" Ha ha ha ha ha ha!!! " tuan Alan tertawa terbahak-bahak melihat raut kekhawatiran pada wajah Armela, entah kenapa melihat ekspresi gadis itu yang resah membuatnya senang dan makin semangat untuk menggodanya lagi .
" Kenapa ? apa kamu takut orang-orang akan bergosip mengenai kamu ?"
" Padahal kamu sendiri yang bilang kalau aku boleh atau tidak memberitahu kepada orang luar tentang status kita, lalu kenapa kamu masih malu bila mereka membicarakan tentangmu " cibir tuan Alan pada Armela.
* Pria ini _ *
Armela saat ini sangat geram dan juga marah karena harus mendengar banyak cibiran terhadap dirinya namun bagaimanapun hal itu Armela tidak boleh marah di hadapan Tuan Alan karena bila hal itu sampai terjadi maka semua rencana balas dendam yang telah Armela siapkan akan hancur berantakan sebelum memulainya.
" Aku tahu _ "
" Aku , itu terserah padamu mau mengakui aku di luar sebagai istrimu atau tidak yang jelas saat ini hatiku belum siap " jawab gadis polos itu mencoba bersikap tenang untuk menyembunyikan kekhawatiran dalam hatinya.
" Jadi begitu ya _ sayangnya aku ingin sekali melihatmu ditertawakan sepertinya menarik _ seperti yang dilakukan oleh para suster tadi ?" jawab tuan Alan kejam.
Mendengar perkataan Tuan Alan seperti sebuah cambuk yang menyayat hatinya, rasa sakit itu kini telah bertambah lagi bagaimana bisa dengan ringan pria yang duduk di sebelahnya saat ini begitu terlihat senang dan juga bahagia saat melihat dirinya di olok-olok oleh orang lain apakah benar bahwa pria kaya seperti Tuan Alan tidak memiliki hati.
Armela menatap ke arah pria itu dengan rasa tidak percaya bahwa hanya dalam waktu 3 hari bukan hanya sakit secara fisik yang harus diterima namun juga harus menerima kenyataan bahwa pria yang melakukan gencatan senjata dengannya ternyata adalah seorang iblis berwajah tampan yang begitu senang melihatnya menderita.
" Tuan Alan aku pikir kamu hanya seorang pria cabul saja tapi ternyata kamu juga orang yang sangat kejam dan tidak perasaan ! apa ini adalah hobimu yang akan merasa senang bila melihat orang lain menderita ?! "
" Hah ! apa semua pria kaya akan bersikap bejat sepertimu ? " maki Armela kesal.
Namun memang pada dasarnya Tuan Alan adalah seseorang yang sangat menyebalkan pria itu malah tersenyum ke arah Armela dengan wajah mengejek sehingga makin membuat perasaan Armela sangat kesal dan juga marah sehingga untuk melampiaskannya tanpa diduga gadis polos itu menggigit telinga pria tampan itu dengan kuat.
" Akh!!!!!!!! apa yang kamu lakukan ! dasar_ wanita gila ?! " bentak tuan Alan pada Armela setelah berhasil menghempaskan tubuh gadis itu dengan kasar ke arah pintu.
" Apa kamu ingin mati ! " maki tuan Alan sembari menghentikan mobilnya secara mendadak "
AW _ telingaku " gumam tuan Alan kesal sembari memeriksa telinga'yang terlihat memerah karena digigit oleh Armela.
Sementara Armela hanya bersikap acuh pada tuan Alan sehingga makin membuat tuan Alan geram.
" Beraninya kamu padaku_ aku jamin kamu akan menderita karena hal ini ! " ancam Tuan Alan pada Armela.
" Never ! "
" You _ " sebuah tambahan tiba-tiba melayang pada wajah Armela sehingga membuat suasana didalam mobil itu makin canggung dan panas,
" aku tidak takut padamu_ yang jelas aku tidak mau ikut denganmu saat ini, terima kasih atas tumpangannya " kata Armela singkat dan hendak keluar dari dalam mobil itu,
" Hai ! mau kemana kamu ? " cegah tuan Alan saat Armela ndak turun dari mobil pria itu menahan tangannya dengan kuat.
" Lepas ! "
" Urusan kita belum selesai, _ "
" Masalah kita aku tidak perduli lakukan saja apa yang kamu inginkan, tuan Alan !" jawab gadis polos itu ketus sembari melepaskan pegangan tangan tuan Alan secara paksa.
" Ok ! kita lihat saja siapa yang akan memohon ! " jawab tuan Alan marah saat gadis itu benar benar turun dari mobilnya saat ini.
Tuan Alan hanya bisa mengepalkan tinjunya sembari mulai menjalankan kembali mobilnya karena arus lalulintas mulai terganggu sejak dia berhenti tadi secara mendadak.
Armela menggantikan langkah kakinya sejenak dan menoleh untuk melihat mobil tuan Alan yang beranjak pergi dari kejauhan, perasaannya saat ini tidak bisa gadis itu gambarkan dengan kata kata,
Ada sebongkah amarah yang dia pendam sendiri untuk hidupnya yang sekarang, air mata gadis itu sedikit menetes matanya memerah dengan langkah gontai dan lemas gadis polos itu menyusuri jalanan yang ramai namun sepi dihatinya.
Armela tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang apakah rencana balas dendam yang dia inginkan akan berakhir baik sementara saat ini hatinya tidak memiliki pijakan yang kokok, mendapat sedikit sindiran dan ejekan dari tuan Alan saja Armela tidak bisa menahan dirinya lalu bagaimana mana bisa dia membalas dendam pada pria itu ?
Armela berfikir apakah tepat apa bila dia harus bersikap bodoh dan baik pada pria itu dengan menjadi wanita sandarannya? apakah perlakuan yang akan dia terima akan bisa membuat pria berhati kejam itu tersentuh ataukah malah hatinya sendiri yang akan terluka, lagi .....
* Ayo ! *
Akhirnya Armela memantapkan langkahnya meski dirinya sendiri tidak yakin dengan semua rencananya tapi yang jelas saat ini dia harus memberi pelajaran dan juga peringatan kepada mereka, para pihak manajemen tempatnya bekerja yang tidak pernah memberikan dukungan apapun padanya,
#######
Ruangan manajemen apartemen mewah.
#######
Pak Jono tersentak kaget ketika memasuki ruang kerjanya karena melihat Armela yang sudah duduk sendiri menunggunya,
" Ah ! Armela kamu membuat bapak kaget saja "
". Bapak pikir kita tidak akan melihatmu lagi " sapa pak Jono basa basi sembari merapikan jas yang dia kenakan sebelum duduk di hadapan Armela sementara gadis itu hanya melihat datar.
" Apa yang membuatmu datang kemari ? apa kamu ingin kembali bekerja ? " tanya pak Jono.
" Apa begini sikap anda sebagai seorang atasan! " tanya Armela sengit.
" Kamu jangan salah paham aku disini bukannya tidak berperasaan hanya saja ada banyak hal harus lebih diutamakan terlebih dahulu " kilah pak Jono.
" Benarkah ? apa menutup mata dengan apa yang saya alami itu salah satunya? " cibir Armela.
" Armela ' dengar dari pada kamu menuntut keadilan kepada saya kenapa kita tidak berdamai saja ? "
" Itu akan lebih menguntungkan bagi kita berdua, saya paham bahwa kami sengaja mengabaikan dirimu tapi itu semua demi nama baik tempat ini "
" Dan lagi pula tuan Alan mengatakan kalau dia akan bertanggung jawab atas segalanya bukankah itu bagus untuk mu ;"
" Setidaknya umpan yang engkau pasang mendapatkan hasil yang maksimal bahkan cenderung mengejutkan " kata pak Jono berpendapat.
" Apa bapak pikir saya sengaja melakukannya! " sela Armela marah.
" Iya' karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan tuan Alan. "
" Jangan berpikiran bodoh terima saja kompensasi yang diberikan demi kebaikanmu sendiri "
" Kamu tahu betul Armela bahwa orang luar tidak akan mendengar perkataan orang miskin " pak Jono berdalih.
" Aku tidak percaya bahwa bapak akan berkata seperti ini pada saya, ......... aku, _"
" Jika kamu ingin kembali bekerja aku tidak masalah, yang jelas anggap saja hal itu tidak pernah terjadi "
ucap pak Jono pada Armela yang sedari tadi hanya diam karena harus menahan rasa sakit hati dan juga kecewa akan sikap pak Jono.
Gadis itu secara diam diam menyembunyikan amarahnya, dia hanya bisa menekan semua kemarahan itu dalam tinjunya karena untuk saat ini memaki pria tua itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
" Baik aku terima tapi aku punya dua permintaan" pinta Armela pada pak Jono
" Katakan saja " jawab pak Jono santai.
" Naikkan gaji ku menjadi 3x lipat dengan pengurangan jam kerja dan aku bebas memilih tempat dimana saja yang ingin aku kerjakan "
" Apa ?! dasar wanita licik ...... ehm, baiklah " jawab pak Jono akhirnya.
" Oh ya satu lagi saya tidak akan memulai kerja besok pagi tapi_ ....... saya akan mulai setelah semua bekas luka di tubuh saya hilang "
" Hai ! apa kamu pikir ini perusahaan keluarga ' !! " bentak pak Jono kesal
" Bukan, ....... tapi ini perusahaan yang memberikan saya kompensasi untuk memilih memanfaatkan situasi, benarkan ? "
jawab Armela sambil tersenyum sinis kearah atasannya itu.
" s**t ' " umpat pak Jono pelan.
Kedua orang didalam ruangan itu hanya akan saling menatap tajam dalam pikiran Armela saat ini dia harus bertahan dengan kesabaran agar bisa membalas semua rasa sakit hatinya kepada orang orang yang telah mengabaikan dan meremehkannya saat dia terjatuh.
##### kamar kos ###$$
Armela baru saja merebahkan tubuhnya yang masih sedikit terasa sakit dan pegal di atas kasur di kamar kosnya, sudah 3 hari gadis itu tidak tidur di tempat itu karena harus menginap di rumah sakit akan tetapi rasa nyaman seketika itu hilang saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
" Lagi di mana kamu ? " sebuah suara serius tiba tiba menyambar telinga dengan kuat tanpa mengucapkan salam.
" Siapa ini ? " tanya Armela bingung.
" Apa kamu lupa kita baru saja bersama tadi siang "
" Tidak usah basa basi cepat datang ke sini, aku memberimu waktu 30 menit untuk ke M KTV "
" Hai !" bentak Armela kesal.
" Apa kamu gila atau kamu tidak waras ini sudah sangat larut malam dan aku tidak bisa keluar ?! " tolak Armela beralasan.
" Alasan aku tidak mau tahu yang penting kamu harus datang ke sini secepatnya " perintah tuan Alan memaksa.
" Apa hak kamu untuk menyuruhku melakukan hal konyol seperti ini ?' "
" Apa kamu tidak punya hati meminta seorang gadis untuk pergi ke klub tengah malam begini ?"
" Itu hanya berlaku untuk gadis polos "
" Jika kamu berkilah aku akan menyerahkan bukti pemerasan yang baru saja kamu lakukan kepada manajemen gedung, " ancam tuan Alan
" Dasar brengsek ! " maki Armela kesal pada sikap tuan Alan " Ah !!! " ternyata selalu mengawasi gerak geriknya.
" Aku tunggu ' " kata tuan Alan di penghujung telepon.
" Tapi _ " belum sempat Armela beralasan panggilan itu sudah terputus,
Sementara di tempat lain tuan Alan merasa sedikit senang karena bisa membuat gadis angkuh itu tersudut, sebuah senyuman bias mengembang diwajahnya sehingga membuat sahabatnya Rudi penasaran,
" Apa ada hal istimewa kamu terlihat bahagia? " tanya Rudi penasaran.
" Tidak ada aku hanya sekedar mengingat sesuatu yang lucu tadi sore."
jawab tuan Alan berbohong.
Padahal didalam benak pria tampan itu sedang membayangkan sebuah rencana jahat untuk bermain dengan Armela semakin seru.
" Pembohong, ....... " cibir Rudi tak percaya.
" Itu benar, ....... hai . apa kamu percaya bila aku menikah ? " tanya tuan Alan.
" What's! menikah ? pergilah ke neraka mana bisa pria brengsek seperti dirimu bisa menikah. " ejek Rudi.
" sialan,............ aku _ "
" Apa ? "
" Sudah lah, .......... nanti juga kamu tahu sendiri "
" Apa maksudmu ? jangan katakan kamu mengundangnya kesini ? " tanya Rudi.
Tapi pria tampan itu hanya tersenyum manis dan mulai menikmati minumannya dengan santai .
Mohon dukungannya dengan banyak memberi like dan komentar jjjj.
.