganti." Ucap Zia serius dengan menaikan alisnya sebelah dan tak lupa senyum menghiasi bibirnya.
"Apa kata dunia kalo kak Zia yang seorang artis, nggak ada ujan nggak ada angin tiba-tiba gendong aku ke ruang ganti, cuma gara-gara nabrak.. Bisa heboh dunia per FTV an." batin Luna setengah nggak percaya apa ya g barusan Zia tawarkan.
"Beneran nggak usah kak.. Saya bisa jalan sendiri kok." Ucap Luna menunduk memandangi kakinya.
"Baiklah kalo gitu. Saya duluan.. Mang titip Luna ya." Zia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan mata masih menatap Luna khawatir, Luna hanya mengangguk pelan dan melihat Zia melangkah dari belakang.
"Siap mas.. Tenang aja ada mamang disini."
Seperginya Zia mang Soleh duduk di samping Luna.
"Gimana neng.. Masih sakit nggak..?"
"Lumayan mang.. Masih berasa pegel aja.. Soalnya kan jatuh duduk tadi." Sahut Luna sambil memijit-mijit sendiri pahanya.
"kalo gitu neng Luna harus di urut, supaya nggak ngebet, khawatir dalemnya neng, kan kita nggak tau." ucap mang Soleh.
"iya mang." jawab Luna datar.
"Eeng mang.. Kak Zia ternyata baik ya orangnya."
"Iya neng.. Mas Zia baik banget.. Dari awal kenal sama mas Zia.. Dia itu orangnya nggak sombong.. Biar dia itu artis.. Ganteng.. Dia selalu lau propil."
"Low profile mang.." Luna terkekeh
"Iya itu yang mamang maksud neng hehe."
Sedang asyik berbincang dengan mang Soleh, dari kejauhan nampak teman-teman Luna sepertinya sedang mencarinya dirinya. Luna pun bangkit perlahan-lahan dan meninggalkan mang Soleh setelah berpamitan.
Akhirnya shooting sore itu di tunda selama tiga hari kedepan.
*
*
*
Zia mondar-mandir nggak jelas di dalam kamarnya, sebentar ke jendela, sebentar ke meja belajarnya, lalu ke tempat tidurnya, nggak jelas pula apa yang telah di pikirkan oleh otaknya, yang jelas saat ini memorinya Zia sedang flashback ke lokasi shooting saat ia pertama kali bertemu dengan Luna dan menabrak Luna.
Tak terbayangkan sebelumnya Zia bertemu dengan gadis cantik bernama Luna. Meskipun Luna masih belia dan masih duduk di bangku SMP entah mengapa mampu menghadirkan desir-desir aneh. Wajah Luna selalu hadir dalam setiap lamunan Zia.
Meski Zia tidak tau seluk-beluk Luna, yang pasti saat ini Luna telah mengisikan relung hatinya yang kosong, senyumlah Luna dapat mencairkan egonya yang kaku, tatapan mata teduh Luna mampu menghangatkan suasana hati Zia yang tlah lama membeku.
Hati Zia sepertinya telah terbuka, Tuhan telah mempertemukan dirinya dengan anak SMP yang manis dan lembut.
“Aaaaaah Luna.. Aluna.. meski dia masih SMP tapi nggak keliatan kalo dia anak SMP juga kok.” Gumam Zia dengan lirih.
Kemudian Zia membanting tubuhnya ke tempat tidur seraya merentangkan kedua tangannya, matanya terpejam, terbuai akan senyuman Luna yang telah mampu menjatuhkan dirinya dalam-dalam. Tak seberapa lama kemudian Zia bangun lagi dan berjalan menuju meja belajar nya lalu mengambil pena dan menorehjan ujung pena di atas kertas.
Tak sabar menanti pertemuan, namun terhalang bimbang, mencari kepastian akan perasaan apakah yang ku rasakan saat ini.
Senyum mu membuat ku lemah, Tatapan mu yang teduh tlah menjadi candu bagiku.
Zia sendiri tak mampu menggambarkan apa yang ada di benaknya. Tangan Zia bergerak begitu saja mengikuti alur goresan pena. Gadis penari itu selalu menari-nari di pelupuk mata Zia.
Banyak cewek-cewek yang selama ini Zia kenal, namun tak mampu merubah sikap Zia yang dingin dan kaku, tapi ketika mengenal Luna baru satu hari, Zia bisa tersenyum beberapa kali dalam sehari, bisa bergurau saat meledek Luna, sikap Zia begitu manis memperlakukan Luna, sehingga ada seseorang yang merasa cemburu dalam diam.
Menurut Zia malam ini begitu panjang dan lama, ia tak sabar ingin segera esok, netra nya bolak-balik melirik jam di dinding.
Zia meraih benda pipih yang ada di tas nakas, membuka layar nya dengan cepat, telunjuk nya mengarah ke galeri dan meng klik nya, foto-foto begitu banyak di galeri nya, tapi tak satupun yang di buka, hanya menscrol nya saja dengan cepat, lalu kemudian ia menghela nafas panjang dan mengeluarkan nya dengan kasar.
"Kok tumben sih nggak kiriman video tadi shooting." Monolog Zia.
Tuuut.. Tuuut.. Tuuut..
"Halo.."
"Halo Dit.. Ada kru yang ngambil video shooting hari ini nggak..?" Ternyata Zia menghubungi Dodit.
"Kayaknya sih nggak ade bro.. Kalo ade kan biasanya di share di group.. Emang kenape..?"
"Nggak papa Dit.. Nanya aja.."
"Coba aje ente minta sama editor."
"Gampang bro.. Oke deh thanks ya."
"Klik"
Zia memutuskan sambungan telepon selular nya.
Lagi-lagi Zia menghela nafas.
Apakah Zia jatuh cinta..? Kata orang cinta mampu merubah seseorang, buktinya Zia jadi sering tersenyum dan mendadak puitis.