MUSIK 33

1165 Words

“Gue tahu hati dia hancur karena Tante Aufa meninggal, tapi nggak gini caranya. Apa salah gue? Bukan gue kan yang bikin Mamanya meninggal? Kenapa gue yang dia hukum?” Jingga berbicara pada angin, mempersiapkan hatinya. Jingga melirik satu kertas bertuliskan dua kata yang masih belum bisa ia cerna. Dua kata yang membuat Jingga berpikir; apa kesalahan yang telah ia buat? Atau apa masalah yang ia buat? Sampai-sampai Vano memberikannya satu kertas s****n yang hanya bertuliskan “KITA PUTUS” tanpa alasan. Boleh Jingga katakan bahwa Vano itu seorang pengecut? Mencoba membuka gerbang, ia melihat pak satpam rumah Vano sedang minum kopi sambil menyerukan namanya. “Pak, Vano ada?” “Di dalam, Neng. Ada temannya juga.” Jingga tersenyum pada pak satpam kemudian melangkah menuju pintu utama. Ia men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD