"A, Abang mau pulang ke rumah untuk pamit sama mama. Mama pasti akan sedih jika Abang mengabari kepergian mendadak besok. Titip Bella, besok Abang ke sini lagi sekalian pamit," ucap Arki saat Rafael baru datang membawa minuman untuknya.
"Baiklah, hati-hati di jalan, Bang!"
Arki beranjak setelah memiliki keputusan dengan Bella, keinginan yang sederhana dari gadis sederhana seperti Bella. Yaitu, memiliki kebahagiaan bersama yang utuh buat anaknya nanti.
Rafael mengantar abangnya keluar kamar inap Bella.
"Raf, besok pagi sebelum menemui Om Bram, Abang akan menikah secara siri dahulu dengan Bella. Kamu pastikan, Om tidak tahu semua ini. Dia bisa marah dan menggagalkan acara penting Abang ini."
"Abang akan menikahi Bella secara sirri?" tanya Rafael kaget.
"Iya, Tadi Bella sempat keberatan dengan kepergian Abang ke Paris. Abang tak bisa membuat gadis itu menunggu Abang tanpa kepastian nantinya. Walau Abang menjelaskan sekalipun nantinya akan kembali, tapi sorot matanya menyiratkan kekecewaan. Abang berpikir, menikahi secara sirri adalah cara yang tepat untuk membuatnya yakin."
Rafael akhirnya tahu jika Abangnya ini sangat tulus menyayangi Bella. Walau dipertemukan dengan cara yang buruk, setidaknya tidak akan berakhir dengan menyedihkan.
"Baiklah, nanti saat ijab qobul Abang videokan saja. Biar Bella bisa melihat ijab Qobul Abang," cetus Rafael.
"Cerdas juga adik Abang."
Rafael melihat kepergian Abangnya pulang. Ia tak bisa membayangkan betapa pusing Abangnya kali ini. Pilihannya begitu sulit, bahkan ia harus merelakan kebahagiaannya demi dirinya dan keluarganya.
Arki mengendarai mobilnya ke rumah. Ia menyiapkan diri untuk menjelaskan semua pada mamanya di rumah.
"Assalamualaikum, Ma!" salam Arki dari luar.
"Waalaikumsalam, Bang! Malam sekali pulangnya? Lembur?" tanya mama Sesil.
"Nggak, Ma!" Arki meletakan jasnya dan membuka sedikit kancing bajunya lalu duduk di sofa, membuat mama Sesil menatap anaknya aneh.
"Kenapa, Bang? Mukanya kusut amat?" ucap mami Sesil.
"Ma, ada yang mau Arki bicarakan."
Mama Sesil menggeser duduknya mendekati Arki, ia penasaran dengan hal penting yang hendak Arki bicarakan.
"Kenapa?" tanya mama Sesil mengelus rambut anak sulungnya ini. Arki menarik tangan mamanya lembut dan menggenggam erat di atas pangkuannya.
"Ma, besok Arki akan ke Paris. Kemungkinan akan lama." Mama Sesil tampak terkejut, ia sampai memandangi Arki tanpa berkedip.
"Paris?"
"Iya! Om Bram menyuruh Arki untuk mengelola bisnis di sana. Dan Arki kemungkinan tak bisa pulang sampai perusahaan itu bangkit kembali.
Setelah itu, Om Bram tidak akan lagi membuat keluarga kita terkekang. Doakan Arki agar perusahaan cepat bangkit di sana. Supaya Arki bisa berkumpul bersama keluarga Arki. Arki tak dapat menolak, Om Bram mengancam akan membuat kita kesulitan dan akan menghancurkan hidup seseorang yang Arki sayang."
Mama Sesil meneteskan air matanya, anak sulungnya ini memang sangat baik dan dewasa. Ia bahkan rela menderita demi membahagiakan dirinya dan juga adiknya.
"Om Bram itu memang keterlaluan. Sama keponakan sendiri jahatnya, nauzubillah. Tahu begini, dulu Mama bawa ke Sidoarjo saja." ungkap Mama menitikkan air mata.
"Begitulah memang, dia bisa saja membiarkan Arki tak ke Paris. Tapi harus dengan syarat!" ucap Arki.
"Syarat? Syarat apa?"
"Arki harus menerima Amora jadi istri Arki. Mama kan tahu sendiri, bagaimana sifat Amora? Dia sama seperti Om Bram, ambisius dan juga otoriter."
"Benar-benar harus di kasih tahu, Bram ini! Besok mama akan ke sana!" papar mama Sesil dengan wajah yang sedikit emosi.
"Nggak usah, Ma! Arki tak ingin menambah masalah. Biar masalah ini Arki selesaikan sendiri. Arki tak ingin Mama jadi sasaran kemarahan Om. Yang penting, restu dan doa Mama untuk kebahagiaan Arki."
"Pasti, Bang! Mama pasti doakan yang terbaik buat anak Mama yang paling baik ini. Kamu di sana sering-sering telpon, jaga diri baik-baik. Nanti kalau nggak, sebulan sekali Mama ke sana buat jenguk anak Mama ini!" ucap Mama menghapus air matanya.
Arki memeluk mamanya erat, ia begitu menyayangi keluarganya ini. Arki tak membicarakan jika ia hendak menikahi Bella, karena tak ingin Omnya tahu semua ini.
***
Pagi ini, Arki bangun agak awal. Ia semalam tak dapat tidur memikirkan kondisi Bella dan juga acara nanti ia menikah. Tak pernah membayangkan, jika ia akan menikah dengan cara seperti ini.
Arki menghubungi satpam rumahnya untuk meminta nomor Bu Nita. Ia ingin mengabari jika ia akan menikah siri dengan Bella pagi ini. Ia tak ingin mereka terkejut jika ia tiba-tiba datang ke sana. Mereka Pun menyetujui keinginan Arki untuk menikahi Bella setelah Arki menjelaskan panjang lebar pada orangtua Bella.
"Pagi, Ma!"
"Berangkat jam berapa memang, Bang?" tanya mama Sesil.
"Nanti siangan setelah menemui Om Bram di kantornya. Arki pagi ini ada urusan penting, nanti Arki ke sini lagi setelah pamitan sama Rafael di Bogor!"
"Oh iya, emang Rafael belum tahu Abang mau ke Paris?"
"Sudah, tapi Arki belum berpamitan langsung. Makannya setelah urusan Arki selesai, Arki akan ke sana."
"Oh, baiklah! Hati-hati! Bang! Nanti Mama yang bakal antar kamu ke bandara!" ucap mama Sesil.
Arki mencium punggung tangan mamanya dan pergi ke rumah Bella. Sebelumnya ia sudah meminta penghulu untuk menikahkannya.
Kedatangan Arki disambut oleh pihak keluarga Bella. Ada dua orang yang menjadi saksi pernikahan siri yang hendak Arki laksanakan.
Berbekal niat dan tanpa kehadiran Bella, akhirnya ia melafadzkan ijab qabul secara lantang. Dengan ayah Bella yang menjadi wali, akhirnya Arki sah menjadi suami Bella. Meski hanya sah secara agama, namun membuat orang tuanya juga sedikit lega.
"Maaf, Pak, Bu! Jika pernikahan ini belum saya resmikan secara Negara. Saya Janji, akan menikahi Bella secara sah agama dan negara.
Arki titip istri Arki ya, Pak, Bu! Doakan Arki agar di sana sukses supaya kepulangan Arki bisa dipercepat!"
Bu Nita menangis haru, ia tak menyangka jika dirinya kini sudah mempunyai menantu. Bahkan majikannya sendiri.
"Bapak berharap, kamu tidak lama di sana. Agar bisa menyaksikan kelahiran anakmu nanti, jangan khawatirkan kami. Bekerjalah giat di sana, agar bisa membahagiakan anak kami satu-satunya!" Arki memeluk mertuanya dan mencium punggung tangan mereka dengan takzim.
Setelah ijab qobul yang dilakukannya selesai, Arki segera berangkat menuju Bogor. Ia tak ingin mengajak ikut orangtua Bella ke Bogor, karena takut mereka khawatir jika tahu Bella sedang di rawat di rumah sakit.
Dengan mengantongi restu kedua orangtuanya, kini Arki tinggal berpamitan dengan Bella. Ia tak ingin pertemuan terakhir ini meninggalkan kesan buruk bagi istrinya.
Langkahnya hari ini semuanya harus ia lakukan dengan cepat, karena tak ingin sampai Omnya tahu jika ia menikahi Bella secara diam-diam. Dan pasti Omnya akan marah, karena sudah memenjarakan Amora, anak kesayangannya.
Pintu terbuka, wajah Bella yang sudah sedikit lebih baik membuat Arki menyunggingkan senyumnya.
"Pagi, Dek! Rafael mana?" tanya Arki saat tak melihat adiknya di sana.
"Rafael sedang keluar sebentar memanggil dokter. Abang akan berangkat sekarang?" tanya Bella dengan tatapan sedihnya.
Arki mendekati Bella dan mencium keningnya.
"Bagaimana keadaan Adik sekarang? Sudah lebih baik?" ucap Arki ramah.
"Alhamdulillah, Bang Arki jadi ke Paris?" tanya Bella sendu.
"Istriku, kepergian Abang bukan untuk selamanya! Jika Adek rindu, sebutlah nama Abang di setiap lantunan zikir dan sholat Adek. Adek tahu, sekarang Abang bersyukur pergi dengan membawa status sebagai suami. Abang jadi bisa semangat dan fokus bekerja karena ada Istri Abang yang pasti menunggu Abang pulang. Abang berharap, dede juga mendoakan daddynya supaya cepat pulang" ucap Arki mengelus perut Bella yang masih terlihat rata.
Ada perasaan hangat ketika Arki memperlakukan Bella dengan lembut. Air mata Bella kian menetes, pertemuan yang singkat ini, akan menjadi kenangan indah dalam hati Bella.
Arki mengeluarkan sebuah kunci apartemen, sebagai maharnya tadi pada Bella.
"Ini kunci apartemen Abang yang ada di Jakarta. Ini mahar yang Abang berikan tadi saat ijab Qabul. gunakan Apartement itu, dan rawatlah. Karena di sana, banyak barang-barang Abang yang bisa membuat Adek tak bersedih lagi."
"Hati-hati, Bang! Kabari setelah sampai. Terimakasih, sudah menjadi ayah yang bertanggung jawab bagi anak ini. Bella mengira, Abang akan pergi meninggalkan Bella," ucap Bella.
"Mana mungkin? Abang lelaki yang bertanggung jawab, hanya memang dulu Abang khilaf," ucap Arki sambil tersenyum dan mengusap air mata Bella.
"Abang kalau marah seperti itukah?" tanya Bella lirih.
"Nggak, waktu itu memang Abang sedang dinner dengan mantan tunangan Abang! Dan di sana, memang disuguhi minuman keras. Karena terlalu marah, Abang habiskan semua. Dan akhirnya malah jadi begini!"
"Abang menyesal?" tanya Bella.
"Tidak, justru Abang bersyukur memiliki Adik! Sudah baik, sholehah, pinter lagi," puji Arki membuat Bella tersenyum.
Telepon Arki berdering, nomor Om Bram masuk ke dalam ponselnya.
"Hallo, Om! Ada apa?"
"Kamu bilang ada apa? Kamu ke kantor sekarang!" gertak Om Bram. Mendengar dari nada bicaranya, sepertinya dia amatlah marah. Pasti, ia telah tahu jika Amora ditahan di kantor polisi.
"Abang harus pergi, sepertinya Om sangat marah. Mungkin dia sudah tahu jika Amora di kantor polisi."
"Kantor polisi?" Bella tampak bingung dengan ucapan Arki.
"Sudah, nggak usah dipikirkan. Sekarang, Adek istirahat saja! Abang ke sana dulu! Jika nanti tak kembali lagi ke sini, berarti Abang sudah berangkat ke Paris! Jaga dirimu dan anak kita baik-baik." Arki mencium kening Bella dan Bella tampak mematung ketika melihat wajah panik suaminya.
Cinta datang dan pergi tanpa ia sadari. Dan, cinta membuat hati yang beku menjadi mencair karena rindu. Seandainya Bella tahu, Arki akan sebaik ini pasti ia tak akan menolak untuk bertemu dengannya dari dulu. Semoga di usianya yang masih belia, ia tak akan goyah ketika Arki tak ada di sampingnya.
Pintu kembali terbuka, Rafael dengan membawa sekotak makanan masuk ke ruangan Bella.
"Raf," ucap Bella sendu.
"Tadi Abang sudah pamit dan dia menitipkanmu padaku. Jadi menurutlah," ucap Rafael lirih. Bella tahu, jika Rafael kali ini sangat sedih. Arki kakak yang selama ini selalu memanjakannya, harus pergi demi kebahagiaan dirinya dan orang lain.
"AA nggak nganter ke bandara? Bella tak apa sendiri," ucap Bella.
"Tidak, aku tak ingin kakak bersedih karena aku tak menjaga istrinya dengan baik."
Bukan itu saja, Rafael juga merasa sangat berat untuk menjaga perasaannya agar tak mencintai Bella lagi. Jika kakaknya bisa berkorban besar untuk kebahagiaannya, kenapa dirinya tidak? Itu semua Rafael lakukan, agar kakaknya bisa hidup bahagia setelah ini.dan membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah bersama wanita pilihannya.