Meisya telah mengenakan pakaian khusus untuk memasuki kamar ICU di mana Asih terbaring lemah, sementara di luar sana Qinara masih menangis meminta ikut dengan Meisya untuk menemui ibunya. "Sayang, Qinara sama Eyang dulu, ya." Nenek Qinara mendekatinya mengulurkan tangan untuk mendekap sang cucu. "Enggak mau, aku mau sama Bunda sama Tante Sya, aja!" jawab Qinara menolak ajakan sang nenek yang menatapnya prihatin, air mata mengalir pipi tuanya. "Bentar, ya, Sayang. Tante Sya mau ngobrol sebentar sama Bunda," bisik Naka pada putrinya. Mereka menatap ke arah ranjang Asih di mana Meisya baru saja masuk dan duduk di sebuah kursi tepat di samping ranjang itu, Meisya tersenyum lalu menggenggam tangan Asih yang terlihat sangat lemah, jari-jarinya tampak membengkak. "Mbak Asih, semangat, y

