Malapetaka

1992 Words
*** “Lepaskan aku!” Deru napas Cath memburu disertai dengan manik indahnya yang menatap tajam mencoba untuk mengintimidasi sang lawan. Sementara Max hanya diam sembari mengamati wajah wanita yang begitu ia rindukan. “Cantik.” Cath semakin dibuat kalang kabut saat mendapati wajah penuh damba yang ditujukan Max padanya. Ia berusaha membebaskan diri, tetapi tubuh besar Max tentu dengan mudah mengungkung tubuh kecil Cath hingga tak memberikan celah sedikit pun untuk melarikan diri. “Tujuh tahun,” ucap Max dengan nada menggantung. Cath menahan napas saat jemari besar Max menyentuh lembut pipinya. Wanita itu memalingkan wajah saat Max kian mengikis jarak wajah mereka. “Kau pergi dariku, dan selama tujuh tahun juga aku tersiksa karena itu.” Sapuan lembut dari bibir Max yang menyentuh pipi Cath membuat tubuh wanita itu meremang. Ia berusaha mati-matian agar tak lepas kendali atas tubuhnya sendiri karena sentuhan sensual dari pria yang sialnya amat tampan ini. Max adalah devil bagi Cath. “Kuberi satu kesempatan untukmu, Sayang.” Kini Max menjauhkan sedikit wajahnya dari Cath dan mencengkram dagu wanita itu agar menatap ke arahnya. Wajah yang semula menatap penuh damba dan cinta, kini berganti dengan tatapan nyalang penuh tuntutan. “Kenapa kau meninggalkanku?” Serak dan dalam, pertanyaan sederhana yang membuat Cath melemas tanpa sebab. Jantung wanita itu memompa dua kali lebih cepat dari biasanya. “Katakan dengan mulutmu atau biarkan tubuhmu yang mengatakannya?” Ancaman Max berhasil membuat Cath menegang kaku. Mengenal Max hampir 5 tahun membuatnya mengerti apa maksud kalimat pria itu. “Aku muak denganmu!” bentak Cath setelah terdiam cukup lama. Max hanya diam dengan sedikit kening mengerut, ia tak bersuara dan menantikan kalimat apa yang akan Cath ucapkan berikutnya. “Kau sangat posesif! Melarangku banyak hal, bahkan kau marah atas hal yang tidak kulakukan. Kau gila, Max! Obsesi gilamu membuatku muak. Aku melihat sendiri bagaimana tanganmu itu dipenuhi darah setelah—“ Perkataan Cath dibungkam oleh Max yang langsung menyambar bibir wanita itu. Ia merasakan denyutan nyeri di hatinya saat melihat tatapan penuh ketakutan di manik indah Cath. Ia tidak suka tatapan itu. Tangan kiri Max memeluk posesif pinggang Cath sembari merapatkan tubuh mereka, sementara tangan kanan pria itu berada di tengkuk Cath untuk memperdalam ciuman. Ralat, ini bukan ciuman melainkan cium paksa. Hanya Max yang bersemangat mengulum bibir manis Cath. Cath gemetar dalam rengkuhan posesif pria yang sudah ia anggap sebagai mantan. Demi Tuhan, ia ketakutan sekarang. Iblis penuh obsesi ini berhasil menemukannya setelah tujuh tahun berlalu. Dari sekian banyaknya tempat di dunia yang luas ini, kenapa mereka harus bertemu kembali? Cath memejamkan matanya saat bayang-bayang masa lalu kembali memenuhi pikirannya. Ia pikir setelah tujuh tahun berlalu, Max akan melupakannya dan bersama dengan wanita lain. Ia pikir obsesi pria itu tak lagi tertuju padanya. Namun, perkiraannya salah besar. Max, masih mencintainya. Max masih menatapnya penuh damba, sama seperti tujuh tahun lalu. Sakit. Jantung Cath seperti diremas kuat saat penggalan peristiwa di masa lalu terlintas. Kejadian lampau yang memaksa masuk ke dalam ingatan. Kejadian yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Kejadian yang mengubah sudut pandangnya terhadap Max. Saat itu, tujuh tahun yang lalu. “Apa kau akan pergi cukup lama?” Pertanyaan itu timbul dari seorang wanita yang berusia 23 tahun. Ia berada di pangkuan seorang pria yang tengah sibuk pada laptopnya. Wanita itu tampak mengerucutkan bibirnya kesal karena pertanyaannya tak mendapatkan jawaban. “Sayang!” sentaknya. Pria itu melirik sejenak pada wanita di pangkuannya sebelum berkata, “Hanya dua hari, Sayang.” Cath tersenyum saat Max menjawab pertanyaannya dengan suara berat yang mengalun lembut. Senyum wanita itu kian melebar saat mendapatkan kecupan manis di keningnya dari Max. “Baiklah, aku pegang ucapanmu.” Hening cukup lama sampai akhirnya Cath terlena dengan rasa kantuk. Perlahan manik indah wanita itu tertutup damai. Deru napas yang stabil menandakan ia telah berkelana di dunia mimpi. Selesai dari pekerjaan yang menyiksa, Max mencoba meregangkan otot-ototnya yang kaku. Namun pergerakan pria itu terhalang oleh tubuh Cath yang baru ia sadari masih di pangkuannya. Perlahan tapi pasti, Max menggendong tubuh sang kekasih untuk ia baringkan di ranjang yang tak jauh darinya. Max menatap lamat wajah damai Cath dan menghela napas berat. Ia hendak menuju kamar mandi, tapi langkahnya terhalang oleh suara dering ponsel di nakas. Itu adalah ponselnya. Raut wajah pria itu berubah serius saat membaca nama kontak yang tertera. Ia mengambil ponsel itu dan memilih untuk melangkah ke arah balkon. Tak lama Cath mengerjap pelan saat merasakan sisi ranjang yang lain kosong. Kemana perginya Max? Wanita itu beranjak dari ranjang hendak berjalan menuju luar kamar, tapi sayup-sayup terdengar suara dari arah balkon yang membuatnya berpaling arah. “Max?” gumamnya saat melihat sang kekasih tampak sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Cath tersenyum saat menyadari betapa menggodanya punggung lebar sang kekasih. Ia berjalan perlahan untuk memeluk Max dari belakang, tapi sayang niatnya terhenti saat mendengar perkataan Max yang tiba-tiba. “Aku akan ke sana sekarang.” Tubuh Cath terhenti. Ia mengernyit heran kala mendengar sepenggal kalimat yang diucapkan sang kekasih pada seseorang yang entah siapa. “Tunggu aku.” Perasaan Cath tidak enak. Kepalanya mulai memberikan banyak asumsi buruk. Max sedang menelepon siapa? Apa itu seorang wanita? Kenapa tengah malam begini, Max mau menemui orang itu? Siapa? Apa Max selingkuh? Melihat tanda-tanda Max akan mengakhiri sesi panggilan teleponnya, Cath bergegas kembali melangkah menuju ranjang dengan langkah sepelan mungkin. Ia berusaha kembali pada posisi semula, posisi saat ia tertidur tenang. Benar saja, tak lama Max berbalik dan berjalan menuju walk in closed. Pria itu terlihat mengambil kemeja hitam dan mengganti celananya dengan warna serupa. Pria itu akan pergi sungguhan. Cath berusaha mengatur napas serta mimik wajah tenang agar Max tidak sadar bahwa ia sudah terbangun sejak tadi. Seirama dengan langkah kaki Max yang mendekat, Cath berusaha mati-matian mengatur debar jantungnya. Hangat. Sebuah kecupan singkat Cath rasakan di keningnya sebelum Max melangkah pergi disertai suara pintu yang tertutup. Cath bangkit terduduk di atas ranjang yang terasa dingin. Kepala wanita itu dipenuhi tanda tanya rumit atas sikap Max yang aneh. Apa yang sedang Max sembunyikan? Cath menunduk dalam dengan hati yang terasa perih. Apa benar pria itu selingkuh? Jika benar, apakah selama tiga tahun mereka menjalin hubungan tak berarti apa-apa di mata Max? Jadi, semuanya hanya omong kosong belaka? Sikap dan ucapan manis pria itu, semuanya dusta? Cath tak bisa menahan derai air mata yang memaksa untuk keluar. Pikirannya kalut luar biasa. Suara deru mobil terdengar tanda Max meninggalkan kediaman mereka. Tanpa membuang waktu, Cath melangkah tergesa menyusul pria itu. Ia tak lupa membawa ponselnya. Ponsel yang akan menuntunnya ke lokasi Max berada. Terima kasih atas sikap posesif Max yang memasang GPS satu sama lain di ponsel mereka, sehingga hal itu bisa berguna sekarang. Cath pergi sendiri mengendarai mobilnya. Matanya tak lepas dari ponsel yang menunjukkan titik koordinat Max berada. Pedal gas ia injak dalam disertai deru napas kasar. Pikiran negatif membuat wanita itu tak memikirkan dampak buruk atas laju mobilnya. Aku bersumpah akan mengakhiri hubungan ini jika benar Max selingkuh. Hanya butuh sepuluh menit, Cath tiba di lokasi yang sama dengan Max. Ia mengernyit bingung saat ada dua pengawal sekaligus ajudan sang kekasih yang hanya diam menunduk di jalan masuk sebuah bangunan tua. Kenapa wajah mereka tak menunjukkan raut terkejut atas kedatangan Cath? Cath turun dari mobil, melangkah tegak melewati tiga orang yang berdiri di sana. Mereka hanya diam, hal yang membuat Cath semakin bertanya-tanya. Namun, di sisi lain Cath menghembuskan napas lega. Jika ajudan dan pengawal tersebut tidak terkejut atas kedatangannya, berarti Max tidak sedang selingkuh, kan? Perasaan berdebar-debar nyeri penuh asumsi negatif tadi kini menghilang. Cath melangkah ringan, masuk kian dalam ke sebuah rumah tua yang terlihat mencekam. DOR! Suara tembakan nyaring membuat Cath terkejut. Kepalanya menoleh cepat ke sumber suara. Kakinya melangkah kian cepat dengan perasaan takut. Siapa yang tertembak? Apa Max? Tepat saat kaki jenjangnya menapaki area ruang di sudut bangunan. Hidungnya mencium bau pekat. 
Darah. Napas Cath tercekat bersamaan dengan langkahnya yang terhenti. Di depan sana… Cath melihat seseorang yang sudah tak lagi bernyawa. Seseorang yang bersimbah darahnya sendiri. “JACK!” raungnya pilu berlari mencoba mendekati orang yang begitu ia kasihi. Kakaknya, keluarga satu-satunya yang ia punya. Namun, sebelum Cath berhasil meraih tubuh tak bernyawa sang kakak, tubuhnya lebih dulu ditahan oleh lengan kokoh. Kepala wanita itu menoleh cepat dan terbelalak saat mendapati Max di sana. Pria itu menatap dingin. “Max? Kau yang membunuh—“ “Dia parasit pengganggu, Sayang.” Pupil Cath mengecil disertai rahang yang mengeras penuh amarah dan kebencian. Ia meraung meronta lepas dari rengkuhan pria itu. “k*****t! LEPASKAN AKU!” Max terkesima sesaat. Ini kali pertama Cath berkata kasar dan meninggi padanya. Raungan pilu dan rontaan keras membuat Max melepaskan tubuh sang kekasih. Membiarkan wanitanya itu memeluk tubuh tak berdaya peia yang baru saja ia habisi dengan tangannya sendiri. Tangisan pilu Cath mengisi sunyinya malam. Di saat semua orang terlelap nyaman dalam tidur mereka, sementara Cath menangis pilu sembari memeluk tubuh sang kakak. Dunianya runtuh. Citra baik Max hancur di mata Cath. Wanita itu tak lagi menatap kekasihnya sebagai malaikat pelindung, melainkan iblis dari neraka. Cinta tergantikan dengan kebencian. Dan dari saat itu, Cath terus berulang kali mencoba lepas dari genggaman sang iblis. Rencana demi rencana melarikan diri terus ia susun setiap hari. Hingga akhirnya satu tahun pasca kehilangan sang kakak, Cath berhasil kabur. Cath melarikan diri sejauh mungkin sampai Max tak bisa menjangkaunya. Ia menggunakan koneksi dan beberapa kenalan untuk menghapus jejaknya dari endusan Max. Namun… Kini, 7 tahun telah berlalu dan mereka kembali bertemu. Ini sebuah malapetaka bagi Cath. “Maafkan aku,” deru napas Max di depan bibir Cath menyadarkan wanita itu dari lamunannya. Tujuh tahun berlalu dan selama itu pula ia tak pernah bisa melupakan kejadian mengerikan itu. “Aku tak lagi mencintaimu, Max, jadi biarkan aku pergi.” Wajah Max menegang saat mendengar pernyataan tegas dari Cath. Ia mencoba mencari kebohongan di manik wanitanya, tapi nihil. “Kau berbohong.” Manik mereka bertemu, Cath menatap Max dengan penuh benci. “Apakah kau begitu naif, Tuan?” sinisnya yang berhasil menyentil hati Max. “Sayang, aku—“ “Hentikan semuanya dan jalani hidup masing-masing seperti tujuh tahun belakangan ini.” Max menggeleng tidak terima atas ucapan Cath barusan. “Tidak bisa! Aku benar-benar gila karenamu, tidakkah kau menyadari itu?!” sentak Max murka. “Itu bukan urusanku.” Menyadari ada celah untuk melarikan diri, Cath memanfaatkannya sebaik mungkin. Namun lagi-lagi ia gagal karena Max yang lebih dulu mencekal lengannya. “Kau tidak punya pilihan lain selain bertahan di sisiku, Agathia Catherine.” Kata demi kata penuh penekanan dan Max jelas tak menerima bantahan. Cath berusaha untuk tenang dan membalas tatapan Max dengan pandangan meremehkan, “Jika kau ingin merebut seorang wanita dari suami dan anaknya, lakukan saja.” Bohong! Tentu saja Cath berbohong akan hal itu. Ia harap-harap cemas akan reaksi Max. Namun sepertinya alibi ini berhasil membuat Max melepaskan cekalannya disertai dengan tatapan kosong. Pandangan mereka bertemu cukup lama dalam keheningan. Menyadari bahwa Max dalam keadaan linglung, Cath memanfaatkan hal itu untuk melarikan diri. Hening. Max berada di tengah keheningan ruang hampa, ia menatap kosong pada pintu keluar tempat Cath melarikan diri. Kakinya tak bisa melangkah untuk mengejar wanita itu lagi. Cath, wanitanya itu telah menikah dan memiliki anak? Pandangan Max tertunduk menatap tangannya yang terbuka. Pria itu masih mencerna semuanya, fakta yang baru saja ia terima dan rasa sakit yang sama seperti tujuh tahun lalu saat Cath meninggalkannya. Perlahan, perasaan sedih itu tergantikan dengan debar lain. Tatapannya berubah gelap dalam sekejap. Aura suram menguar menyesaki ruang sempit itu. Max mengeluarkan ponselnya dengan gerak tenang. Tanpa butuh waktu lama, panggilan tersambung. “Tutup segala akses keluar dari club ini dan tahan seluruh wanita yang memaksa keluar. Sekarang!” Panggilan usai sepihak. Max melangkah keluar dari ruang dengan langkah berat bagai vonis mati bagi Cath yang mencoba pergi lagi. “Aku akan dengan senang hati mengotori tanganku dengan darah suami dan anakmu, Cath. Kau hanya milikku. Selamanya.” Kalimat yang terdengar sebagai vonis untuk orang yang berani merebut Cath darinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD