Samuel menarik masuk tubuh Meisya ke dalam kamar lalu menutup dan mengunci pintunya dari dalam, Meisya masih tergemap di tempat menatap sang suami yang tampak sangat emosi ia tidak berani membuka suara bahkan hanya untuk menanyakan ada apa dengannya. Samuel membalikkan tubuhnya menatap Meisya yang berdiri dengan kedua tangan menggantung di kedua sisi tubuhnya. Meisya tidak pernah merasakan ketakutan seperti ini sebelumnya, rasa takut pada suaminya sendiri meskipun selama ini Samuel tidak pernah memperlakukan selayaknya seorang istri tetapi Samuel juga tidak pernah berlaku kasar padanya. Kedua mata Samuel tajam menatap mata Meisya hingga wanita itu bisa melihat bayangannya sendiri pada iris mata kecoklatan itu, tidak ada bibir Samuel yang tersenyum, bibir yang baru beberapa saat lalu

