Entah apa yang ada di pikiran juan saat ini, ada apa dengan mama dan faira, kenapa faira harus menikah setelah lulus, dan kenapa juga harus aku, gimana nanti nya hidup yang akan kami lalui, apa akan ada kebahagiaan, sedangkan aku hanya menganggap nya sebagai adik, apa nanti nya tidak akan membuat nya terluka. dan masih banyak pertanyaan yang bergulir di pikiran juan.
....
"apakah aku juga harus mengorbankan masa depan ku demi apa yang di pinta mama, oh tuhan berikan aku jalan keluarnya." batin juan dengan frustasi
juan masih setia duduk di kursi ruang tamu, yang tepat berada tak jauh dari kamar faira,
masih merenungkan apa yang akan di lalukan nya, apakah dia akan menerima permintaan mama nya atau menolak nya. juan benar-benar frustasi karnanya. tak lama kemudian terdengar suara teriakan dari kamar faira. dengan berlari juan memasuki kamar faira yang memang tidak di kunci saat itu.
"kamu kanapa faa?"
tanya juan kebingungan karna mendapati faira yang tiba-tiba teriak dan menangis sesegukan dan seperti ketakutan,
"gapapa kak, aku cuma mimpi buruk aja, udah biasa kak, maaf ganggu istirahat kakak." jawab faira dengan mengusap wajah nya.
juan melihat banyak nya keringat di dahi faira, seburuk apakah mimpi faira hingga membuatnya sangat begitu ketakutan.
"apa mau aku temani faa?" tawar juan pada faira yang masih terlihat jelas ketakutan
"tidak usah kak, aku udah baikan, kakak istirahat aja."
tolak faira dengan sopan dan memberikan juan senyuman tanda bahwa dia sekarang dalam keadaan baik-baik saja.
"yaudah, kalau butuh apa-apa jangan sungkan ya." ucap juan dan berlalu pergi keluar dari kamar faira
ketika sesampainya di depan pintu juan terkejut hinggaakan terjatuh karna mendapati mama nya sudah berdiri di hadapan nya.
"mama, kaya hantu aja ngagetin." kesal juan yang memang sangat terkejut dengan kehadiran mama nya.
"faira mau tidur maa, jangan di ganggu, dia sudah mendingan tadi." jelas juan kepada mama nya
"ada yang ingin mama bicarakan sama kamu juan, mari ikut mama." dan tanpa menjawab juan mengikuti arah langkah mama nya, yang sedari tadi memasang muka serius dan sulit di artikan.
....
setelah sampai di ruang kerja mama nya, juan langsung menempatkan diri pada kursi yang langsung berhadapan dengan mama nya itu. beberapa saat ruangan itu terasa hening tanpa ada salah satu dari juan maupun mama nya membuka suara untuk memulai apa yang akan mereka bahas,
dengan sabar juan menunggu perkataan mama nya , walaupun memang pada dasar nya juan sudah ingin sekali mengetauhi tentang apa yang terjadi.
"gimana jawaban kamu juan, apa kamu bersedia menikahi faira setelah dia lulus nanti?" akhir nya mama juan membuka suara dengan pertanyaan yang menurut juan terlalu terburu-buru.
dan ruangan kembali hening tanpa ada nya suara apapun kecuali suara detik jam yang terus berdenting.
"mama tau nak, ini emang terlalu cepat buat kamu, tapi mama juga bingung harus mengambil langkah yang gimana lagi,
mungkin bagi kamu mama ini egois karna keinginan mama untuk menjadikan faira menantu, sedangkan kamu pun tidak memiliki perasaan apapun terhadap faira," ucap kusuma sambil menahan tangis yang hampir pecah.
"mama hanya ingin melindungi faira" saat kata ini keluar dari bibir kusuma, seketika juan tersentak kaget mendapati pengakuan mama nya
"jelaskan semua secara rinci maa, agar juan memahami nya juga."pinta juan
"pendonor dana terbesar di panti meminta faira untuk bersedia menjadi pengantin nya, jika faira menolak dia akan menuntut panti.
padahal pria itu sudah hampir tua dan sudah memiliki 4 orang istri, makanya mama meminta bantuan mu untuk menikahi faira setelah dia lulus nanti,
jadi biar pria itu tidak mengejar faira terus-terusan, faira sudah banyak berkorban untuk panti,
dan antara bunda maupun mama tidak mau kalau faira sampai jatuh di tangan p****************g seperti dia." jelas kusuma yang membuat juan sangat terkejut dan juan terlihat bungkam dengan apa yang di ceritakan mama nya, penderitaan faira terlalu berat tapi faira sendiri pun tidak terlihat mempunyai beban.
"mama sangat berharap sekalli pada mu juan." sambung kusuma dengan airmata yang sudah banyak tumpah di pipi nya
"faira tau tentang semua ini?" pertanyaan juan yang hanya di beri anggukan pelan oleh mama nya
"jika ini memang untuk kebaikan faira, aku akan membantu nya maa,
tapi aku tidak bisa janji untuk bisa menjadi seorang suami untuk nya, karna dia sudah aku anggap seperti adik ku maa, aku tidak mungkin melukainya,
apalagi mencintai nya, semua itu mustahil. aku cuma takut jika faira terbawa arus dan jatuh cinta kepada ku." ungkapan juan yang tulus ingin membantu faira tetapi tidak ingin melukai nya juga.
"soal itu nanti kita bicara kan bertiga juan, antara mama , kamu dan faira." setelah di rasa nya selesai juan meminta ijin untuk kembali ke kamar nya
"maafkan mama faa,
maafkan mama..." ucap kusuma di balik tangisan nya yang semakin menjadi.
....
juan yang sudah berada di dalam kamar nya lalu membaringkan tubuh nya di atas kasur kebesaran nya, terasa badan nya begitu lelah seharian dam lagi-lagi harus menghadapi kenyataan yang sulit untuk dia pahami.
"semoga keputusan ku tidak menyakiti mu faa.." ungkap juan dan berlalu pergi untuk menjemput mimpi nya
bersambung