Bab 8

2015 Words
Ini merupakan suasana yang baru bagi Josseph. Kalau saja Andrew tidak mengajaknya kemari, Jo pasti tidak akan tahu tempat secantik ini. Lukisan-lukisan yang terpajang apik di dinding kafe, patung menawan yang seolah menyambut pengunjung di depan sana, serta ornamen Yunani yang begitu kental. Belum lagi, suasana hangan yang merasa Jo ada di rumah sangat mendukung mereka untuk menyelesaikan pekerjaan kantor di sini.   Andrew dan Jo memilih kursi di tengah-tengah ruangan. Kata Andrew---pria yang kini tengah memakai kemeja merah hati---karena internetlah ia mengetahui tempat ini. Jo sekadar terkekeh sebagai jawaban, merasa takjub dengan Andrew yang tak biasanya mengorek-ngorek dunia maya. “Ini untuk kepentingan pekerjaan.” Begitulah Andrew berkilah. Tak lama kemudian, lelaki yang menyebut dirinya sebagai pria terpeka sejagat raya itu menarik diri ke toilet.   Jo menerawan ruangan dengan takjub. Mereka sudah memesan makanan. Namun saat melihat ke arah balkon, di mana ada sepasang manusia yang tengah tertawa lepas, matanya menyipit. Jo menajamkan pandangan sebelum terbelalak di detik berikutnya. Itu Jo dan ... entahlah, Jo mana tahu. Lelaki itu tidak terlalu mempermasalahkan, maksudnya, bisa Jemima bersama temannya. Tapi tidak dengan---   “Apa yang kaulihat, Jo?” Andrew menepuk bahu Jo cukup keras. Jo yang merasakan sakit tidak mengindahkannya, lantaran lelaki itu langsung berdiri dan menghalangi pandangan Andrew pada apa yang ia lihat.   “Hey!” geram Andrew. Mereka saling menarik tangan serupa anak balita. Dan ketika Andrew berhasil mencengkeram tangan Jo dan mendudukkan tubuh temannya itu di kursi, Andrew kontan membeku. Dunianya terhenti. Hari itu begitu tidak adil untuk Andrew. Niat ingin menengkan pikiran dan membawa pekerjaan ke luar kantor, yang ia temui adalah sesuatu hal yang membuat hatinya tambah nyeri. Tanpa pikir panjang, Andrew berjalan cepat menuju meja Jemima dan Jovic. Sedang Jo yang memanggil-memanggil namanya tidak ia hiraukan sama sekali.   “Menikmati hari, Jemima?” Suara rendah Andrew membuat Jemima menegang di tempat. Walau sama terkejutnya, Jovic tetap bersikap biasa, menyilangkan tangannya di depan d**a sedang sudut bibirnya tertarik sebelah. “Apa yang kau lakukan bersama pria ini?” Andrew menuding Jovic dengan dagunya.   “I-ni tidak seperti apa yang kau pikirkan, An,” sela Jemima. Keributan di antara mereka menarik perhatian beberapa pengunjung.   “Memangnya apa yang aku pikirkan, Jemima?” tantang Andrew, masih dengan suranya yang rendah. “Cepat ikut aku pulang!” perintah Andrew.   “Hey, Bung!” Jovic berdiri, menahan bahu Andrew yang akan meninggalkan meja. “Jangan mencengkeram tangan Jemima terlalu kencang. Kau membuatnya takut,” ujar Jovic.   Andrew menggeram. “Jangan ikut campur urusanku dengan Jemima!”   “Ini urusanku juga,” kilah Jovic.     Jemima, perempuan yang tidak mau membiarkan keributan pun ambil bagian dengan menghentikan aksi perdebatan kedua lelaki dewasa itu. “Jovic, bairkan aku pergi dengan Andrew,” katanya sebelum Andrew hendak bersuara. Secara terang-terangan Jovic memperlihatkan raut tidak setuju. Jemima kembali berujar, “Aku akan baik-baik saja.” Kemudian Andrew menarik tangannya menuju mobil.   Sedangkan Jo yang sedari tadi seolah melihat drama televisi hanya bisa menghela pasrah. Andrew yang membuat keributan, tapi dia yang merasa malu. Semangat bekerjanya pun meluruh seolah terbawa angin. Jo memilih membereskan peralatan kerjanya dan juga Andrew. Saat pelayan membawa pesanan makanan, lelaki itu segera membayarnya tanpa mencicipi satu pun makanan yang tersaji. Berbalik pergi, Jo disalip oleh orang tadi yang bersama Jemima. Dalam hati ia terus menggumam, ada-ada saja hubungan temannya dan Jemima.   * * * Andrew sedikit mendorong bahu Jemima untuk membuatnya terduduk di kursi penumpang samping kemudi. Tangisan perempuan itu sedikit pun tak membuatnya gentar, malah kian penggar. Mobil hitam Andrew bergabung di jalan raya.   “Ada apa sebetulnya denganmu, An?” Suara Jemima yang pelan bergetar ketakutan. Pasalnya, Andrew mengemudi dengan cukup kencang. Jemima beringsut, berharap jok yang ia duduki mampu menelannya bulat-bulat.   “Kurasa pertanyaannya itu lebih cocok aku tanyakan kepadamu,” balas Andrew tanpa mengurangi kecepatan. “Apa yang kau lakukan dengan pria itu?”   Jemima menatap tak percaya ke arah Andrew. “Kau berpikiran negatif kepada tunanganmu sendiri?”   “Manusiawi”   “Ya Tuhan, Andrew, kami hanya makan malam. Dan kami berteman, bahkan bersahabat. Tidakkah kau mengerti itu?”   Andrew menghentikan mobilnya di tepi jalanan yang lengang. Matanya terpejam erat sedang tangannya mencengkeram kemudi. Ia mengembuskan napas kasar, kemudian menghadap Jemima seraya berkata, “Aku cemburu, Jemima, karena aku mencintaimu.”   Jemima masih tersedu. Sesuatu di sudut hatinya menghangat, tapi pikirannya ingin sekali memberontak pada Andrew. “Jovic akan mengantarkanku pulang, An, sebab kau tidak kunjung menjemputku,” alibi Jemima.   Tubuh Andrew meluruh. Ia tidak mengabari Jemima dahulu. Dengan sesal, Andrew berkata, “Aku bersalah, Jemima,” akunya. “Aku ada kepentingan dan sedikit masalah yang membuatku cukup kacau. Aku sengaja mematikan ponselku dan melarang Jo untuk mengabari siapapun. Karena butuh penyegaran, aku mengajak Jo bekerja di luar kantor. Tapi ternyata aku bertemu denganmu dan juga Jovic di tempat yang sama.” Lagi-lagi embusan napas Andrew terdengar berat. Lelaki itu meneguk ludahnya sebelum bertanya, “Berapa lama kau menungguku?”   “Hanya dua jam,” balas Jemima.   Andrew menggigit bibir bawahnya lalu memukul-mukul setir dengan brutal. Ia merasa telah menjadi lelaki terbodoh yang meninggalkan kewajibannya. Bagaimana jika sudah menikah nanti? Sementara tangis Jemima yang sempat mereda kembali pecah. Andrew sama kacaunya dengan dia. Dengan penuh kehati-hatian, tangan Jemima terulur memegang bahu Andrew. Seketika lelaki itu menghentikan aksi gilanya. Pandangan mereka bersirobok. “Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Jemima. Kau pasti akan sulit memaafkanku, tapi aku akan melakukan apa pun untukmu.”   Jemima tertunduk. Wajah rupawannya yang dibanjiri air mata tertutup oleh rambut. Beberapa menit mereka membisu, hingga Jemima mengangkat wajah dan mendapati Andrew yang menatapnya penuh harap. “Aku sudah memaafkanmu, An,” bisiknya. Tanpa aba, Andrew merengkuh tubuh Jemima. Betapa berdosanya ia telah berpikir negatif terhadap Jemima. Andrew hanya memenuhi perintah instingnya, tanpa melihat bagaimana sakitnya Jemima. Saat itu yang terpintas, betapa tidak pengertiannya Jemima yang tertawa bersama lelaki lain padahal Andrew sedang merasa kacau karena pekerjaannya. Padahal, di balik itu semua, Andrew yang bersalah. Jika ia menjemput Jemima, Andrew tidak akan melihat tangisan perempuan itu malam ini.   Diusapnya bekas air mata di pipi Jemima. Andrew mencoba melemparkan sesimpul senyum. Selanjutnya perkataan Jemima membuat sudut hatinya tersentil. “An, jika kau sedang ada masalah, beritahulah aku. Aku ingin menjadi orang pertama yang tahu masalahmu. Jangan senang saja kau menghubungiku, tapi pahit pun, kau harus ingat aku. Masalahmu adalah masalahku. Kau pernah bilang begitu, bukan?”   Andrew merasa kekanakan di usianya yang dewasa. Ia mengangguk pelan. Semua yang Jemima katakan adalah benar adanya. “Aku akan mengantarkanmu pulang,” imbuhnya. Jemima mengusap lengah atas Andrew. Mengangguk kecil tanda setuju. Kemudian mobil hitam Andrew melesat normal membelah jalanan New York.   * * *   Keesokan harinya, pada akhir pekan, pagi-pagi sekali Andrew mengirimi Jemima pesan bahwa hari ini adalah jadwal mereka mencari baju pengantin. Waktu pernikahan semakin dekat, dan Jemima merasa masih tidak percaya dengan kenyataan itu.   “Ya, aku akan bersiap-siap.” Jemima membalas pesan Andrew di ponselnya.   Perempuan itu melenggang ke kamar mandi, memakai baju terusan ungu muda yang begitu indah di tubuhnya, kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan setelah berhias. Pagi itu Jemima tidak berniat untuk bergelut dengan kompor dan kawan-kawannya, karena sarapan kali ini cukup dengan sehelai roti tawar dan segelas s**u. Bel apartemen berbunyi. Jemima yang hendak mendudukkan diri di kursi makan mengurungkan diri. Perempuan itu sedikit berlari kecil mencapai pindu depan. Andrew telah siap dengan kaus Polo hitam dan celana panjang kasualnya. Ia terlihat tampan.   “Selamat pagi, Sayang,” sapa Andrew. Perempuan itu merengkuh pinggang Jemima seraya mencium bibirnya sekilas. Jemima terkekeh. Andrew begitu menggemaskan dan menggairahkan di waktu yang bertepatan. “Pagi juga, Andrew,” balas Jemima. Bukannya senang, laki-laki yang telah berjalan seenaknya ke dalam apartemen Jemima itu malah menekuk bibirnya. “Ada apa denganmu?” tanya Jemima sedikit geli.   “Aku ingin mendengarmu memanggilmu sayang,” kesal Andrew. Dia telah duduk di salah satu kursi di meja makan.   Jemima mengedik, tidak terlalu memikirkan ucapan Andrew. “Sejak kapan kau peduli soal panggilan?” tanyanya sembari mengolesi roti dengan selai kacang kesukaan Andrew.   “Sejak aku selalu mengatakan cinta padamu,” sahut Andrew, tersenyum menggoda ke arah Jemima. Tangan pria itu bahkan telah mengelus-elus ujung rambut Jemima.   Pipi Jemima yang sudah menggunakan perona tambah memerah. Hanya ucapan ringan seperti itu mampu membuatnya melambung dan lupa dunia. Mencoba abai, Jemima memberikan roti selai kacang kepada Andrew. Setelahnya tak ada percakapan, karena mereka sudah memiliki janji temu dengan perancang baju beberapa menit lagi.   “Ayo kita berangkat.” Andrew menawarkan lengannya untuk Jemima gandeng. Mereka keluar, berjalan menuju parkiran apartemen.   Tanpa menempuh waktu yang lama, keduanya sampai di tempat tujuan. Letak apartemen Jemima memang setrategis. Sengaja, jika ia butuh keluar atau berjalan-jalan tanpa Andrew, tunangannya itu tidak akan merasa khawatir.   “Silakan, Tuan, Nona,” sapa seorang wanita yang tampak cantik. Dia tersenyum ramah amat profesional. Dibimbingnya Jemima dan Andrew menuju pakaian pengantin yang paling baru dan berkelas. “Sesuai apa yang Anda pesan.” Perempuan berpakaian modis itu memperlihatkan sepasang baju pengantin yang disimpan di tengah-tengah ruangan.   Jemima menutup mulutnya, berjalan terburu menghampiri baju pengantin putih yang simpel namun mewah. Jemima menatap Andrew dan perempuan itu---yang Jemima terka adalah perancang busana pengantinnya---dengan mata berkaca dan bibir yang terus menggumam kata “mengagumkan”.   “Sangat sesuai dengan ekspektasiku, Lily,” komentar Andrew. Lelaki itu mengangguk-anggukan kepalanya ke arah Lily. “Kau berhak mendapatkan bonus,” lanjutnya.   Lily luar biasa senang. Entah karena pujian atau uang bonus yang akan menambah nominal uangnya. “Aku selalu mengerjakan sesuai pesanan,” tanggapnya. “Ayo, Nona, silakan coba bajunya.”   Jemima mengikuti langkah Lily yang membawanya menuju ruang ganti. Lily memberikannya senyum sebelum meninggalkan Jemima seorang diri. Setelah mengganti pakaiannya, Jemima bercermin. Pipinya begitu merona. Ini pakaian yang luar biasa indahnya. Menarik napas sekali, Jemima memunculkan diri di depan Andrew yang ternyata sudah berganti. Kini pakaian mereka serasi. Keduanya saling melemparkan tatapan takjub yang amat kentara.   “Kau begitu cantik, Jemima,” puji Andrew.   “Kau juga.”   “Heh, jangan samakan aku dengamu ya. Aku tampan, bukan cantik,” protes Andrew.   Dering telepon di dalam tas Jemima membuyarkan fantasi mereka. Andrew menggerutu samar. Dalam bayangannya, Jemima dan ia telah naik ke atas pelaminan dan akan melakukan ciuman. Jemima berjalan ke arah meja yang tak jauh dari mereka guna mengambil ponsel. “Ibu,” bisik Jemima ketika Andrew berdiri tepat di sampingnya.   Jemima menerima panggilan video dari Ruth Copper, ibunya. “Halo, Bu. Bagaimana kabarmu?” singkap Jemima. Tampak wanita berumur yang masih begitu cantik memnuhi layar ponsel. “Di mana ayah, Bu?” tanyanya.   “Hai, Nak. Aku baik,” balas Ruth. Ia melanjutkan, “Ayahmu sedang ada urusan di kampus. Kau tahu? Akhir-akhir ini dia sibuk sekali mengurusi mahasiswa akhir semester.”   Ayah Jemima, Thomas Copper, merupakan dosen  senior di salah satu universitas kenamaan di California. Sedangkan ibunya merupakan wanita modis mantan model yang masih eksis dengan teman-temannya yang tengah mengelola bisnis kosmetik. Kedua orang tuanya tinggal di California. Karena terbentang jarak dan kesibukan, mereka tidak bisa menemani Jemima dan Andrew memilih baju pengantin.     “Selamat pagi Mrs. Copper,” sapa Andrew. Ruth sedikit terjengit lantaran pemuda itu secara tiba-tiba muncul di layar ponselnya. “Cantik sekali pagi ini.” Andrew memberikan Ruth senyuman yang paling menawan. Biasanya para wanita muda langsung ingin pingsan jika melihatnya.   “Oh, Andrew, kau mengagetkanku!” seru Ruth. Jemima yang melihat ibunya memegang d**a, langsung memukul lengan atas Andrew. “Jangan menggoda wanita tua, Andrew. Senyummu tidak ada apa-apanya daripada senyum suamiku,” kesalnya. Andrew terkekeh, tapi segera bungkam karena Ruth memelototinya dengan galak.   “Seingatku hari ini kau akan memilih baju pengantin. Aku ingin melihat pilihan kalian. Layak ataukah tidak untuk acara nanti.” Ruth berkata pada Jemima. Diam-diam Andrew memutar bola mata.   “Iya, Bu. Aku tengah memakan gaun pengantin sekarang,” pamer Jemima. Perempuan itu memberikan ponselnya pada Andrew agar menyoroti pakaiannya dari atas hingga bawah.   Tidak ada ekspresi berarti yang lazim seorang ibu utarakan pada anaknya yang tengah mencoba baju pengantin. Ruth justru melipat dahinya, lalu berbicara, “Apakah kau sudah memastikan kalau ini gaun yang termahal? Aku tidak mau anakku memakai baju murahan saat pesta pernikahan nanti. Menyedihkan sekali.” Tampak di layar ponsel Ruth mengibas-ngibaskan tangannya.   Andrew terperangah. Ruth meragukan harga gaun semewah dan seindah ini? Perempuan tua itu benar-benar. Jika bukan ibu dari kekasihnya, Andrew dengan senang hati mendaratkan Ruth di Kutub Utara. Sungguh nahas nasibku memiliki calon mertua seperti ini, batin Andrew.       Jemima merampas ponsel yang Andrew pegang. “Apa ibu sedang bercanda? Harga gaun ini pasti begitu mahal,” opiniya, terucap sedikit jengah.   Ruth mengedik tak ambil pusing. Terlihat pada gawainya kalau Andrew menggunakan pakaian senada dengan Jemima. “Kau tidak terlihat keren, Andrew,” komentarnya. Nadanya yang sarat akan merendahkan membuat Jemima meringis tidak enak ke arah Andrew.   Andrew yang sudah hapal dengan perangai calon mertuanya itu hanya bisa mengangkat dua alis. “Kau pasti terlalu gengsi untuk memujiku, Mrs. Copper.”   Ruth mendengus kencang. “Baiklah, Jemima sayang, aku akan menutup panggilan videonya.”   “Baik, Bu.” Sebelum Andrew muncul kembali di layar ponselnya, Ruth segera mematikan panggilan. Andrew menatap layar telepon Jemima yang menghitam dengan malas.   “Maafkan ibu ya,” sesal Jemima.   “Tidak masalah. Aku sudah terbiasa menghadapi ibumu.” Jemima tersenyum mendengar pernyataan Andrew.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD