"Nah ini dia yang di cari-cari" seru Basir yang sedang duduk di teras Studio saat melihat Billy berjalan ke arahnya.
Basir pemuda sepantaran Billy asal Kuningan, Jawa Barat, merupakan anak buah Bang Imran yang sudah bekerja selama hampir 5 tahun di Studio Sablon Bang Imran, dia tinggal sekalian juga jaga Studio Bang Imran ini.
"Bisa aja loe Sir, belum juga gua duduk loe udah bikin gua senang" canda Billy cengengesan.
"Ada orderan ya sampai gua di cari-cari ?" tanya Billy sambil duduk di samping Basir.
"Orderannya udah kelar subuh tadi, loe di telpon-telpon enggak aktif telpon loe, si Mila juga tadi kemari nyari loe, dia sama Ibunya dari semalam juga telpon-telpon loe, enggak nyambung-nyambung katanya" jelas Basir sedikit melirik kesal ke Billy.
"Astaga...iya, HP gua ketinggalan di Pos Ronda dekat Pangkalan Parkir kemarin, gua cas, sampai rumah baru gua ingat kalo HP itu ketinggalan" ungkap Billy mencoba tersenyum manis ke Basir.
"Tapi enggak hilang kan ?" tanya Basir.
"Gua yakin enggak, ada Ruli sama Bejo pasti yang simpankan" jawab Billy tenang.
"Mila tadi kemari nyari gua ?" Tanya Billy dengan raut senang.
"Pasti ada orderan lagi nih" sambungnya.
"Girang loe, gua nih yang sakit kepala, Mila ketok-ketok pintu enggak berhenti sampai gua bukain pintu, untung saja dia cantik, kalau enggak, gua marahin tuh anak, loe bayangin Bil, gua baru tidur jam 5 lewat tadi subuh, ekh...dia datang-datang bangunin jam 7 pagi, mana berisik banget lagi, bikin sakit kepala tau, mana gua berusaha tidur sudah enggak bisa, gara-gara loe nih" cerocos Basir sambil menghisap rokok di tangannya.
"Hahaha.......Maaf bosku, kalau calon istri aku mengganggu tidur bosku yang ganteng ini" goda Billy yang tangannya sudah mengambil sebatang rokok milik Basir di depannya.
"Hallah......calon istri, emang loe berani jadiin dia istri ?"
"Bisa ngomong ke dia kalau loe mau jadiin dia istri saja pasti loe udah takut, belum mau ngomong sama Ibunya" ledek Basir membalas candaan Billy.
"Pandang enteng nih bocah, di pikir gua enggak berani apa ?" tanya Billy menantang.
"Emang loe berani ?" balas Basir.
"Enggak lah" jawab Billy yang langsung di timpa tawa mereka berdua.
"Udah sana loe ke tempat calon mertua loe, entar loe di tinggal lagi" saran Basir mengingatkan.
"Hust....jangan keterusan becandanya, entar di dengar orangnya, bisa enggak di panggil lagi gua kalo ada orderan macam begini" kata Billy tersenyum sambil berdiri bersiap meninggalkan Basir.
"Ya sudah, gua berangkat kesana ya, Terima kasih lho Sir" kata Billy.
"Iya, sama-sama, ambil HP loe dulu sana" saran Basir lagi.
"Sebentar baru gua ke pangkalan, gua ke tempat Bu Ijah dulu" ujar Billy.
"Terima kasih juga ya rokoknya" sambung Billy tersenyum nakal ke Basir sambil berjalan menjauh.
"Iya iya, sama-sama" sahut Basir yang juga tersenyum ringan melihat Billy yang sudah berlalu dari hadapannya, Basir sudah mengerti dengan karakter Billy yang suka bercanda, buat dia Billy pemuda yang asyik di ajak ngobrol, Billy itu macam orang yang tidak ada susahnya menurut Basir.
#
"Untung kamu sudah datang Bil, dari semalam di hubungi, hampir saja aku yang harus bawa mobil catering ke tempat acaranya" sambut Mila ketika Billy tiba di depan rumahnya.
"Sekali-sekali enggak apa-apa lah Mil" canda Billy lagi-lagi dengan senyum nakalnya.
"Maaf, HP aku ketinggalan di Pangkalan Parkir kemarin" jelas Billy tanpa di tanya.
"Iiih.....enggak ada yang tanya juga, Bang Basir ya yang beritahu ke kamu ?" sekenanya saja Mila pura-pura bertanya.
Billy tersenyum sambil mengangguk lucu di depan Mila.
"Nih kunci mobilnya, jangan laju-laju ya" kata Mila sambil memberikan kunci mobil Pick Up ke Billy.
"Ciee cieee.....perhatian ni yeee..." canda Billy masih dengan senyum nakalnya.
"Hadeh.....aku khawatir sama sayur-sayurnya, kalau kamu laju-laju nanti sayurnya tumpah" balas Mila dengan memonyongkan bibirnya.
"Perhatian juga enggak apa-apa kok, aku enggak marah, sumpah" canda Billy menunjukkan simbol dua jari di tangannya ke samping wajahnya.
Mila cuma memasang raut mengejek membalas perkataan Billy.
"Ekh.....terus HP kamu enggak hilang kan ?" tanya Mila penasaran.
"Enggak lah, mana ada yang berani ambil HP Billy jangkung" seloroh Billy bercanda.
Postur tubuh Billy memang agak tinggi di bandingkan pemuda-pemuda di kawasan tempat tinggal mereka ini sehingga dia sering di panggil Billy jangkung.
"Gaya kamu.....kalau hilang baru kamu tobat" ledek Mila.
"Pasti si Bejo atau si Ruli yang sudah mengamankan" senyum Billy tenang ke Mila.
"Syukur deh kalau begitu, aku masuk ya" kata Mila sambil berlalu tanpa menunggu tanggapan Billy.
Milandari, anak Bu Ijah Mahasiswa tingkat akhir di Perguruan Tinggi Institut Seni di kawasan Cikini, dekat tempat tinggal mereka, gadis berusia 23 tahun yang di kenal Billy sejak mereka masih kecil, rumah mereka memang berada di kawasan yang sama, namun rumah kontrakan Billy dan keluarganya berada di gang yang agak masuk lebih ke dalam, Billy lahir di kawasan ini, sehingga dia benar-benar hampir mengenali situasi dan orang-orang di kawasan itu, begitu pula Bu Ijah sangat mengenali Billy, pernah waktu Billy kecil, Billy terjatuh dan tersangkut di Pohon Mangga milik depan rumah milik Bu Ijah ketika Billy dan teman-temannya mencoba mengambil mangga itu tanpa pamit ke pemiliknya, Pak Sofyan, suami Bu Ijah lah yang membantu menurunkan Billy dari pohon, Bu Ijah dan Mila kecil malah menertawakan Billy saat itu, apalagi ketika mengetahui ternyata teman-teman Billy sudah lari meninggalkan Billy ketika Pak Sofyan, Bu Ijah dan Mila keluar melihat mereka yang ribut karena Billy jatuh dan tersangkut di pohon itu, akhirnya Billy malah pulang dengan membawa sekantongan mangga dari Bu Ijah, teman-temannya jadi cemburu mendengar cerita itu keesokan harinya.
Billy sudah bersiap di kursi kemudi, dia tidak lagi membantu mengangkat barang-barang catering seperti biasanya karena ketika dia tiba, barang-barang yang akan di bawa sudah masuk semua ke dalam bak tertutup mobil Pick Up itu, tinggal menunggu Bu Ijah masuk ke dalam mobil mini bus milik Bu Ijah yang satunya lagi maka mereka akan segera berangkat, di dalam mobil mini bus itu sudah ada 3 orang pegawai catering Bu Ijah yang sudah siap sedari tadi, Billy di temani Herman di mobil Pick Up, Herman pegawai laki-laki satu-satunya di Catering Bu Ijah, Billy dan Herman memang biasanya yang mengendarai Mobil Catering ini, pegawai lainnya naik di mini bus itu bersama Bu Ijah, di mobil mini bus itu, bu Ijah lah yang menyopiri, karena ke empat pegawai cateringnya belum ada yang bisa membawa mobil, Herman selalu saja mengatakan tidak berani kalau Billy hendak mengajarinya membawa mobil, pernah sekali Herman sudah duduk di kursi kemudi, saat itu tengah malam, Billy sengaja memilih waktu tengah malam, karena pada waktu itu jalanan di kawasan mereka tinggal cukup sepi sehingga menurut Billy aman untuk di gunakan belajar berkendara, saat hendak star, persneling sudah di masukkan di angka 1, tiba-tiba gas meraung sangat tinggi dan mengeluarkan suara yang cukup berisik, Billy tetap kelihatan tenang karena tangan Billy memang sudah bersiap di gagang Rem Tangan walau pun dia belum menariknya, ternyata ketika Herman menginjak pedal gas, kakinya masih terus menginjak pedal kopling, bunyi gas yang meraung itu membuat Herman tambah panik, melihat Herman panik Billy menarik tuas Rem tangan, kemudian menormalkan posisi persneling dan meminta Herman untuk mengangkat pelan-pelan kaki kanannya di lanjutkan dengan mengangkat kaki kirinya, sejak saat itu Herman tidak pernah lagi mau di ajak belajar mengemudi, walau pun Billy sudah berusaha menggambarkan kalau hal seperti itu hal yang biasa buat orang yang baru pertama belajar mengemudi, Herman sudah terlanjur trauma, jadinya Billy tetap lah menjadi the one and only driver kesayangan Catering Bu Ijah.
#
"Yah.....bocah borju baru nongol" sambut Bejo yang sedang duduk di salah satu motor yang sedang parkir ketika Billy menepuk pundaknya dari belakang.
"Bocah borju ?" tanya Billy heran.
"Baru kali ini gua denger loe nyebut gua bocah borju, biasanya juga jangkung" ucap Billy sedikit penasaran.
"Iya lah, loe kayaknya lagi borju nih sekarang, enggak ngajak-ngajak" kata Bejo senyum-senyum ngeledek.
"Borju apaan Bejo, Burjo iya, Bubur Kacang Ijo" timpa Billy bercanda.
"Masih enggak ngaku juga nih kodok" balas Bejo bercanda.
"Apaan sih Item ?" tanya Billy penasaran.
"Ekh....tunggu dulu, HP gua loe pada amanin enggak kemarin ?" tanya Billy lagi.
"Ada tuh sama si Ruli, tapi dia lagi beliin bubur ayam buat emaknya dulu, bentar kesini lagi" jawab Bejo.
"Tadi ada yang nyariin loe, tegap-tegap Bil, rapi-rapi, pake jas hitam semua, ada kali 4 orang sama yang di dalam mobil" cerita Bejo ke Billy.
"Hah ?" Bengong Billy mendengar cerita Bejo.
"Mobilnya kayaknya mahalan tuh"
"Mereka nanya Pak Billy Bramantyo Sastrodinata dimana, biasanya dia disini kan Pak"
Billy tertegun, dia dan keluarganya tidak pernah menggunakan nama Sastrodinata selama ini, itu nama Bapak dari Bapaknya, Kakeknya, suami dari Neneknya yang sekarang bersama dia dan Ibunya. Teman-temannya memang tidak pernah tahu nama itu karna di akta lahirnya pun nama itu tidak tercantum sehingga nama itu tidak pernah terbawa di data administrasi namanya, namanya hanya Billy Bramantyo.
"Baru tau gua nama lengkap loe segitu, macam nama orang beken ya nama loe"
"Terus si Ruli tuh yang nge jawab, emang biasa disini kata si Ruli tapi sekarang belum datang"
"Gua sama Ruli sih yakin kalo itu bukan polisi"
"Nanyanya sopan, enggak di tegas-tegasin gitu"
"Minta nomor telpon loe, si Ruli kasi lah"
"Orang Gua sama Ruli pikir orang-orang ini pasti dari Perusahaan tempat loe ngelamar pekerjaan"
"Berati loe ke terima tuh, sampai di cariin begitu sama orang perusahaannya"
"Wah....bakal jadi orang kantoran loe"
"Selamat ya Bil, jangan sampai loe lupain kita-kita disini, loe enggak bakal lupain kita kan ?" tanya Bejo serius yang sedari tadi nyerocos melulu.
"Apaan sih ?" tanya Billy bingung.
Sudah satu tahun lebih dia tidak pernah memasukkan surat lamaran pekerjaan kemana-mana, apalagi ke Perusahaan, dia sepertinya sudah bosan dengan jawaban "posisi yang bapak lamar sudah terisi" padahal baru saja tadi dia baca baru di terbitkan pengumumannya di iklan Lowongan Kerja (Loker) di koran, di mana untuk koran yang sama, kemarinnya pengumuman itu belum ada di iklan Lokernya. Setahu dia kalau mau ke terima kerja sekarang, biar gampang katanya, harus daftar di Agen Pencari Kerja, nah daftar di Agen Pencari Kerja itu harus bayar uang pendaftaran, buat Billy, uang pendaftaran sebesar itu untuk nilai terkecilnya saja bisa di pake buat memenuhi kebutuhan keluarganya di rumah selama 11 sampai 12 hari, enggak mungkin dia mau mengeluarkan uang untuk sesuatu yang bisa mengorbankan keadaan di keluarganya, selain itu karena cara pikir Billy, dia enggak bakal mau kasi uang ke orang atau agen seperti itu, buatnya itu pemalakan, mana mau Billy di palak, pikirnya, ini orang lagi susah, cari kerja buat cari duit, kok malah di suruh keluarin duit. Yah, Billy sudah berada di tingkat keraguan seperti itu, karena memang beberapa tahun lalu, belum lama setelah dia putus kuliah, dia pernah mendaftar di agen pencari kerja seperti itu, saat itu dia di ceburkan ke Bidang Marketing, Salesman, Pagi kumpul di yang katanya Kantor, kemudian di bawa dan di lepas ke beberapa lokasi, di perintahkan untuk masuk door to door menawarkan barang dagangan mereka, yang ternyata pekerjaan itu tidak mempunyai gaji bulanan tetap seperti yang di janjikan Agen Pencari Kerja di awal, penghasilan yang mereka bisa dapat per bulan berupa komisi berdasarkan jumlah barang yang berhasil mereka jual. Saat itu, Billy merasa benar-benar di kerjain sama Agen Pencari Kerja, sehingga setelah itu dia ogah untuk membuang uang untuk mendaftar lagi ke Agen-agen seperti itu.
"Gua enggak ada ngelamar pekerjaan kemana-mana Bejo, loe jangan ngawur begitu ah" protes Billy.
"Ekh orang kita serius di sangka ngawur" kata Bejo dengan logat khas Betawi.
"Gua juga serius Bejo". kata Billy memasang muka serius.
"Lha terus.....orang-orang itu siapa ??" tanya Bejo mengernyitkan dahinya.
"Mana gua tau, kan kalian yang ketemu, kalian enggak nanya apa, mereka nyari gua karena apa ?" tanya Billy dengan raut yang nampak berpikir.
"Sudah, kata mereka cuma ada perlu sama loe, kita enggak nanya lagi, karena itu tadi, orang kita pikir dari perusahaan tempat loe ngelamar kerja kali" jelas Bejo
"Wah....gua jadi kepikiran, tadi kita sudah kasi nomor telpon loe ke mereka, bisa di lacak dong loe" sambung Bejo khawatir.
"Kenapa juga gua mau di lacak ?"
"Orang gua merasa enggak ada buat masalah apa-apa" kata Billy sedikit tak acuh.
"Santai saja Jo, enggak apa-apa nomor gua itu, kalo mereka ada perlu juga pasti sudah chat atau SMS ke nomor gua" lanjut Billy berusaha menenangkan Bejo yang sudah nampak khawatir.
"Katanya mereka nanti mau datang lagi Bil"
"Yakin loe enggak apa-apa ?" tanya Bejo seperti merasa bersalah ke Billy.
"Sudah enggak apa-apa, tolong loe telponin Ruli, minta bawain HP gua ya" pinta Billy ke Bejo sambil berlalu menuju ke Pos Ronda depan gang dekat tempat parkir itu.
"Iya iya, Oke Bil" kata Bejo buru-buru mengeluarkan HP-nya dan menelpon Ruli.
Billy duduk selonjoran di dalam Pos Ronda sambil menghisap rokok yang ada di tangannya, dia tidak merasa itu menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan karena pikirannya tertuju pada orang yang begitu keluarganya benci selama ini, jika benar orang-orang yang datang mencarinya tadi adalah orang-orangnya, Sastrodinata.