Lama sudah di dalam kamarnya, Asha mondar-mandir hanya untuk memikirkan kata saat menghadapi Farras secara langsung.
"Sha, sudah selesai belum?"
Ketiga kalinya pintu kamar Asha diketuk oleh ibunya.
"Masa ganti baju saja selama itu, sih."
Arum yang nampak tak sabar menggerutu dan memutuskan untuk membuka pintu kamar. Namun, Arum menarik napas melihat Asha yang tetap dibalut baju tidur.
"Farras ke sini pasti ada hal penting, kamu malah masih belum siap."
Tentu saja penting, orang Asha yang membuat lelaki itu datang ke rumah malam-malam. Asha menunjukkan wajah memelas saat tangannya ditarik oleh Arum untuk keluar dari kamar.
"Bu, gimana kalau Ibu saja yang menemui Farras?"
"Dia butuhnya kamu, Sha. Bukan ibu, loh."
Terpaksa Asha menemui Farras di ruang tamu bersama ibunya. Dilihatnya, lelaki tersebut tengah berbincang seru dengan Hanum.
"Karena Asha sudah di sini, kalian berdua bicaralah."
Baru saja Hanum bangun dari duduk, siap meninggalkan mereka berdua. Namun, omongan dari Farras membuat Hanum mematung.
"Tetaplah di sini, Om. Aku datang untuk membahas pernikahan."
"Pernikahan?"
Farras tersenyum. "Berhubung Asha sudah setuju, jadi sebagai lelaki tentu wajib menunjukkan keseriusan."
Otomatis Hanum langsung memandang padanya yang hanya bisa menghindari. Melihat suami yang masih kebingungan, Arum tertawa senang.
"Bukankah bagus kalau Asha setuju?"
"Ya, tapi ...."
"Mas yang paling senang Asha menikah, kan?"
Arum memberi kode pada Hanum untuk tidak linglung. Namun, ayah sambungnya malah kembali menatap padanya. Hidup bersama selama bertahun-tahun membuat lelaki tersebut tahu karakter Asha.
"Kamu beneran setuju, Sha?"
Mata Asha memandang pada ayahnya. Teringat dengan tetangga yang menggosipkan dirinya bakal menikah dengan pria lain karena ulah ibu Surya, jika pembicaraan itu tidak terwujud maka rasa malu yang didapat keluarganya.
Terlebih Farras telah mengakui dirinya sebagai calon suami.
"Iya, Yah."
Hanum sempat menarik napas kecil. Bukan karena tak senang Asha bisa menikahi lelaki baik-baik. Hanya saja, omongan tetanggalah yang berhasil mendorong Asha memilih pernikahan.
"Kalian belum lama kenal, apa tidak sebaiknya saling mengenal dulu?"
Arum heran melihat suami yang keberatan.
"Mas, bukannya Mas kenal Farras dengan baik? Kenapa malah kelihatan ragu."
"Bu, Asha yang bakal menikah, harus Asha yang lebih mengenal Farras. Lagi pula seumur hidup itu lama loh."
Pandangan Asha pun terangkat, dilihatnya Farras tengah membisu mendengar penuturan ayahnya. Lalu ... apakah benar? Pernikahan di antara mereka kelak bisa seumur hidup.
"Dari mulai proses pendaftaran sampai perencanaan pernikahan, selama waktu itu kami bisa saling mengenal."
"Bagaimana menurut kamu, Sha?"
Farras memberikan solusi yang direspon anggukan kepala oleh Asha, sekali pun dipenuhi keraguan. Hanum hanya bisa menarik napas dengan pelan, sang anak sudah dewasa, mampu memutuskan tanpa banyak campur tangan orang tua.
***
Asha meraup napas cukup rakus. Tangannya terasa digenggam membuat kepala menoleh, Farras berdiri di sebelahnya berharap bisa meredam kegugupan yang cukup kentara di wajahnya.
"Kalau belum siap, kita bisa datang dilain hari," bujuk Farras.
"Tidak. Bertahun-tahun baru ada komunikasi, aku tidak ingin menghubungi lagi."
Ya, demi memenuhi persyaratan pernikahan. Asha mendatangi rumah ayah kandungnya yang telah menikah lagi ditemani oleh Farras.
Lelaki yang meninggalkan dirinya sewaktu kecil demi wanita. Kalau pun tidak butuh untuk wali, mungkin Asha tidak akan berkunjung.
"Yakin?"
Farras mempertanyakan membuat Asha yang semula ragu hanya untuk mengetuk pintu, kini ia lakukan.
"Bilangnya sore, eh malah baru datang sekarang."
Begitu pintu terbuka, telinga sudah mendengar keluhan. Asha pandang wanita yang telah merebut ayah dari tangan ibunya ini. Hanya selisih berapa tahun saja dari Arum.
"Apa itu Asha? Kamu sudah datang, Sha?"
Sempat Asha ingin menghindar, namun rasa penasaran akan tampang ayah kandungnya membuat Asha menatap. Lelaki yang banyak berubah ini berjalan mendekat, mulai dari wajah hampir keriput hingga rambut yang memutih.
"Ayo, masuk!"
Atas sambutan yang cukup baik dari ayahnya, Asha dan Farras berjalan memasuki rumah. Menduduki sofa yang sudah tidak empuk lagi. Dipandang lebih dalam, Asha menduga ekonomi mereka tidaklah lebih baik ketimbang dirinya.
"Langsung saja, berhubung kalian butuh wali untuk menikah. Dokumen bisa kamu bawa, tapi untuk kehadiran Ayahmu tentu ada syaratnya."
Wanita tersebut langsung mengajukan syarat membuat jemari Asha mengepal. Sudah dirinya duga, pasti ujungnya uang lagi.
"Berapa? Butuh berapa juta." Asha juga tak mau berbasa-basi.
Bibir mengulas senyum sumringah. "Uang tunai saja tidaklah cukup."
Dahi Asha mengerut, ia tak bisa berpikir hal apa yang diinginkan oleh istri ayahnya ini.
"Memangnya hal apa yang lebih dari cukup selain uang?" Farras akhirnya angkat bicara.
"Aku dengar, kamu seorang dokter. Berasal dari keluarga berada juga. Menyekolahkan kedua adik Asha sampai kuliah, lalu menjamin karir serta hunian untuk mereka. Sepertinya itu sudah cukup."
Asha menatap tak percaya pada ayahnya yang membiarkan istri memberikan syarat tak masuk akal.
"Bagaimana Anda bisa menjamin kalau Ayahnya Asha bakal datang dan jadi wali? Bisa saja setelah uang diberikan, malah tidak hadir di pernikahan."
Sangat tenang Farras menghadapi istri ayahnya ini. Berbeda sekali dengan Asha yang ingin berdiri dan mengamuk. Hanya saja, sedari tadi tangannya digenggam oleh Farras supaya tetap tenang.
"Oh soal itu. Kamu bisa penuhi syaratnya setelah kalian menikah."
"Tapi, sebelum itu mari kita buat surat perjanjian."
Farras melihat secarik kertas yang diletakkan di atas meja, sudah dalam bentuk tertulis dan tinggal di tanda tangani. Rupanya mereka telah bersiap sebelum kedatangan Farras dan Asha.
"Nah, silakan!"
Pena yang diraih oleh Farras dan tangan hendak menambahkan paraf, Asha terburu menangkap lengan calon suaminya ini dengan kepala menggeleng.
"Anak kalian baru SD dan SMP, menanggung biaya hingga kuliah saja sudah tidak masuk akal. Ditambah sampai kerja dan bikin rumah."
Istri ayahnya menunjukkan raut angkuh sembari menyadarkan punggung ke sofa.
"Kalau begitu, buatlah surat kematian ayahmu dan menikahlah dengan wali hakim."
"Tidak perlu dipersulit, bukankah hanya sampai mereka kuliah?" Farras menengahi sembari memberikan tanda tangan.
Surat perjanjian tersebut langsung dirampas dan disimpan oleh istri ayahnya sembari tersenyum senang.
"Calon suami kamu sungguh orang kaya yang bijak."
Sepanjang perjalanan pulang, Asha hanya cemberut dan tidak mau bicara sama sekali. Farras yang menyetir pun sesekali melirik.
"Masih marah?"
Ya, dia tahu kalau Asha marah sejak tangan memberikan paraf.
"Kenapa sih, kamu harus penuhi keinginan mereka? Jelas-jelas mengkuliahkan bukan tanggung jawab kamu, terlebih adik siapa lagi itu! Aku tidak merasa punya!"
Farras tersenyum. Dia sepertinya mulai terbiasa dengan karakter Asha.
"Senyum pula!" sewotnya.
"Tenang saja, tak akan mereka dapatkan sepeser pun uang dariku."
Asha segera menoleh pada calon suaminya yang kelihatan sangat yakin ini.
"Bukankah syarat mereka berlaku setelah pernikahan?"
Kepala Asha mengangguk. "Kamu telah menyetujui perjanjian itu, jadi mana mungkin mereka tidak dapat yang diinginkan."
Mengingat hal itu, bibir Asha langsung cemberut.
"Siapa yang bisa menjamin perjanjian itu sah, jika tanpa materai?"
"Tapi, bisa saja kan materai ditambahkan terakhiran, itu tetaplah perjanjian sah. Kamu bakal kena tuntut saat dibawa ke pengadilan," ujar Asha menggebu.
Farras mengulas senyum. "Coba saja."
Asha pandang Farras yang semakin percaya diri saja.
"Administrasi tetap dipermasalahkan karena materai ditambahkan terakhir. Lagi pula jika tanda tangan di perjanjian itu tidak sama dengan KTP."
"Bukankah mudah bagiku untuk mengelak?"
Asha menatap miris, rupanya lelaki yang dianggap baik oleh semua orang ini. Terkadang bisa menjelma jadi manusia terlicik di dunia.