bab 8

1304 Words
"Bell, gue di depan rumah lo! Cepet keluar!" Rafael mengirimkan pesan yang membuatnya terkejut. Seminggu sudah ia di rumah, hanya tiduran dan mendaftarkan diri mencari pekerjaan lewat online. Ia memasukkan beberapa lamaran pekerjaan di dekat tempat kuliahnya. Setelah membaca pesan Rafael, Bella turun dari ranjang dan membukakan pintu rumahnya. Bertengger pria yang akhir-akhir ini sibuk mengirimkannya pesan dan menanyakan kabarnya. Bella sebenarnya risih, bukan karena Bella tak suka. Tapi, Rafael adalah adik dari orang yang sudah menghamilinya. Ia tak mau membuat semuanya menjadi serba sulit baginya, disisi lain Arki juga selalu mengirimkan pesan menanyakan kabar. "Kenapa ke sini?" tanya Bella saat melihat senyum Rafael yang baru datang di rumahnya. "Kasih masuk dulu, kek! Masa tamu di anggurin berdiri di depan!" Bella memutar bola matanya jengah, ia membiarkan Rafael masuk dan duduk di sofa tamu. Bella melangkah ke belakang mengambilkan segelas air putih untuk Rafael. Ia malas jika harus membuatkan kopi atau teh, hanya air putih minuman yang praktis dan juga cepat saji. "Nih! Air putih adanya," ucap Bella menyodorkan minum air putih kepadanya dan meletakkannya di meja. "Air putih juga minuman, makasih ya!" ucap Rafael manis. "Kenapa ke sini?" tanya Bella datar. "Yaelah, mau main masa nggak boleh. Aku mau jadi Dilan dulu," ucap Rafael sambil cengengesan. "Kok Dilan?" "Karena cuma Dilan yang bisa rindu, kalau kamu jangan!" "Huh, dasar playboy cap kucing. Serius malah bercanda!" "Serius, dan gue bukan playboy lagi. Gue udah insyaf, kamu tahu ini karena siapa?" tanya Rafael memberi kode. "Siapa emang?" "Gadis cupu yang kurang s**u yang tiap hari aku jahilin di kelas dan aku sekarang merasa dia istimewa." Bella merasa itu dirinya, dia adakah wanita yang sering diganggu oleh Rafael di kelas dan juga membullynya dengan panggilan Kusu alias kurang s**u. Tapi ia tak mau terlalu pede mengakui jika itu dirinya, siapa tahu itu kawan Rafael. Dia kan lelaki famous. "Aku nggak kenal! Udah, lo mau ngapain ke sini? Kalau nggak penting kamu pulang saja. Aku sedang tak menerima tamu." "Yaelah gitu amat sama AA. Aku mau bawa brosur ini, mau nggak kerja di sini? Ini deket sama kampus kita, kamu juga bisa indekos di sana." Rafael memberikan sebuah brosur grand opening sebuah gerai coffee shop yang membuka lowongan pekerjaan. "Lo kok tau aku kuliah di situ?" tanya Bella. "Tahu lah, gue gitu loh! Cari hal ringan kaya gitu mah, kecil! Gimana, mau nggak? Gajinya lumayan, bisa buat bayar kos sama kuliah kamu." "Kamu kenal yang punya gerai?" tanya Rafael. "Kenal, dia temanku yang kebetulan ayahnya seorang pengusaha. Jadi di usia muda sudah buka gerai sendiri, bagaimana? Tertarik nggak nih?" Bella diam memikirkan tawaran Rafael, akankah ia menerima tawaran itu. Sebenarnya ia ingin jauh-jauh dari Rafael dan Arki, tapi kebetulan gerai ini tak jauh dari tempat ia kuliah nanti. "Kamu mau nggak? Malah ngelamun!" Rafael menyentil dahi Bella yang diam dari tadi. "Ih, sabar napa. Ini lagi mikir!" "Mikir lo kelamaan, iya in aja napa. Susah amat! Gue juga bakalan sering live sing di sana nanti, soalnya gue biasa manggung di cafe-cafe bareng temen-temen geng gue." "Nanti aku kasih tahu ya, aku perlu tanya ayah ibuku. Kamu juga kuliah di universitas Tunas Baru?" tanya Bella. "Iya, aku ambil jurusan otomotif. Kakakku ingin aku masuk management, tapi aku malas. Nggak mau pusing saya," ucap Rafael. "Oh." "Oh doang? His, ngirit banget ngomongnya. Kalau kamu jurusan apa?" "Rahasia dong! Nanti kamu beralih jurusan kalau tahu aku ambil jurusan itu. Udah SMA bareng sekelas, masa kuliah sekelas juga." "Ya nggak papa dong, biar kita juga bisa belajar bareng lagi. Ngemeng-ngemeng, ikut aku yuk. Gue mau live sing di cafe itu, kamu sekalian gue kenalkan pada temanku yang punya gerai itu. Biar sekalian kamu tanya-tanya dulu masalah pekerjaan di sana." "Aku kan bilang, aku pikir-pikir dulu. Besok aku kabari, sekarang aku lagi mager!" "Oh, ya udah kalau gitu! Gue pergi dulu ya, udah ditunggu soalnya." Rafael berdiri dan mengambil.sesuatu di dalam.jaketnya. "Nih, buat kamu. Biar nambah mood booster kamu hari ini!" Rafael memberikan satu bungkus coklat pada Bella. "Kayak pacarnya aja kasih coklat," celetuk Bella. "Kalau lo mau, boleh juga. Nggak aneh juga kalau kamu jadi pacar gue. Secara kita kan sudah jadi soulmate!" "Idih, kapan kita soulmatean? Nih, bawa lagi aja coklatnya buat pacar lo. Gue nggak suka coklat," tolak Bella. Rafael tampak kecewa dengan penolakan pemberian coklat itu padanya. "Rejeki jangan ditolak! Udah gue pergi dulu. Wasaalamualaikum!" Rafael pergi setelah meletakkan kembali coklat itu di tangan Bella. Bella pandangi coklat mini yang memiliki hiasan pita di sana. Jika bukan adiknya Arki, dia pasti sudah jadi wanita yang bahagia karena diperlakukan manis seperti ini. *** "Kamu beneran mau kos di sana? Nggak PP aja biar Ayah sama Ibu nggak khawatir." "Nggak, Yah! Bella harus kerja juga." Bella memasukkan pakaiannya ke dalam tas dan menatanya dengan rapi agar muat ia bawa banyak. Mungkin ia akan jarang pulang, atau bahkan satu tahun tak pulang sampai anaknya ia lahirkan. Bella memilih kuliah di Bogor, ia mengambil jurusan Bisnis dan manajemen. Bella mengambil.jurusan itu karena ia ingin membuat bisnis sendiri nanti, agar bisa membuka lapangan kerja buat banyak orang. "Di sana jaga diri baik-baik. Ayah sama Ibu selalu doakanmu, semoga berhasil dan juga sukses. Jangan lupa pulang, jarak Jakarta bogor kan nggak terlalu jauh. Sebulan atau dua bulan sekali kamu pulang, biar kami tak terlalu kangen," ucap Bu Nita. "Iya, Bu! Ibu ini kayak Bella mau pergi jauh saja. Lagian kan ada ponsel, Ibu sama Bapak bisa telepon atau video call." Ayah Bella datang mendekati Bella. "Ini kunci motor, kamu pakai buat berangkat kerja dan kuliah! Nanti, kabarin kalau sudah sampai. Dan ini, sisa pembelian motor, kami bawa buat bekal awal sebelum kamu gajian di sana. Nanti Ayah sama Ibu akan mengumpulkan untuk bisa membantu biaya kuliahmu," ucap ayah Bella. "Makasih banyak, Yah, Bu! Bella nggak tahu harus bagaimana lagi membalas kebaikan Ayah dan Ibu. Bella sayang kalian!" "Cukup doakan kami agar selalu sehat dan juga umur panjang, agar bisa melihat anak kami yang cantik ini sukses dan menikah!" Bella memeluk ayah dan ibunya. Kasih sayang mereka, cinta mereka, serta pengorbanan mereka tak akan ia sia-siakan. Ia akan berjuang di kota sebelah untuk bisa meraih cita-cita, walau nanti ia harus kesusahan akibat anak yang ia kandung ini. Permasalahannya ini, akan ia selesaikan nanti di sana. Ia tak mau orang tuanya tahu bahkan kecewa karena anak kebanggaannya ini mengecewakannya. *** Sebuah motor matic berwarna merah yang ayahnya belikan, ia bawa ke Bogor. Dengan berbekal tekad dan niat yang kuat, kini ia siap menghadapi kerasnya kehidupan. "Bismillah!" Susana jalan yang sangat ramai, membuat jalanan bergerak lambat. Macet di mana-mana, membuat Bella merasa lelah dan ingin segera sampai. Meninggalkan orang tua yang ia sayangi demi meniti harapan sungguh sangat melelahkan. Alasan Bella tak mengatakan jika ia hamil karena ia tak ingin orang tuanya sedih dan juga kecewa. Bella adalah harapan satu-satunya kedua orang tua Bella. Umur kedua orang tuanya yang memasuki kepala lima membuat Bella sedikit khawatir. Ayah dan Ibu Bella menikah di usia dua puluh tahun, tapi setelah lima belas tahun, barulah mereka memiliki anak. Tentulah hal ini yang membuat mereka sangat menyayangi Bella. "Sudah sampai di kos?" pesan dari Rafael masuk saat Bella baru sampai di Bogor. "Sudah, baru saja. Belum masuk kosan malah," balas Bella. "Ok, aku otewe!" "Otewe kemana?" "Kesitu lah! Mau bantuin kamu beberes!" "Nggak usah, orang cuma baju doang. Aku nggak bawa apa-apa!" "Masa? Bawa hatiku nggak?" Bella hanya membalas dengan emoticon sebel dengan Rafael. Ia kemudian menemui Ibu Kos untuk meminta kunci dan memberikan seluruh biaya kos bulan ini. Kemarin Bella menitipkan dp kosannya pada Rafael karena kebetulan dia yang mencarikan tempat kosan ini. Bella akan menyiapkan diri untuk berbicara pada Arki nanti jika ia siap untuk bertemu. Semua kabar ini, harus ia beri tahu. Mau bertanggung jawab atau tidak, semua terserah keputusannya nanti. Bella tak ingin selalu merepotkan Rafael, ia juga harus tahu jika dirinya tak mungkin menjalin kasih dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD