Dalam suasana keheningan malam di tepi tebing yang menghadap ke lautan di Pulau Dewata, tepatnya di sebuah restauran. Sesekali suara deburan ombak yang lemah terdengar, hawa dingin menembus pori, lembutnya hembusan sang bayu meniup lirih hijab Bella.
Membuat tangan Bella tidak berhenti untuk terus membetulkan letak hijab nya. Wanita setengah baya itu sibuk dengan laptop di depannya, sesekali kepalanya menengok ke arah suaminya yang sedang berbincang dengan rekan bisnisnya.
Drrttt.. Drrttt..
Handphone Bella bergetar, di liriknya benda tipis itu, nama Zidni muncul di layar.
"Assalamu'alaikum Zi.."
"Walaikumsalam ma.. Mama masih di Bali..?"
"Iya sayang.. Mungkin lusa mama sama papa balik Jakarta.. Kenapa Zi..?"
"Nggak ada apa-apa ma.. Kirain besok pulangnya.. Soalnya Zizi kan mau ngenalin ke papa temen Zizi yang mau Coass di RS."
"Ooh.. Bukannya baru minggu depan papa minta nya.?"
"Iya ma.. Tapi temen Zizi dateng lebih awal.. Soalnya kan dia tinggal di Bandung.. Kalo mendadak takut nggak konsen."
"Lalu ada di mana dia sekarang.?"
"Disini ma.. Zizi ajak nginep di rumah dulu.. Soalnya dia belum dapet kos-kosan"
"Ok Zi nanti mama sampein ke papa ya.. Siapa tau pulang bisa di percepat.. Tahan dulu aja temennya sampe mama dan papa pulang."
"Iya ma.. Sembari dia nyari tempat kos yang nggak jauh dari RS.. Ok ma Zizi tutup telepon nya ya.. Assalamu'alaikum."
"Ok Zi.. Mama juga mau ngerampungin pekerjaan mama lagi.. Walaikumsalam." Bella mematikan handphone nya sambil menengok ke arah Ardi berada.Terlihat di sana suami nya masih serius berbicara.
Setelah pekerjaannya selesai dan sambil menunggu suaminya, mata Bella masih tertuju ke laptop. Lalu Bella meng-klik kolom library dan galeri foto keluarga, disana banyak sekali foto dirinya bersama teman, saudara, hingga foto bersama suami dan anak-anaknya tercinta yaitu Zidni dan Zia.
"Hmmmm kalo dulu aku tidak keguguran saat hamil 5 bulan mungkin sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik." Batin Bella seraya membuka satu persatu foto saat Zia masih kecil.
Di foto itu Zia masih berusia 3,5thn dan Bella sedang mengandung anak yang ke 3. Saat itu pula dia dan suami baru meresmikan RS di kota D, karena butuh persiapan yang panjang dan matang, akhirnya Bella kelelahan dalam berpikir juga kelelahan mondar-mandir ke sana kemari. Saat pulang ke rumah dan turun dari mobil Bella terpeleset, karena tidak mampu menopang badannya yang mulai berat dan sudah letih, akhirnya dia jatuh dan mengalami pendarahan, saat di larikan ke RS dan di USG, bayi didalam rahimnya tidak bisa di selamatkan dan sudah tak bernyawa.
Tangan Bella membelai gambar yang ada di layar monitor dengan perlahan, lalu kemudian dia ingat kalimat yang diucapkan oleh Nilam mertuanya.
"Inget Bel jangan sedih kelamaan.. Masih ada Zizi dan Zia yang membutuhkan kamu, anggap lah bahwa Allah belum mempercayakan momongan lagi ke kamu dan Ardi.. Mama jadi inget Ustazah ceramah waktu itu."
Dari Ali ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya bayi yang meninggal dalam kandungan ibunya akan marah kepada Rabb-nya jika Ia memasukkan kedua orang tuanya ke dalam neraka."
"Subhanallah" Gumam Bella dengan netra berkaca-kaca.
Lalu Bella melihat lagi foto saat Zizi dan Zia masih bayi, batita sampai balita. Disudut bibirnya terurai senyuman.
"Tak terasa sekarang Zizi dan Zia sudah menjadi pria dewasa yang tampan.. Sehat-sehat ya kalian nak." Batin Bella
Zia lahir di Bali, Zia memiliki satu kakak laki-laki yang bernama Zidni, ia lahir di Australia saat pekak Dewo memenangi tender lahan di sana, yang saat itu di dampingi Ardi, dan Bella ikut serta tentunya.
Yuupz ..
Zia dua bersaudara. Zia sangat mirip dengan Zidni, tak sedikit yang bilang bahwa mereka berdua anak kembar.
Hanya saja Zidni berkulit putih seperti sang mama. Sedangkan Zia sedikit bule seperti sang papa dan Zia lebih tinggi dari Zidni. Mata Zia coklat sedang mata Zidni hitam.
Lazuardi Geovan Dewananta biasa di sapa papa Ardi adalah keturunan Bali dan Australia, sedangkan Mama Bella keturunan Ningrat Solo.
Saat ini Zia sedang kuliah di ISI Surakarta semester 2, sebelumnya Zia kuliah Di UI, karena sesuatu hal Zia memutuskan berhenti dan pindah ke Bali selama setahun (untuk menenangkan diri) lalu kemudian melanjutkan kuliahnya di ISI hingga sekarang.
Kini Zia adalah seorang artis pendatang baru dalam dunia selebritis Indonesia, namanya belum begitu melambung dan belum banyak di kenal masyarakat, namun wajah tampannya sudah banyak wari-wiri menghiasi layar kaca, menjadi model iklan produk-produk dalam negeri, beradu akting dengan aktor-aktor senior, dan sudah di kontrak oleh banyak PH. Sebetulnya menjadi seorang artis adalah bukan cita-citanya atau keinginannya, terlebih karena faktor keberuntungan saja dengan memiliki kelebihan pada wajah tampannya.
Orang tua Zia adalah seorang Dokter, mereka memiliki Dua Rumah Sakit di Depok dan Jakarta. Owner Enam Apotik di Depok, Bandung, Jakarta, Bogor, Sukabumi dan belum lama telah membuka cabang di Bali, tempat kelahiran sang Papa. Juga pemilik tunggal dari restoran dan caffe “Healthy”.
Yaitu restoran yang mengelola masakan sehat. Dari mulai bahan-bahannya hingga pemakaian bumbu-bumbunya. Tak jarang restaurant Healthy menerima pesanan menu untuk RS lain selain RS milik keluarga Zia.
Keluarga Zia juga memiliki 2 yayasan yatim piatu Az-zikra yang berada di daerah Sukabumi dan Solo, mereka berkunjung 2 kali dalam setahun, tepatnya setiap menjelang bulan Ramadhan dan di acara santunan anak yatim pada tanggal 10 bulan Muharam.
Papa Ardi dan mama Bella adalah orang sangat dermawan, meskipun kaya raya namun mereka sangat baik dan selalu rendah hati. Tidak mau menonjolkan kekayaan, begitu juga dalam mendidik kedua putra.
Karena menurut papa Ardi bahwa makna dari kehidupan bukan terletak pada seberapa besar bermanfaat nya kita bagi orang lain, jika keberadaan kita dapat menjadi berkah bagi banyak orang, barulah kita benar-benar bernilai, jadi selagi masih bisa berbagi serta meringankan beban orang lain, kenapa tidak segera di lakukan.
Dengan di beri kelebihan rezeki serta nikmat yang banyak, keluarga Zia terketuk hatinya untuk membangun panti asuhan demi mensucikan hartanya, serta mengungkapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Khaliq.
Begitu pun dengan Zizi dan Zia, sedari kecil mereka berdua sudah di ajarkan oleh orang tuanya apa itu berbagi kepada sesama terlebih kepada saudara dan orang-orang yang terdekat seperti warga kampung di belakang komplek rumahnya,
*
*
*
*
Mobil Zia memasuki pagar yang terbuka dengan halaman yang sangat luas, nampak sebuah rumah yang besar nan mewah berkonsep Mediterania dengan 2 pilar besar di samping kanan dan kiri, bangunan berlantai 2 itu bernuansa putih bersih dengan ornament bunga berwarna emas di setiap sudut bangunan serta di bagian atas pilar, di permanis oleh lampu hias yang tergantung di tengah-tengah teras. Yaaaap inilah rumah Zia.
Zia masuk ke dalam rumahnya dengan langkah gontai, terlihat sangat sepi, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wib.
"Apakah mama dan papa belum kembali dari Bali..?" Pikir Zia.
Tapi memang tadi di depan hanya ada 1 mobil yang terparkir. Bik Mina pun tidak nampak batang hidungnya. Zia mengarahkan langkahnya menuju ruang makan, di atas meja makan sudah tersedia beberapa menu untuk makan malam keluarganya.
"Tapi kok .. Banyak banget bik Mina masak malam ini..? Apa mau ada tamu ataaau." Bathin Zia
“Assamu’alaikum bik.. Bik Minaa.. pada kemana tumben sepi banget..” Teriak Zia seraya menghenyakkan b****g nya di ruang keluarga yang ruangannya menyatu dengan ruang makan, hanya di batasi dengan meja bufet ukir jati Jepara, ruangan itu sangat luas, sehingga mata Zia dapat menyisir ruangan itu dengan indra penglihatannya.
Di sudut kiri ruangan tepatnya di bawah ongliong menuju dapur ada kamar bik Mina.
“Ceklek.. Iya den.. Bibik habis sholat isya den.” Bik Mina keluar dari kamarnya dan menghampiri Zia yang sedang memegang benda pipih di tangannya. Lalu langsung bangun begitu mendengar suara Bik mina.
“Iya Bik maaf.. Saya nggak tau..”
“iya den..”
“Bik.. Kok tumben masak banyak banget.. mau ada tamu siapa Bi..?” Tanya Zia sambil berjalan menuju wastafel.. Zia mencuci muka serta tangannya.
“Anu den. Nanti mas Zidni pulang bawa temen 3 orang katanya dokter Coass.. makanya bibik masak agak banyak..” Jelas Bik Mina.
“Dan tadi juga ibu telpon katanya 2 hari lagi kembali dari Bali..” Kata Bik Mina lagi.
“Oooh..” Zia ber oh ria sambil manggut-manggut
“Den Zia makan dulu aja.. karena mas Zidni katanya agak malam.. mau mampir ke Apotik dulu ketemu pak Tirto..” Ujar Bik Mina
Tanpa di suruh untuk yang kedua kalinya Zia langsung meraih dan membalikkan piringnya lalu segera mengisi nasi serta lauk pauknya.
“Den Zia berapa lama di Jakarta..?” Tanya Bik Mina dengan memegang serbet di tangannya.
“Kiwa-kiwa segulan hik..” (kira-kira sebulan Bik), dengan mulut penuh nasi dan lauk.
Bik Mina manggut-manggut, sambil terus memperhatikan anak majikannya itu, Zia yang dulu di momong nya kini sudah menjadi pria dewasa yang tampan dan berkharisma, bawaannya masih seperti dulu yang kalem, tidak banyak bicara, tenang dengan sorotnya mata yang tajam.
“Bik.. Makasih ya.. makanannya enak.. Saya selalu kangen masakan bibik ketika di Bali dan Solo..” Ucap Zia seraya menyeka mulutnya dengan sapu tangan bersih yang ada di samping piring.
“Sama-sama den.. Bibik seneng dengernya..” Bik Mina sumringah sekali mendengar ucapan Zia.
“Ya sudah bik.. saya ke kamar dulu ya bik.. Nanti kalo Mas Zidni udah pulang suruh ke kamar saya ya bik.. ada yang mau saya bicarakan sama dia..” Pesan Zia sambil meninggalkan ruang makan menuju kamarnya di lantai 2.
Sudah hampir satu minggu kepulangan Zia ke rumahnya lagi, sejak shooting di lakukan di Jakarta, ia belum pernah bertemu dengan abang satu-satunya itu yang sekarang sudah bergelar Dokter Ortopedi. dr. Zidni Gautama Dewananta, Sp.OT. Ia bertugas di RS milik orangtuanya di daerah D.
“Baik den.. nanti Bibik sampaikan..” bik Mina mengulas senyum di bibirnya, ia sangat bahagia karena anak bontot majikannya itu sudah bisa tersenyum lagi.
Bik Mina sudah hampir 30 Thn bekerja pada orang tua Zia, sedari Mama bella mengandung Zidni, lalu mengandung Zia hingga sekarang.
Suami bik Mina adalah supir pribadi Papa Zia. yang sekarang sedang bertugas mengantar orang Tua Zia ke Bali untuk meresmikan pembukaan cabang apotik yang baru di sana.
Getaran dirimu hangat terasaj
lirihKaubawa secercah sinar abadi
Dan kuterbuai dalam langkahmu
Ooh dan janjimu
Kan tetapi kini kau semakin menjauh
Kau selalu terbayang (oh nirwana)
Di dalam cintaku (yang telah berlalu)
Kau selalu berharap (berharap)
Di dalam cintaku (kembali)
Dan kuterhanyut dalam mimpiku
Oh naungkan rindu
Dan kuterlingkuh dalam pelukan dirimu
Lirih suara Zia terdengar sedang asyik mengikuti suara Armand Maulana dengan lagu nya Nirwana dari group Band Gigi. Setelah melaksanakan sholat isya Zia memejamkan matanya sambil tidur terlentang. Zia menghela nafas pelan. Mata Zia terbuka seraya menatap langit-langit kamarnya. Angannya kembali ke masa lalu, mengingat suatu peristiwa pahit yang membuat dadanya sesak seketika. Di kamar inilah Zia terakhir melampiaskan amarahnya sebelum benar-benar meninggalkan kamar ini dalam kurun waktu yang lama. Zia pikir tidak akan kembali ke kamar ini lagi, ternyata dugaannya salah, sang sutradara melakukan pengambilan adegan di Jakarta. Akhirnya Zia pulang ke rumah atas bujukan Mama Bella.
“Haaaaah..” Zia membuang nafasnya dengan berat.
"Seharusnya gue nggak pulang ke rumah dan balik ke kamar ini lagi..” Bathin Zia.
Walau kamar ini sudah di rombak habis oleh mama Bella dengan memanggil tukang dekor khusus, dan menghilangkan semua bentuk lama kamar Zia, akan tetapi tetap saja, saat Zia kembali ke kamarnya, ia teringat masa lalunya.
"Harusnya gue nginep aja di rumah Dodit..” Bathin Zia dengan kesal, tapi Zia tidak ingin mengecewakan mamanya, meski di rumah tidak di jumpai mamanya, namun setelah urusan mamanya selesai pasti mereka akan pulang dan bertemu dengan Zia untuk melepas kangen setelah hampir satu tahun tidak bertemu.
Yaaaap.. Zia tinggal di Solo dekat dengan kampusnya sudah hampir setahun, yang sebelumnya Zia tinggal di Bali untuk menenangkan hati dan pikirannya hampir setahun juga, lalu kemudian pindah ke Solo untuk meneruskan kuliahnya yang tertunda.
Mata Zia sulit terpejam, padahal tubuh Zia sangat lelah setelah seharian banyak sekali yang telah dikerjakan Zia.
Dari mulai shooting di pagi hari, Zia berangkat jam 6 pagi, setelah shooting selesai, Zia melakukan pemotretan untuk iklan sampo. Sorenya dia harus shooting lagi untuk film pendek, untungnya lokasi nya hanya sekitaran Jakarta. Belum lagi dia menerima pesan masuk dari papa Ardi, bahwa Zia harus meninjau apotik nya di Jakarta Selatan.
Entah sudah 1 minggu ia menginap di kamarnya kenapa baru malam ini Zia tidak bisa memejamkan mata serta menenangkan pikirannya, ia teringat akan Monik, meskipun posisi Monik telah lama ia hapus, dan sekarang bahkan atau mungkin sudah di isi dengan gadis manis yang sederhana bernama Aluna. Mata Zia terus menerawang mengelilingi isi kamarnya dengan detail.
Waktu di dinding menunjukkan pukul 9 malam, terdengar di bawah suara orang berbincang di meja makan.
"Itu mungkin mas Zizi sama temennya." Batin Zia.
Zia bangkit dari tempat tidurnya, ia melangkah menuju balkon yang ada di kamar nya.
Ceteek..
Zia menyulutkan korek api di rokok nya. Zia duduk di kursi besi, kepala nya mendongak ke atas.
Langit sangat cerah, nampak bintang saling berkedip.
Awan tipis menghiasi langit malam.
Semilir angin menyapu wajah Zia.
Zia masih betah menatap langit. Ada satu bintang terus berkedip tak jauh dari bulan.
Tiba-tiba bayangan wajah Luna tercetak di sana, Zia tersenyum simpul, bayangan Luna pun turut tersenyum.
Zia menghela nafas dalam-dalam.
"Luna sedang apa ya.." Gumam lirih, tidak terpikirkan oleh Zia untuk minta nomor telepon nya Luna.
"Apakah Luna juga lagi mikirin gue..?" Batin Zia sambil menyugar rambutnya.
Karena beberapa hari ini Zia tidak bertemu dengan Luna, terakhir Zia mengirimkan coklat melalui mang Soleh untuk Luna.
"Semoga Luna suka sama coklat pemberian gue" Batin Zia seraya menghisap r***knya dengan mata terpejam.
*
*
*
*
Di bawah langit yang sama, seorang gadis dengan rambutnya di biarkan tergerai pun sedang berada di balkon kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kursi Lounger panjang yang terbuat dari kayu jati, ada bantal squishy dalam dekapan nya, ia memakai baju tidur polkadot pink juga sedang menatap langit, entah kenapa Luna tidak bisa tidur malam ini, namun yang jelas otak Luna penuh dengan bayang-bayang Zia si artis yang sudah membuat hatinya sibuk.
Sibuk karena selalu memikirkan Zia. Mata Luna masih terpaku dengan satu bintang yang terus berkedip.
"Bintang.. Apakah kamu tau apa maksud kak Zia kasih coklat ke aku terus..?" Luna terus menatap bintang, seolah menanti jawaban dari bintang.
Terakhir Luna bertemu dengan Zia saat di parkiran, setelah itu sampai hari ini, Luna tidak pernah lagi bertemu dengan Zia. Padahal shooting untuk para extras di tunda sampai minggu depan.
Namun Luna masih bisa melihat para kru dan artis saat shooting. Karena sekolah Luna telah di kontrak untuk lokasi shooting sampai selesai.
"Tapi apa kak Zia masih mau kenal sama aku.. Masih inget sama aku..? setelah shooting selesai." Tanya Luna lagi dengan mengurai senyuman di bibir tipisnya.
"Bintang.. Apa kamu dengar..?"
"Aku dan kak Zia bagaikan langit dan bumi.. bagaikan utara dan selatan.."
Luna seperti orang yang sedang jatuh cinta. Apakah memang Luna sedang jatuh cinta..?
Tanpa Luna dan Zia sadari bahwa mereka sedang menatap bintang yang sama.