Suara perbincangan kedua orang itu semakin menjauh dari kebun. Seseorang di kebun itu kini mendengarnya sayup-sayup. Sampai suara itu sama sekali tak terdengar. Dia keluar dari persembunyiannya.
Rasa hausnya begitu menuntut. Tenggorokannya seperti terbakar. Dia mengeluarkan kantung airnya yang terakhir. Tapi sial, hanya tinggal beberapa tetes yang tertinggal dalam kantung air itu.
Oh, kalau saja anak itu (Xheira) tak datang memeriksa tempat ini, tentu aku bisa mencapai keran air itu sebelum para pekerja masuk. Saat ini semua sangat terlambat. Tapi ya ampun, api apa yang menjilati tubuhku hingga aku merasa seperti kering-haus, Api apa yang membuatku kulitku gosong seperti ini?
Orang itu mengendap-ngendap mencari apa yang ia inginkan. AIR. Rasa hausnya melupakan disiplin dirinya. Bahwa dia harus bersembunyi. Air! Air! Air!! Hanya seruan itu yang ada dalam benaknya. Jadi begitu matanya menangkap keran air, dia tak mempedulikan lagi keadaan sekitarnya. Dia bergegas mencapainya dan langsung meminumnya dari sana. Dia lalu mengambil kantung air untuk menampungnya.
“Bunda! Bunda!” terdengar suara langkah bergerak mendekat dari O’shizak.
“Hihihihihi…” Caravik berlari riang menjauhi O’shizak, berlari ke pedalaman kebun. Setetes alcohol pekat yang ia teteskan pada jus apelnya berhasil membuatnya melayang. Dan berhasil membangunkan seratonin di kepalanya hingga ia merasa gembira tanpa alasan.
“Oh.. Bunda.. aku mohon..!” O’shizak terengah mencari Caravik bolak-balik di balik rimbunan pohon buah-buahan .
“Ah, Bunda.. aku harus menyuntikan ini!” Aku harus segera menyunthikan senyawa phenawar ini! Kalau thidak alcohol ithu akan membangkithkan kecanduanmu yang lebih ngeri lagi. Dan yang therphenthing adalah senyawa ini sethidaknya daphath menyelamathkan syarafmu dari phengaruh alcohol. O’shizak terlentang karena lelah. Kesal-jengkel berkombinasi dengan sukses menguapkan keringatnya.
Tak jauh dari O’shizak, tepat dibelakangnya, dibalik rimbunan pohon, Caravik menutup mulutnya menahan tawanya. O’shizak… O’shizak belum phernah bunda ssegembira ini. Bermain denganmu sepherthi wakthu engkau kecil dulu. Hanya dulu kitha berthiga dengan ayahmu, ...Pitharak sejenak Caravik menghentikan kegembiraannya. Ingatannya melayang pada suaminya yang telah meninggal. Kegembiraan yang baru saja muncul segera tenggelam lagi oleh kesedihan.
Caravik melihat kantung air yang tergeletak pasrah disampingnya.
Aku sediih, aku ‘harus’ minum! Seolah hanya itu yang berbunyi dikepalanya. Tangan Caravik mengambil kantung air itu.
Dari persembunyiannya, degup jantung yang mengeras, memompa peluh yang menetes. Meleleh mengaliri permukaan kulit keriput, gosong, beruam, berbintil, bernanah. Otaknya bicara begitu keras, tapi tak ada kata yang terucap.
JANGAN MINUM! Tapi nenek, aku harus bagaimana memberi tahu padanya?
Sebelum orang itu memutuskan untuk kemunculannya, Isi kantung itu telah sukses berpindah ke dalam perut Caravik.
“Bunda!” tiba-tiba O’shizak berkaca pinggang di depan Caravik.
“Fuaaach!” isi mulut Caravik tersembur ke luar karena kaget.
“Apha ini?” dengan gerakan cepat O’shizak merebut kantung air itu. Dia langsung mengendus kantung itu.
“Jangan!” Orang itu tak tahan lagi untuk tak keluar dari persembunyiannya. Dia sengaja menutup kepala pada jubahnya menampakan sebuah wajah yang mengerikan.
“Waaaa!” Caravik langsung mundur, gerakannya siap melindungi O’shizak.
Sejenak ketiga orang itu saling memandang. Diam, tenggelam oleh kengerian yang tiba-tiba menyergap. Lalu tanpa dicegah orang berjubah itu berbalik lari meninggalkan mereka.
“Ya nenek! Apha ithu? Hanthu?” Caravik mencoba mencapai kesadarannya. Alkohol sialan! Aku phasthi sepherthi orang tholol yang melihath hanthu. Ithu thadi thenthu saja bukan hanthu, thaphi manusia sepherhi hanthu… hitham, gosong, dan wajahnya… uuuh… DAN ITHU HANYA DILUSIKU KARENA ALKOHOL INI THELAH MERUSAK KEWARASANKU.
“Bunda lihat dia?” tanya O’shizak lirih
“Ya. Sangat jelas!” kata Caravik berakting sedang dalam keadaan normal.
“Bunda sedang mabuk.” Kata O’shizak mencoba menutupi apa yang baru saja lewat. Orang itu pasti yang diceritakan Kaila dan Xheira kemarin. Dia menyusup di HYDROMATIK ini, membawa penyakit yang mematikan. Dan ya amphun! Bunda thelah menghabiskan minum dari kanthung airnya! Ya Nenek…
“Bunda… kitha harus segera phulang. Kitha harus menemui dokther !” O’shizak menarik tangan Caravik. Mereka bergegas meninggalkan pertanian itu dengan langkah terburu.
***
“Apa? nona bertemu dengan dia?” tanya Kaila-Xheira hampir bersamaan. Di seberang sana – O’shizak mengangguk-angguk memberikan jawaban.
“Bagaimana keadaannya, nona?”
“Seperti apa dia, nona?”
“Nona berkenalan sama dia?”
Xheira bertanya dengan suara memburu. Dia tak bisa yang diam menunggu. Berbeda dengan Kaila yang –seperti biasa- selalu tenang, dalam menghadapi kekacauan.
“Dia therlihath mengerikan, dia sepherthi hanthu, dan aku belum sempahath berkenalan dengannya. thaphi yang phaling mengerikan dari pherthemuan thadi adalah…” wajah O’shizak terlihat pucat. Bicaranya terbata, dan dia jelas terlihat grogi.
“Apa, nona muda?!” tanya Xheira-Kaila tak sabar.
“bunda thelah meminum air dari kanthungnya.” Suara O’shizak lemah.
“Apa?!” suara Xheira-Kaila hampir tak percaya.
“Jadi… nona sudah memeriksakannya?” Tanya Xheira.
“Aku langsung memeriksakannya. Thaphi kalian thahu bukan? Unthuk mengethahui hasilnya baru beberapha jam kemudian, sethelah kuman ithu bethul-bethul bereaksi dengan darah, athau cairan thubuh.”
“Nona bilang apa dengan laborannya?”
“Aku rasa bunda melakukan konthak dengan phenderitha waktu di Hongkong kemarin.” Kata O’shizak mengingat dokter di pusat medis itu mempertanyakan status Caravik, karena Pasien sama sekali tak terlihat sakit.
“Nona, wabah itu kan endemic, bagaimana mungkin sampai di Hongkong? Daerah itu jelas diberi garis merah sejauh radius dua kilometer sebagai tanda karantina sebelum dilakukan eradikasi radikal.” Kata Kaila dengan jeli.
“Aku thak menemukan alasan lain agar bunda bisa segera dipheriksa. aku takut, dan ini DEMI KESELAMAThAN KEHIDUPhAN DI HYDROMAThIK.” O’shizak.
“Oh. Jadi kita belum tahu apa kuman itu menulari atau tidak pada nyonya?” kata Xheira.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Kaila.
“Biasa, dia baru saja phergi main volley.”
“Haaa?” Xheira melongo.
“Tidak ada tanda-tanda demam atau lelah? Konon penyakit itu cukup akut.” Kaila mulai bertanya-tanaya.
“Thaphi kenapha aku yang merasa thak enak badan? Memikilrkan semua ithu rasanya aku phusing.” O’shizak memegang kepalanya yang terasa pening.
“Yaa, tentu saja. Kau bilang kau harus mengawasi nyonya seharian karena dia berhasil minum jus apel beralkohol.”
“Yah, aku harus mengejarnya unthuk menyunthikan senyawa phenethral ini.” O’shizak menunjukan jarum suntiknya.
“Nona, Kerja berat ya? Setelah semalam bertemu dengan Sarimu , Zhorak.” Kata Xheira mengingatkan.
“Ah ya, dia thak mau aku mengganthi phosisimu, Xheira. Aku menyesal, sepherthinya dia memang sengaja.”
“Tamat sudah.” Xheira langsung membanting dirinya di atas kasur.
“Mungkin dia memang thertharik denganmu.” Kata O’shizak dengan perasaan kecut.
“Ah, nona, mana mungkin! Mahluk mewah itu mau melihatku? Bercandalah itu yang sopan, nona. “
“Xheira, kau ithu lucu, baik hathi, jujur, apha adanya, kecanthikanmu ithu therphancar dari dalam. Dan Zhorak dapat melihathnya sejak lama..” Kata O’shizak dengan gemas.
“ah, omong kosong lagi ala Zirac. Nona lupa, aku bukan lady Zirac, yang butuh sanjungan?!” kata Xheira mengundang pelototan Kaila.
“Xheira manis, bicaralah yang sopan, terlebih lagi dia adalah bekas nonamu yang baik hati.” Suara Kaila yang manis mengingatkan.
“Maaf, nona, gaya bicaraku mungkin karena pengaruh Zyeko-Nato.” Kata Xheira menemukan kambing hitam yang tepat.
“Jangan bawa-bawa mereka!” Kaila mengingatkan
“Sssssttthh… sudah laaa. Inthinya Zhorak ithu thertharik phadamu, dan ithu thak mengejuthkan aku.” Tapi itu membuatku thak suka, Xheira. O’shizak menarik nafas. Kepalanya berdenyut. Yayayaya, aku jatuh cinta, bertepuk sebelah tangan karena Xheira si gadis bekas b***k nan culun telah curi hatinya lebih awal.. Lalu semua itu membuatku pening.
“Bila Zhorak, tertarik dengan salah satu dari kalian, sebenarnya sama berbahayanya.” Kata Kaila akhirnya.
“Bagaimana mungkin, sekaliphun bekas b***k, Xheira ithu ‘gadis biasa’, berbeda dengan aku yang manklon dan stheril.” Kata O’shizak membuat Xheira mengangguk-angguk.
“Justru itu, Xheira itu gadis BIASA. Bukan ‘seseorang ‘. Apalagi seseorang lulusan dari Sekolah Mix Universik[1]! Anak seorang Zirac atau tokoh terkenal, kaya raya.” Kata Kaila dengan suara berdesis karena gemas dengan kepolosan Xheira.
O’shizak dan Xheira terdiam.
“Sebanarnya sejauh mana bahayanya?” tanya Xheira masih tak mengerti.
“Minimal kamu mendapat celaan. Kejahatan yang diciptakan para gadis yang merasa tak menerima, dari Byjak sendiri pasti hanya menerimamu sebagai selir bagi Zhorak. Tak ada status SAH untuk seorang pasangan dari warga biasa. Kalau pun kau menerima posisimu sebagai selir, kau tetap akan menghadapi penghinaan dari keluarga yang lain. Belum lagi pandangan kami atas dirimu.” Kata Kaila membuat Xheira diam.
“Keadaan Zhorak sendiri mungkin tak kalah mengenaskannya. Dari dikucilkan sesama Zirac , dicoret sebagai pewaris kerajaan Byjak, sampai diusir dari HYDROMATIK ini, atau dibuang di suatu tempat tanpa akses ke kehidupan sosial yang normal.” Kaila menutup bicaranya dengan mnyesap kopi hangatnya.
O’shizak memijit kepalanya. Ia tak percaya keterangan sesederhana itu membuatnya pening.
“Nona, kenapa, kau baik-baik saja?” tanya Xheira melihat wajah O’shizak memucat.
“Aku tak keberatan kok kalau kamu mau meneruskan pertunanganmu.” Kata Xheira pasrah. Daripada aku menghabiskan sisa hidupku dengan penderitaaan.
“Aku phusing, mungkin karena aku therlalu caphai. Oke! Samphai nanthi lagi. Aku ingin isthirahat..” Dan hubungan terputus setelah terdengar suara BIP.
“Eh… tentang si kuman itu bagaimana, Kaila?” tanya Xheira setelah beberapa lama terdiam.
“Dia itu bukan kuman, dia pembawa-karir-hospes- dan dia pasti punya nama.” Kata Kaila mengingatkan.
“Ah, siapapun dia, tapi benar kan kalau dia berbahaya? Dan dia gentayangan di HYDROMATIK ini menyebarkan kumannya.” Kata Xheira memeluk bantalnya yang mungil dengan erat.
“Hmmm.” Kaila hanya bergumam. Jadi akan seperti apa HYDROMATIK ini dengan tebaran kuman di mana-mana?
“Orang itu kalau tak dihentikan…” bisik Xheira ngeri. Matanya menerawang pemandangan laut di depan mereka.
“Bukankah selama ini tak ada yang menghentikan langkahnya?” kata Kaila mengingatkan sesuatu yang membuat Xheira menggigit bantal mungilnya.
“Ah, Kaila… kita harus bagaimana?”
“Dia sendirian, dan sedang sakit. Bila HYDROMATIK menemukan dia…”
“HYDROMATIK akan heboh dan membuat warga di sini panik. Kau tahu kita ada di mana? “ tanya Kaila. Xheira hanya menggeleng.
“Samudra Pasifik. Bila terjadi kepanikan karena isu virus mematikan itu ada di HYDROMATIK, warga akan berebut-menuntut untuk kembali ke permukaan. Kau bisa membayangkan proses penyelamatan seperti apa?”
“Berebut sekoci? “ Xheira menduga-duga.
Kaila hanya diam menatap laut.
“Berebut tali yang terjulur dari heli penyelamat?”
Kaila masih diam.
“Aduuuh Kaila, jangan diam saja… kalau kamu diam biasanya kamu memikirkan hal yang lebih mengerikan.” Xheira mulai mengguncang tubuh Kaila. Mambangunkan temannya yang hanya diam.
“Seisi HYDROMATIK ini mungkin akan berlari-lari panik mencari si biang kuman. “
“Maksudmu…” perasaan Xheira jadi tak enak.
“Bukankah membunuh hospes salah satu metode eradikasi dalam epidemiologi.”
“Ya ampun, Kaila!” Xheira terkejut, ia berdiri dengan kaku menghadap Kaila yang masih duduk.
“Jadi bayangkan bila kuman telah menyebar, dan semua orang bertindak sebagai hospes.” Kata Kaila menatap dingin Xheira.
“Kamu mau bilang bahwa akan banyak kematian selain karena penyakit misterius itu?” Xheira mendudukan lagi dirinya di kursi. Bantalnya yang mungil ia peluk erat, dan ia gigit yang kuat.
“Hmmm.” Jawab Kaila datar, tapi membuat Xheira melorot dari kursinya karena takut menyergap.
“Jadi, sebelum terlambat, kita harus menemukan si kuman itu? Menyembunyikannya sambil menolongnya. Mencarikan dokter yang mampu menyembuhkannya? Mengobatinya?” tanya Xheira dengan lemah.
“Hmmm…” jawab Kaila datar.
“Bagaimana mungkin, dan siapa dokter yang mampu dan mau menolongnya?” tanya Xheira semakin gelap.
“Aku? kau lupa, aku mempunyai kemampuan belajar cepat?” Kaila mengedipkan matanya.
“Gila kamu!”
“Oh Xheira manis… gayamu bicara sudah tak ada bedanya dengan si Zyeko dan Nato.”
“Kaila manis (mansis), kamu sudah gila apa?” tanya Xheira dengan intonasi lebih lembut, seolah dengan menambahkan ‘manis’ bahasanya sudah lebih sopan.
Kaila hanya tersenyum.
“Selama ini aku tak pernah salah, kan?” tanya Kaila.
“Tak pernah. Tapi kamu gila! Maksudmu kita akan mencarinya, menyembunyikannya di kamar ini? Lalu berusaha menyembuhkannya? Kamu GILA! GILA! GILAAAAAAA….” Xheira bangkit dan berjalan bolak balik dengan mendekap bantal mungilnya.
“Jadi kamu punya pilihan lain?” tanya Kaila dengan tenang menantang Xheira.
“HUH! Pikirkan semuanya! Aku tak ingin menjadi buruk rupa lalu mati cepat.” Kata Xheira akhirnya. Dia sadar tak ada pilihan apa pun.
“Kaila… aku ingin pulang… huuuu… hua… huaa…” Xheira tak dapat dapat lagi menahan tangisnya.
“Pulang ke mana?” tanya Kaila sama ngilunya. “Di sinilah rumah kita!”
“Huaaaa... huaaa...”
Kaila mendekati sobatnya. Dia memeluk Xheira dari samping. Dan mengelus punggungnya dengan lembut.
“papap... mamaaamm...” Xheira tertawa dan menangis nyeri. Mentertawakan nasib mereka berda yang tak memiliki orang tua dan rumah.
Kaila menarik nafas sedih. Sering dia bingung dengan sikap Xheira.
“Kaila, cepatlah berpikir agar kita tak sampai ketularan sebelum menolongnya.” Pinta Xheira lirih.
“Hmm, kalau begitu biarkan aku belajar!”
“Oke jenius!”
Keduanya terdiam. Menatap laut yang yang selalu bergerak.
***
[1] SMU, Sekolah Mix Universik = sekolah asrama untuk elit para Zirac, yang bertujuan menjadikan gadis-gadis Zirac menjadi lady Zirac yang berkualitas.