MUSIK 31

1472 Words

Pagi ini, gadis itu sudah siap dengan sayur asem dengan rasa seadanya. Jingga tersenyum riang sambil terus menyuruh keluarga Vano sarapan. Meski mereka masih terlihat sedih. “Ra, makan dong. Kasihan Jingga udah capek-capek masak.” Mei berbicara dan Mara hanya diam di kursinya. Mei bangkit dari duduknya untuk berjalan menghampiri Mara. Ia membenarkan posisi tangan Mara agar mau menggenggam sendok dan garpu secara benar. “Makan,” perintanya lagi. Mara terdiam. “Kalau kamu seperti ini terus, apa bisa Mama bangun lagi, Dek?!” Mara menggebrak meja dengan sendok-garpu yang ia genggam. Mei menahan napasnya, kembali menyuruh Mara menggenggam garpu-sendok. “Makan, Ra. Jangan manja. Di luar sana, masih banyak orang yang nggak punya ibu, nggak punya ayah, dan mereka masih bisa hidup. Mereka ngga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD