“VINA!” bentak papa marah. Mama Nova sudah bergetar oleh teriakan papa. Tapi aku tidak sama sekali. Dengan kepala yang masih pusing aku berdiri meski pun aku tak bisa berdiri dengan tegak. Aku menatap netra laki-laki yang sudah membesarkan aku. “Papa tahu, aku nggak pernah bermimpi untuk punya ibu tiri, mama aku cuman satu dan itu untuk selamanya. Selama ini papa jarang pulang ke rumah, aku sendiri Pa, aku kesepian, aku butuh kasih sayang, tapi papa hanya kerja, kerja dan kerja, papa nggak pernah punya waktu untuk aku, papa selalu sibuk dengan urusan papa sendiri. Dan sekarang! aku begini papa nyalahin aku, bukan aku yang salah, bukan aku. Tapi papa.” Lirih ku tepat di wajahnya, air mata ku sudah tak bisa aku bendung lagi, sesak yang tiba-tiba menjalar dalam hati ku membuat d**a ku sesa

