Murid Tak Tahu Malu

1008 Words
“Pertama, kamu tidak mengerjakan tugas. Kedua, kamu berniat bolos. Ketiga, kamu tidak ingin meminta maaf. Keempat, kamu bilang saya sombong bahkan mengatai saya dengan sebutan Hulk. Apa adalagi Elvina?” William mengabsen kesalahan Elvina hari ini dengan nada setenang mungkin. Untung saja tidak selama ia menjadi mahasiswinya, karena itu akan memakan waktu 2 minggu lamanya. “Tidak, Pak. Baru segitu sih.” Lagi-lagi Elvina menjawab dengan tenangnya. “Elvina!” teriak William murka, ia sudah tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa untuk menghadapi muridnya yang kurang ajar dan tidak tahu malu ini. Elvina sudah sering menggali kuburannya sendiri saat berhadapan dosennya itu, tetapi yang membuat seluruh penghuni kampus kagum yaitu lolosnya Elvina dari kematian. Hebatnya lagi, Elvina seolah tak pernah jera dan terus mengundang malaikat maut untuk menjemputnya ke alam lain. “Pak tolong, ya? Vina gak b***k. Lagian, Bapak jangan galak-galak makanya. Coba kalo Bapak baik, Vina pasti gak bakal bolos,” gerutu Elvina mewakili mahasiswa lainnya. Nadanya bicara seolah sedang bicara kepada temannya dengan rengekan yang malah membuat William semakin jengkel. William memasang wajah murkanya seakan-akan ingin melemparkan Elvina ke Benua Antartika dan menitipkannya kepada penduduk di sana. Siapa tahu ada yang membangun pesantren di sana? “Oke, oke. Santai, Pak, santai. Maafin Vina, ya? Vina nanti kerjain tugas Bapak kok.” Elvina mulai bergidik ngeri melihat tatapan William yang seperti akan berubah wujud menjadi hulk yang siap merobohkan gedung kampus. “Nanti? Tapi hari ini kamu mau bolos dulu, gitu?” tanya William penuh penekanan sambil menunjukan-nunjuk ke meja menekankan kata ‘hari ini’. “Sekarang gini deh, hukuman Vina apa? Langsung aja,” tanya Elvina yang sudah mulai gerah berada di ruangan itu, ujung-ujungnya dihukum juga. Jadi langsung ke intinya saja, pikirnya. William puas. Akhirnya, murid durhakanya sendiri yang meminta hukuman darinya. Dengan semangat yang berkobar di jiwa dan raganya, ia berkata, “Kamu bawa itu semua ke perpustakaan,” perintahnya menunjuk dengan ibu jarinya ke arah buku-buku yang menumpuk di sana. Elvina memutar kepalanya ke arah yang ditunjuk sang dosen. Mendadak matanya melotot horor, dengan segera kepalanya kembali ke arah depan, menatap dosennya yang sedang memasang wajah acuh tak acuh. “Ta—” Elvina ingin membantah, tetapi William tak ingin mendengar diskusi apapun lagi dengan muridnya yang kurang sehat ini. “Semuanya! Kamu dengar?” tegas William tanpa ingin dibantah lalu menghentakkan kakinya sebelum pergi meninggalkan Elvina yang masih mematung dengan bibir mengatup sebal. Elvina tak henti mengumpat sambil komat-kamit, membawa buku-buku besar yang menumpuk di ruangan dosennya itu. Ia sampai 3 kali mondar-mandir untuk menyicil membawa buku-buku itu ke perpustakaan. Dan kini, ia malah duduk dengan santainya di ruangan William, menyandarkan tubuhnya di sofa. Tubuhnya berkeringat cukup banyak karena lelah. Lamanya bersantai di sana, membuatnya ngantuk hingga hampir saja ketiduran, tetapi suara pintu terbuka menganggu kenyamanannya. Cklek “Dan kamu masih di sini? Ngapain?” bentak William ketika melihat Elvina dengan santainya mengibaskan tangan ke wajahnya yang berkeringat sambil memejamkan matanya. Elvina membuka kelopak matanya, lalu menunjuk sisa buku untuk ia antarkan ke perpustakaan. Tanpa mengatakan apapun, ia beranjak berdiri dan membawa buku-buku itu untuk yang terakhir. Sedangkan William nyengir kuda karena puas melihat Elvina kelelahan. Sebenarnya Elvina gadis yang cerdas, akan tetapi kesalahannya hampir sama, yaitu terlambat datang jika kuliah pagi dan tidak mengerjakan tugas dari dosennya yang bernama William. Elvina menilai William terlalu apik, apalagi jika telat datang. Pria itu akan nyerocos ala emak-emak yang lagi ghibah dan karena itulah, William dan Elvina hampir tidak pernah akur. William yang perfectionist, apapun harus sempurna. Sedangkan Elvina, tidak suka bertele-tele dan tak terima jika kesalahan kecilnya diperbesar oleh William. Beberapa minggu kemudian Elvina ingin mencari pekerjaan sampingan di sela-sela waktu kuliahnya. Tak dapat dipungkiri, Elvina membutuhkan uang tambahan untuk menutupi biaya kehidupannya di Kota Jakarta. Selama ini, baik saat di Bandung ataupun Jakarta, Elvina sudah sering bekerja paruh waktu seperti menjadi karyawan cafe, toko kue, restoran dan yang lainnya. Saat di Jakarta, ia sempat menjadi karyawan di sebuah butik, tapi masalahnya ia dipaksa bosnya untuk menjadi modeling karena bentuk tubuh Elvina yang ideal tapi tak berlebihan karena alami tanpa perawatan apapun. Namun, Elvina terus menolak karena ia harus memakai pakaian yang sangat terbuka. Walaupun gajinya sangat tinggi menurutnya, tetap saja ia tak bisa melakukan itu sehingga ia mengundurkan diri karena bosan mendapatkan tekanan dari bosnya. Lalu, ia sempat menjadi karyawan di sebuah restoran. Saat bekerja di sana, ia sering dicurigai oleh anak pemilik restoran tersebut sebagai wanita yang suka menggoda ayahnya yaitu bosnya dan tentu Elvina tak lama bekerja di sana dan segera mengundurkan diri sebelum semua orang mencibir yang lebih dari itu padanya. “Mel, Tan, cariin gue kerjaan dong. Gue mau kerja sampingan,” pinta Elvina seraya membaca buku yang berada ditelapak tangannya. Kacamata yang dipakai di mata indahnya, membuatnya semakin terlihat manis. “Lo ikut gue aja napa?” ajak Melia untuk ikut magang di kantor tempatnya magang tentunya. “Atau ikut gue? Kak Adit punya jabatan di sana. Gampang lo kalo mau ikut,” sahut Tania yang juga menawarkan magang di kantor tempatnya magang. “Gue lagi gak mau berurusan sama berkas-berkas sialan! Apalagi kalo ikut lo, Tan. Dimana harga diri gue? Bisa tambah bertingkah tuh dedemit.” Elvina jelas ogah-ogahan dengan nada tak tenang. Mereka memang tidak mengambil studi yang sama, salah satunya Melia yang mengambil studi akuntansi. Melia magang bagian divisi keuangan sedangkan Tania magang di perusahaan milik ayah William, Abizard Group. Bisa semakin angkuh dosen yang bernama William itu jika Elvina magang di perusahaan ayahnya, jelas Elvina menolak mentah-mentah. “Terus mau lo apa? Emang kita studinya itu! Lagian, Pak Willi gak menjabat di sana tuh. Dia gak bakal tau lo magang di sana,” jawab Tania yang mengambil studi yang sama dengan Elvina yaitu studi administrasi perkantoran. “Gue mau nyobain kerjanya tuh di rumah-rumah gitu. Kayak ngurusin orangtua di panti, pengasuh atau babu sekalian. Sumpah gue lagi gak mau masuk perkantoran.” Elvina menjawab tanpa memperdulikan kedua temannya yang menatap tak percaya. Sehingga Tania dan Melia saling memandang satu sama lain, juga menatap Elvina yang sedang fokus membaca buku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD