"Terima kasih." Samuel tersenyum miring penuh misteri, mendengar ucapan terima kasih Meisya. "Enggak gratis, sepotong dua puluh lima ribu. Apalagi ini yang dibuat dengan cinta, enggak ternilai harganya," ujar Samuel sepertinya ia memang tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan. "Sandwich yang dibuat penuh cinta, tidak ternilai harganya hanya bisa dibayar dengan cinta juga, gitu maksudnya?" tanya Meisya seraya mengunyah makanannya. "Siapa bilang dibuat penuh cinta?" tanya Samuel ketus. "Tadi, Kak Sam, sendiri yang bilang," jawab Meisya yang merasa tidak terima karena Samuel sendiri melupakan apa yang sudah ia ucapkan. "Ih, enggak!" kilah Samuel seraya berjalan meninggalkan Meisya yang masih duduk memakan sandwich nya, tadinya dia berpikir jika Samuel meninggalkannya kembali ke kam

