PART 3 - Siapa Dia?

995 Words
     Tiba di rumah, Zahra menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Otaknya penat, digunakan selama hampir delapan jam untuk menerima berbagai macam pelajaran. Gadis itu terbaring selama sepuluh menit, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya sejenak, untung saja ia telah melaksanakah salat ashar di sekolah sebelum pulang. Jadi, ia bisa istirahat dengan santai.      Sepuluh menit berlalu, Zahra segera melepaskan seragamnya, tubuhnya kini hanya terbalut mihnah. Kemudian, ia mengambil handuk dan bergegas untuk mandi. Guyuran air dingin membuatnya segar kembali. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia pun turun ke bawah untuk makan.      Di dapur dan meja makan tak ada siapa-siapa. Pada jam-jam seperti ini, biasanya umi dan abinya tengah bersantai sembari minum teh di gazebo belakang rumah. Jadi Zahra terbiasa makan sore sendirian.      "Assalamualaikum."      Dari luar, terdengar seseorang mengucap salam. Zahra menjawabnya dengan suara pelan. Tanpa perlu membukakan pintu, Zahra sudah tahu bahwa itu adalah Rizki, kakaknya yang baru pulang bekerja. Gadis itu memilih untuk menuju ruang keluarga, memakan makanannya sembari menonton kartun.      "Kok nggak bukain pintu, sih?"       Tahu-tahu, Rizki sudah berada di belakangnya, lalu duduk di samping Zahra.      "Ngapain juga dibukain. Orang bukan tamu istimewa."      "Eh ... gegabah. Lain kali coba inisiatif bukain pintu kalau kakak pulang, sekalian belajar jadi calon istri yang baik."      Zahra mencebik. "Zahra nggak akan nikah secepat itu kali, Kak."      "Ah, masa. Bukannya kebanyakan perempuan zaman sekarang pada pengen nikah muda, ya."      "Tapi Zahra nggak masuk ke dalam golongan perempuan itu. Zahra mau kuliah dulu."      Rizki mencubit pipi tembem Zahra. "Alesan. Awas aja nanti kalau kebeneran nikah muda."      "Ish, sakit tau!" Gadis itu melepas paksa tangan Rizki dari pipinya. "Ya kalau nikah muda berarti emang udah takdirnya. Mending kakak aja sana belajar jadi suami yang baik. Katanya mau nikah sebentar lagi," lanjutnya.      Rizki terkekeh. "Tanpa perlu belajar juga kakak udah jadi calon suami yang baik, dong."      Zahra menelan suapan terakhirnya, "Ngek!" ledeknya sembari menjulurkan lidah. Gadis itu meninggalkan Rizki dan berlalu menuju ke dapur untuk menyimpan piring kotor dan minum.      Sekembalinya dari dapur, Zahra kembali duduk bersama Rizki. Tiba-tiba, ia teringat dengan obrolannya bersama Yusuf tadi pagi.       "Kak, di sekolah ada guru baru, tahu." Zahra memulai ceritanya.      "Hm?" balas Rizki, lelaki itu fokus menonton acara Naruto di televisi.      "Ih dengerin, dong."       "Iya ... ini juga sambil didengerin."      Zahra cemberut, namun tetap bercerita. "Gurunya laki-laki, masih muda juga. Terus, tahu nggak, Kak—"      "Nggak," potong Rizki.      "Ih, jangan dipotong dong."      Rizki tertawa, kemudian membiarkan Zahra melanjutkan ceritanya.      "Masa dia tahu nama lengkap Zahra. Aneh banget. Kenal juga nggak."      "Guru SMP kamu kali, Ra."      "Bukan. Zahra nggak tahu dia siapa."      "Tapi ganteng, kan?"      Mata Zahra membulat, bisa-bisanya kakaknya bertanya seperti itu. "Ih, yang bener aja nanyanya."      "Ya tinggal jawab aja, apa salahnya. Ganteng nggak, gurunya?"      "Ya ... ganteng, sih, Kak."      Tawa Rizki menguar. "Tuh, kan, ya kalo ganteng nggak masalah, dong. Masih muda juga dianya."      Zahra mencubit pelan lengan kakaknya, gemas. "Tapi, yang lebih aneh lagi. Dia suruh Zahra buat nanyain soal dia ke kakak. Btw, namanya Yusuf Rahman Fauzi. Kakak tahu?"      "Hah? Masa?" Zahra mengangguk, meyakinkan. "Lah, itu mah teman kakak dari SMA. Dulu, dia suka main ke rumah, sama teman-teman yang lainnya juga."      Gadis di samping Rizki hanya cengo. Yusuf? Teman kakaknya? "Pantesan. Tapi, kok bisa tahu nama Zahra, sih."      "Dia suka sama kamu kali, Ra," goda Rizki sambil menoel pipi adiknya ditambah dengan senyumannya yang menyebalkan di mata Zahra.      "Iiih ... nggak mungkin." Gadis itu jadi membayangkan Yusuf dengan senyuman manisnya. Kemudian menggeleng untuk mengenyahkan pikiran tersebut dari kepalanya. "Nggak mungkin, mustahil," ulangnya lagi.      "Mungkin aja. Hati orang siapa yang tahu. Nanti kakak telepon dia, deh. Mau ngobrol. Udah lama juga nggak ada kabar."      Zahra meringis. Semoga saja kemungkinan yang diucap kakaknya tidak menjadi mungkin.       "Cie ... yang digebet sama guru."       "Ish!" Zahra mengejar kakaknya yang kini sudah lari menuju tangga. Habis sudah, ia pasti akan digoda terus-terusan oleh kakaknya setelah tahu fakta ini. ***      Pagi-pagi sekali, Bu Nova sudah menghubungi Zahra lewat w******p. Wali kelasnya itu menyuruh untuk mengambil tugas yang berada di mejanya di ruang guru. Beliau tidak bisa hadir untuk mengajar karena ada keperluan penting. Kebetulan, mata pelajaran Bu Nova adalah jam pertama.      "Belajar yang rajin, ya," tutur Abi Zaki setelah putrinya turun dari mobil.      "Siap!"      Zahra menunggu hingga mobil abinya kembali melaju. Kemudian ia segera memasuki sekolah dan menuju ruang guru. Sekolahnya masih sepi, hanya ada beberapa murid yang baru datang, dan petugas sekolah yang sedang bersih-bersih. Begitu pula halnya ketika ia tiba di ruang guru, baru ada tiga orang yang tiba di sana. Dan salah satunya adalah ... Yusuf.      Tiba-tiba, Zahra jadi ragu untuk masuk. Lalu, kebetulan apa lagi itu? Bagaimana bisa meja Yusuf berdekatan dengan wali kelasnya, tepatnya, meja Yusuf ada di belakang meja Bu Nova. Duh, Zahra lupa bahwa sebelumnya itu adalah meja Bu Wati. Tentu saja sekarang itu menjadi meja kepunyaan Yusuf.      Dengan langkah pelan, akhirnya Zahra menuju meja wali kelasnya. Dilihatnya Yusuf yang kini juga tengah menatapnya. Zahra menyunggingkan senyum kecil. Dibalas senyum yang sama oleh gurunya.      "Assalamualaikum, Pak." Zahra mengucap salam, kemudian ia mencari tugas yang dimaksud Bu Nova. Selembar kertas yang berisi beberapa soal Matematika.      "Waalaikumsalam. Rajin banget, Ra, pagi-pagi udah nyampe."      "Dianter sama abi, Pak. Sekalian abi berangkat kerja, jadinya pagi."      Yusuf mengangguk. Melihat gelagat Zahra yang sepertinya akan kembali ke kelas, dengan cepat lelaki itu menahannya. "Kamu udah tanyain saya sama Rizki?" tanyanya.       "Hah? Eh, udah, Pak." Zahra kikuk. Kenapa senyuman itu tak pernah luntur dari wajah Yusuf. Ia juga jadi teringat perkataan Rizki, bahwa Yusuf mungkin menyukainya. Kenapa pula jantungnya sekarang jadi berdetak dengan cepat.       "Jadi?" Yusuf menuntut penjelasan.       "Hm ... bapak temannya kakak saya, ya? Teman SMA. Kata Kak Rizki, dulu sering main ke rumah juga," cicitnya pelan.      Sebuah senyum terbit di wajah Yusuf. "Nah, itu. Tapi dulu mainnya rombongan, jadi kamu nggak mungkin tahu saya yang mana."      Zahra hanya mengangguk. Tak mau berlama-lama di sini, ia segera berpamitan pada Yusuf. "Pak, saya pamit ke kelas, ya. Assalamualaikum." Zahra berlalu dari hadapan Yusuf. Menyelamatkan diri dari situasi canggung tersebut.      "Waalaikumsalam." Yusuf mengulum senyumnya, menatap punggung siswanya yang semakin menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD