"Apa ini?" Brendan Lee menatap lembaran kertas yang diberikan Yang Lee padanya
"Ap-apa?" Yang Lee jadi gugup. Ia tidak tau apa yang sebenarnya Yin Lee berikan padanya.
"Kau yang melukisnya?" tanya Brendan Lee.
Bola mata Yang Lee membesar, ia tidak tau harus menjawab apa. Ia menatap ke arah Yin Lee yang sama sekali tidak melihat ke arahnya. Kakaknya itu malah ikut mengamati lukisan yang ada di lembaran itu bersama sang ayah. Sementara ia? Ia tidak tau gambar apa yang ada di dalam sana.
Apakah gambar itu bagus atau jelek? Ia tidak tau! Ah! Bagaimana ini?
"Bagaimana menurutmu, Sayang?" Brendan Lee melihat ke arah putri kesayangannya.
"Itu bagus, Pa!" jawab Yin Lee.
"Yeah, memang bagus. Bahkan lebih bagus dari punyamu" Brendan Lee mengangguk.
Yang Lee untuk pertama kalinya merasa kejang dalam hati. Gambar apa yang ada di sana hingga sang ayah memujinya.
"Semoga besok nilai tes menggambarmu bagus!" ujar Brendan Lee lagi sambil menyerahkan kembali gulungan kertas itu ke Yang Lee.
"Oh ya, pujian tadi bukan berarti kau boleh menjadi pelukis! Ingat, kau harus sekolah dan meningkatkan nilai pelajaranmu!" Brendan Lee berkata penuh peringatan.
Ia pun kemudian masuk ke dalam dan meninggalkan kedua putrinya.
Yang Lee menerimanya. Ia lalu membuka gulungan kertas itu dan ...
Ia juga membelalakkan matanya melihat lukisan 3D yang ada di sana. Lukisan itu sungguh bagus seperti hidup. Bagaimana mungkin itu bisa jadi lukisannya?
"Yin Lee? Lukisan siapa ini?" tanya Yang Lee kaget.
"Sst! Itu adalah lukisan Cleo Tan. Sengaja aku minta dia melukis untukmu agar kita punya alasan pulang larut. Melukis seindah itu bukan hal yang mudah, bukan? Jadi, wajar kalau kita pulang lama karena belajar teknik dari dia," jawab Yin Lee setengah berbisik.
"Tap-tapi ini--"
"Sst! Sudah, yang penting malam ini kita selamat! Ayo, tidur!" Yin Lee menggandeng adiknya itu untuk masuk dan naik ke kamar mereka.
***
Pagi itu ....
"Sayang, jika kau ada waktu, tolong jenguk Magda, dia sedang sakit dan anak-anaknya tidak bisa menjaganya hari ini," ujar Brandon Lee yang baru datang ke ruang makan.
"Oh, dia sakit apa?" tanya Veronica Wu sambil menyiapkan sarapan bagi seisi rumahnya.
"Entahlah, dia bilang badannya panas. Sementara Lena dan Dicky tidak bisa bolos kerja. Mereka masing-masing ada meeting dan proyek yang tidak bisa diwakilkan," jawab Brendan Lee.
"Oh, begitu, baiklah. Nanti aku akan kesana," ujar Veronica Wu.
"Oh ya, anak-anak. Sepulang sekolah, kalian ikut ke rumah bibi Magda, ya? Sudah lama juga kita tidak menjenguk beliau," ucap Veronica Wu.
"Yah, tentu saja, Ma," sahut Yin Lee antusias. Sementara Yang Lee tidak menjawab.
"Kau juga ikut 'kan, Sayang?" Veronica menatap putrinya yang terlihat sibuk sarapan.
Yang Lee mengangkat kepalanya.
"Apakah aku boleh tidak ikut?" tanyanya.
"Kenapa kau tidak ikut? Jika Yin Lee saja ikut, maka tidak ada alasan bagimu untuk tidak ikut," sahut Brendan Lee.
Veronica Wu melirik ke arah putrinya.
"Apakah ada hal penting yang akan kau lakukan sepulang sekolah?" tanya Veronica Wu.
"Emm, tidak juga. Hanya saja, hari ini aku ingin istirahat di rumah," dalih Yang Lee.
"Ikutlah sebentar. Kau juga bisa istirahat di rumah bibi Magda nanti," saran sang ibu.
"Yah, yang dikatakan ibumu benar. Aku akan menjemput kalian di sana nanti sore," ujar Brendan Lee.
Yang Lee tidak lagi berkomentar. Lagi-lagi ia harus menghadapi dilema seperti ini.
"Ayo, berangkat. Nanti kalian terlambat," ucap sang ayah sambil berdiri.
Yang Lee dan Yin Lee bergegas menyelesaikan sarapannya lalu mengikuti langkah sang ayah.
"Sayang, aku pergi dulu," pamit Brendan Lee pada sang istri.
"Ma, kami pergi," pamit Yang Lee dan Ying Lee bersamaan.
"Hati-hati, ya? Nanti siang aku akan menjemput kalian di sekolah," ujar Veronica Wu.
Ia mengantar Brendan dan kedua anaknya hingga di depan pintu.
Brendan masuk ke dalam mobil diikuti kedua putrinya. Yin Lee yang merasakan gelagat tidak baik saudara kembarnya menyenggol bahu sang adik ketika mereka sudah duduk bersama.
"Katakan, ada apa?" bisiknya.
Yang Lee menggelengkan kepala enggan menjawab. Ia lalu memasang headsetnya dan mendengarkan musik.
Melihat hal itu, Yin Lee tidak lagi memaksa. Ia pun melakukan hal yang sama sampai mereka tiba di sekolah.
"Xie-xie, Pa," ucap keduanya ketika turun dari mobil sambil melepas satu headsetnya.
"Jangan lupa, pulang sekolah, semuanya ikut ke rumah bibi Magda, okay?" Sang ayah mengingatkan.
Yin Lee dan Yang Lee mengangguk lalu berjalan bersama memasuki gerbang sekolah.
"Yang Lee!" Jacky Chan yang baru datang berteriak memanggil.
Namun, karena telinga Yang Lee dan Yin Lee sudah dipasangi headset, maka tidak ada satu pun dari mereka yang mendengar panggilan Jacky Chan.
"Hey!!" Jacky Chan dengan keras menepuk bahu Yang Lee.
"Eh, kau ini mengagetkan saja!" Yang Lee langsung melepas headsetnya.
"Hehe, kalian berdua ini asyik sekali sih? Ckck! Aku panggil dari tadi sama sekali tidak dihiraukan." Jacky Chan berjalan di antara keduanya.
"Ada apa memangnya?" tanya Yin Lee ikut melepaskan headset di telinganya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengajak Yang Lee nanti pulang bersamaku. Kami akan ada latihan di rumah Rebecca Zhang. Latihan kami semalam menemukan konsep baru, jadi harus lebih dimatangkan lagi, bukankah begitu, Yang Lee?" tanya Jacky Chan sambil menyenggol bahu temannya itu.
Yang Lee tidak menjawab. Ia kembali memasang headsetnya. Urusan ini, ia masih belum punya solusinya.
"Hey!" Jacky Chan jadi sewot dicuekin seperti itu.
"Oh, jadi nanti kalian ada latihan lagi?" tanya Yin Lee.
"Iya, kompetisi kurang dua hari. Sementara konsep yang semalam baru kami dapatkan, masih harus kami matangkan lagi. Hey, Yang Lee, kau akan berangkat dengan siapa nanti?" Jacky Chan kembali menyenggol bahu Yang Lee.
Yang Lee tidak menjawab, ia malah mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam kelas.
Jacky Chan mendengus melihat wajah Yang Lee yang jutek.
"Ya sudah kalau tidak mau berangkat sama aku, huh! Aku 'kan hanya bermaksud baik." Jacky Chan terluka kesal dan ia duduk di bangkunya sendiri.
Yin Lee duduk di sisi Yang Lee. Headset gadis itu sudah dilepas dan ia mulai mengeluarkan bukunya.
"Jadi itu masalahmu?" tanya Yin Lee hati-hati.
"Hhh!" Yang Lee hanya menghembuskan nafas berat.
Berselisih paham dengan orang tua mulai membuatnya lelah.
"Hanya tersisa dua hari, kau harus fokus dengan latihanmu, Meí," saran Yin Lee.
"Lalu bagaimana dengan bibi Magda? Papa akan membunuhku jika aku tidak ikut menjenguknya," jawab Yang Lee.
Yin Lee diam dan tampak berpikir.
"Memangnya latihanmu berapa lama?" tanya Yin Lee.
"Aku tidak bisa memastikan. Semuanya tergantung lancarnya latihan," jawab Yang Lee.
"Hmm ... begini saja, katakan pada mama apa adanya, nanti aku akan mendukungmu. Aku rasa mama bisa mengerti, tapi kau harus janji untuk segera datang ke rumah bibi Magda sebelum papa tiba, bagaimana?" tanya Yin Lee.
"Bagaimana jika latihanku belum selesai?" tanya Yang Lee lagi.
"Selesai tidak selesai, kau harus tiba di rumah bibi Magda sebelum papa datang, atau kau akan membuat kami semua dalam masalah," sahut Yin Lee.
Yang Lee mengaitkan bibirnya sambil berpikir.
"Aku harus berbicara dulu kepada Rebecca Zhang soal ini. Kau tau sendiri dia itu orangnya sangat diktator," ujarnya.
Yin Lee tertawa kecil.
"Bukankah dalam sebuah tim memang dibutuhkan seorang yang memiliki karakter seperti dia?" ujarnya.
Yang Lee tersenyum sambil mengangguk. Yeah, tim mereka memang jadi solid gara-gara ketegasan Rebecca Zhang. Tidak ada yang berani datang terlambat atau menyepelekan jadwal latihan, kecuali dirinya.
Beberapa kali ia dan Rebecca Zhang mengalami gesekan gara-gara ia yang datang terlambat atau bolos latihan. Dan, itu sukses membuat Rebecca Zhang naik darah!
Yang Lee melayangkan pandangannya ke seluruh kelas. Rebecca Zhang keliatannya belum datang. Hanya ada Jacky Chan saja yang terlihat sibuk berbincang dengan Donny Gu di belakang.
Yang Lee hendak mengirimkan pesan singkat ke Rebecca Zhang ketika ia melihat gadis itu masuk kelas dengan gayanya yang khas seperti ratu diva dunia.
Rebecca Zhang duduk di kursi dengan gayanya yang anggun. Ia mengeluarkan beberapa buku dan sambil menyilangkan kakinya, ia memasang headset di telinga lalu bersenandung sendiri.
Yang Lee mendekati gadis itu dan berdiri di samping mejanya.
"Hm, ada apa? Jangan bilang kau tidak bisa latihan siang ini," ujarnya sambil melepas headsetnya.
Ia menatap Yang Lee penuh dengan kecurigaan.
Yang Lee menggeleng.
"Tidak, bukan itu. Aku akan latihan siang nanti, tapi ... mungkin aku tidak bisa lama. Bibiku sakit dan kami sekeluarga harus menjenguknya. Jadi, aku mungkin akan pulang lebih awal," ujar Yang Lee.
Rebecca Zhang tersenyum sinis lalu ia pun berdiri dan duduk di mejanya.
"Apa maksudmu dengan pulang lebih awal? Jika kau pulang, itu artinya semua orang tidak bisa berlatih gara-gara kau!" ujar Rebecca Zhang dengan nada tegas.
Yang Lee menunduk.
"Kau ini sebenarnya serius atau tidak dalam mengikuti kompetisi ini, huh? Jangan membuang waktu kami," ujar Rebecca Zhang penuh penekanan.
"Rebecca, jelas aku serius, hanya saja--"
"Jika kau serius, maka kau harus latihan sampai selesai!" potongnya cepat.
Rebecca Zhang mengunyah permen karet lalu kembali duduk di bangkunya. Semua siswa yang mendengar nada bicara Rebecca Zhang jadi menatap ke arah Yang Lee.
Jacky Chan yang melihat kedua gadis itu seperti berselisih paham, segera menghampiri.
"Ada apa, Rebecca?" tanya Jacky Chan.
"Entahlah, tanyakan sendiri padanya! Keliatannya dia sudah merasa seperti seorang maestro sehingga mau latihan seenaknya! Hhhh! Cukup pertama dan terakhir saja aku satu kelompok dengannya!!" ujar Rebecca dengan kesal.
Jacky Chan menatap Yang Lee yang terdiam.
"Ada apa, Yang Lee?" tanya Jacky Chan.
Yang Lee tidak menjawab dan ia malah kembali duduk di bangkunya.
Jacky Chan menggelengkan kepala dengan frustrasi melihat sikap Yang Lee yang selalu cuek padanya.
"Tenanglah, kita akan berbicara dengan Rebecca Zhang lagi nanti saat istirahat," ujar Yin Lee sambil menepuk bahu adiknya.
"Hhh! Sebaiknya aku berhenti saja," ucap Yang Lee lirih.
"Apa? Tidak! Mana boleh kau berhenti? Kompetisi akan dimulai sebentar lagi, bukan?" Yin Lee yang melihat adiknya mulai menyerah berusaha memberi semangat.
"Hh! Yeah dan aku makin stress karenanya! Aku merasa tidak ada yang bisa mengerti diriku. Jika sampai aku memaksa ikut kompetisi dan aku tidak menang, apa yang akan ayah lakukan padaku? Aku akan tamat, Yin," ujar Yang Lee.
"Itu sebabnya kau harus menang! Aku sangat yakin kau pasti bisa!" sahut Yin Lee.
"Terima kasih," ucap Yang Lee sambil menggenggam lengan kakaknya itu.
Selama ini, memang hanya Yin Lee lah yang selalu menguatkannya.
Bel sekolah berbunyi. Mereka semua siap memulai jam pelajaran. Hanya Yang Lee yang terlihat sesekali melamun dan tidak fokus dengan apa yang diterangkan.
"Yang Lee, coba jawab, berapa lama dinasti Ming menguasai tanah tiongkok?" Guru di depan berjalan mendekati Yang Lee yang nampak gugup.
Ia melirik Yin Lee yang sedang menuliskan sesuatu di atas kertas.
"Berapa?" kejar sang guru sambil berdiri di sisi meja Yang Lee.
Yang Lee tidak berani menoleh ke arah Yin Lee. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil berpikir keras.
Astaga! Urusan dinasti Ming, kenapa ditanyakan padanya? Marga dia 'kan /Lee bukan Ming!
"Emm .... tiga ratus tahun, Pak," jawab Yang Lee setelah melihat jari Yin Lee yang membentuk sebuah angka di bawah meja.
"Hmm ...." Guru Wang nampak tidak puas dengan jawaban Yang Lee sekalipun jawabannya benar.
"Jangan melamun di dalam kelas!" ujarnya tegas.
Yang Lee mengangguk.
"Baik, pak," jawabnya.
***
Jam istirahat ....
Yang Lee kembali menemui Rebecca Zhang yang sedang bersama Jacky Chan dan juga yang lain di kantin sekolah.
"Rebecca ...."
"Terserah kau saja, Yang Lee," jawab Rebecca cepat.
"Benarkah? Jadi, kau mengijinkanku?" tanya Yang Lee tak percaya.
Rebecca Zhang tersenyum sinis.
"Aku bukannya mengijinkan, tapi aku sudah tidak peduli dengan keikutsertaanmu!" tandasnya tegas.