Setelah perbincangan singkat dengan pak Mugiono mba Ida langsung menuju belakang, untuk menyimpan barang barang pribadinya di loker dan segera bersiap memulai pekerjaan rutinnya di gedung mewah itu, mba Ida sudah bekerja dengan tuan Alan hampir satu tahun jadi dia sudah memiliki kunci sendiri,
Tanpa adanya pikiran apa mba Ida langsung masuk ke dalam apartemen tuan Alan sambil mengucapkan salam secara pelan, mba Ida berfikir kalau tuan Alan pasti sudah pergi kerja seperti biasanya, karena meski mba Ida sudah bekerja di tempat ini hampir satu tahun sangat jarang bisa bertemu dengan tuan Alan.
" Selamat pagi tuan_ permisi ah, sepertinya tuan Alan sudah pergi_ baiklah aku bersihkan saja dulu ruang kamarnya baru kemudian pindah ke yang lain" kata Mbak Ida pada dirinya sendiri saat memasuki apartemen tuan Alan,
Mbak Ida sudah bekerja di tempat tuan Alan selama hampir 1 tahun sehingga dia sudah memiliki kunci untuk masuk ke dalam apartemen tersebut, tanpa adanya perasaan curiga mba Ida langsung membuka pintu kamar tuan Alan dan alangkah terkejutnya dia saat melihat keadaan kamar tersebut yang tidak biasa seketika Mbak Ida menjerit
" Ahhhhhh !!!! , tuan Alan ?! " teriak mba Ida tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini,
" Tuan_ tuan Alan_ oh ya Tuhan..... apa yang sedang tuan lakukan ? " kata Mbak Ida tidak percaya dengan apa yang dia lihat Mbak Ida tidak bisa melepaskan pandangannya dari hadapan tuan Alan pikirannya seperti sedang terhipnotis untuk menyaksikan sebuah serial trailer kejam yang sedang berlangsung secara life dihadapannya.
Sementara tuan Alan yang awalnya masih asik menyiksa Armela untuk mengoral alat kelaminnya terlihat sedikit kesal karena aksinya sudah ketahuan dan menjadi tontonan orang lain dengan sangat terpaksa dan mau tak mau pria itu melepaskan Armela yang sudah hampir mati karena kehabisan nafas.
" Hk huuk huk _ Armela terbatuk-batuk bersyukur akhirnya seperti baru saja hidup kembali dengan bersusah payah mencoba bernafas, gadis itu menarik nafasnya panjang berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya yang hampir kosong.
Setelah beberapa menit dengan keadaan yang sangat menyedihkan dan lemah lunglai tak berdaya Armela berusaha untuk bangkit, gadis itu merintih sembari menatap kearah Mbak Ida dengan sendu dan berkaca-kaca seolah sedang memberitahunya memintanya untuk membantunya.
" Tolong _ aku tolong _ " pinta Armela dengan rintihan minta tolong yang begitu lirih dan lemah sembari berusaha merangkak ke arah Mbak Ida.
Melihat keadaan yang Armela yang begitu menderita Mbak Ida langsung bergegas menghampiri gadis itu lalu dengan sigap segera menutupi tubuh Armela dengan sprei yang diambil dari atas tempat tidur.
" Ya Tuhan_ apa yang sudah terjadi padamu ? " tanya Mbak Ida linglung dengan semua ini.
Armela hanya menangis sejadi-jadinya bibirnya terasa kelu untuk bercerita tentang keadaannya saat ini, mba Ida memeluk tubuh Armela erat guna menenangkan diri.
" Tuan _ apa yang sudah tuan lakukan padanya ? kenapa tuan begitu kejam ! " kata Mbak Ida marah.
" Oh Armela kenapa kamu _ nasibmu begitu buruk menimpa dirimu, sayang " tutur mba Ida merasa iba melihat keadaan rekan sejawatnya harus menjadi korban pelecehan seksual oleh bos-nya.
" Aku mohon tolong aku Mbak_ Mbak_ Mbak tolong aku _ aku mohon _ " kata Armela mengiba kepada Mbak Ida dengan air mata yang terus berlinang di wajahnya.
Sedangkan tuan Alan sendiri hanya bersikap cuek dan tenang bahkan sangat tenang tidak ada ekspresi cemas ataupun takut serta khawatir sedikit pun yang tersirat dari air mukanya yang tampan yang membebani pria kaya itu, seolah-olah hal seperti ini sudah biasa dia lakukan sebelumnya.
Tuan Alan masuk ke dalam kamar mandi dan mengenakan jubah tidurnya lalu dengan bersikap santai dan arogan pria itu hanya berjalan melewati kedua wanita itu dengan bersikap dingin sembari menyalakan rokok lalu duduk di kursi sebelum berkata,
" Cepat bawa dia pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran atau bibi mau menggantikannya disini ?! " perintah Tuan Alan acuh.
" apa? _ kenapa tuan begitu kejam apa salah gadis ini ! sehingga tuan melakukan ini padanya ? "
" Kali ini bibi tidak bisa membiarkan perbuatan Tuan begitu saja bibi terpaksa melaporkan hal ini kepada pihak manajemen dan juga polisi ! " jawab Mbak Ida lantang untuk membela Armela.
" Diam kamu ! bentak tuan Alan marah pada Mbak Ida dengan tatapan mata yang begitu tajam dan sadis menatap kearah dua orang wanita yang saat ini sudah membuat nafsunya hilang dan juga muak.
" Jangan ikut campur urusanku_ jika hidupmu masih ingin tenang disini mengerti ! "
" Bawa saja pergi perempuan sialan itu dari sini dan aku ingatkan jika hal ini sampai pada polisi, maka aku pastikan anakmu besok yang akan menjadi korban selanjutnya, akan berada di bawah kakiku_ apa bibi mengerti ?! " kata Tuan Alan dengan sorot matanya yang tajam menatap kearah Mbak Ida sehingga membuatnya hanya menunduk takut, jangankan orang kecil seperti Mbak Ida semut saja akan mati bila mendapatkan tatapan tajam itu.
" Aku harap Tuan tidak menyesal ! saat Tuhan membalas semua perbuatan tuan pada gadis malang ini !! " tegur
" Diam ! _ aku bilang diam _ ! jika bibi masih saja terus memberontak aku tidak akan segan-segan untuk menyakitinya lagi ! "
" Apa bibi mau melihat bagaimana aku melecehkannya ?! hah !! " ancam tuan Alan.
" Bibi aku mohon tolong aku_ tolong bawa aku pergi dari sini _ aku mohon ..... " pinta Armela ketakutan pada Mbak Ida.
" Tapi Armela apa kamu akan membiarkan hal ini begitu saja Tuan Alan harus bertanggung jawab atas perbuatannya kepadamu ? " jawab Mbak Ida berusaha membujuk Armela untuk tenang.
" Ada bibi disini jadi kamu tidak perlu takut "
" Tidak _ tidak ! bi _ ! aku mohon bawa aku pergi dari sini _ aku tidak mau di sini lagi, aku mohon_ aku mohon.... " pinta Armela ketakutan.
" Tenang Armela_ tenang !"
" Baiklah aku akan membawamu pergi ke rumah sakit terlebih dahulu, tapi Tuan harus ingat bahwa urusan ini belum selesai " mba Ida mencoba memberi peringatan kepada tuan Alan.
" Oh ya? benarkah begitu_ tapi menurutku aku sudah selesai. mulai hari ini aku tidak ada urusan apa-apa lagi dengan bibi !"
" Aku hanya akan mengingatkan sekali lagi jika berita ini sampai tersebar keluar ! aku pastikan besok anakmu yang akan bernasib sama seperti Armela !! " ancam tuan Alan tegas.
" apa' ya Tuhan... "
" Cepat pergi dari sini !! " perintah Tuhan Alan kasar.
Mbak Ida kemudian mencoba membantu Armela berdiri, dia memapah tubuh Armela keluar dari ruangan itu dengan tertatih-tatih karena keadaannya yang begitu lemah.
Sementara sepanjang perjuangannya untuk bisa keluar dari tempat terkutuk ini Armela harus menahan semua rasa sakit pada alat kelaminnya dan juga sekujur tubuhnya.
Saat meninggalkan tempat itu dalam hati Armela bersumpah ** seumur hidupku aku membencimu alan, aku membencimu dan aku bersumpah kamu harus membayar semua rasa sakit ini **
** Aku akan membuatmu menyesal !!! **
Mbak Ida membawa Armela turun menggunakan lift barang sebab mba Ida tidak ingin Armela menjadi tontonan orang orang bila harus menggunakan lift orang setelah sampai di bawah mba Ida segera meminta bantuan pegawai apartemen yang lain untuk mengantar mereka kerumah sakit menggunakan mobil operasional perusahaan secepatnya.
Sementara di tempat tuan Alan sedang menelepon seseorang dan berkata,
" Apa salah seorang pegawai mu sudah membuat laporan ? jika ada tolong kamu selesai semuanya dengan baik "
" Memangnya ada masalah apa tuan Alan ? " tanya sang manajer apartemen selaku yang bertanggung jawab di tempat itu.
" Aku baru saja sedikit bermain main dengan salah seorang petugas kebersihan jadi tolong kamu urus ya '
" Baik tuan saya akan segera membereskannya, tuan tenang saja " jawab pak manager alias pak Jono patuh pada perintah tuan Alan.
" Baiklah jika sudah selesai nanti aku akan menemui. "
" Baik tuan "
RUMAH SAKIT.
Mba Ida baru saja sampai kerumah sakit dan hendak mengantarkan Armela keruang UGD saat pak Jono tiba tiba memanggilnya melalui telepon selulernya yang terus berdering sehingga membuatnya kesal,
" Selamat pagi pak Jono ada apa ya pak ? " tanya Mbak Ida.
" Dimana kamu sekarang ? apa kamu sedang berusaha membolos kerja ya ! kenapa sampai sekarang belum juga datang ?!" tanya si _ bos marah.
" Maaf pak saya tadi sudah bekerja pak hanya saja_ Armela pak _ dia ?" jawab Mba Ida memberi alasan yang sebenarnya pada atasannya itu tapi segera dibantah oleh pak Jono dengan berkata,
" Kamu nggak usah bikin alasan ya cepet balik ke sini kalau tidak kamu saya pecat ! " perintah pak Jono marah kemudian sambungan telepon seluler itu mati,
Mba Ida hanya terdiam, pikirannya bingung dengan situasinya saat ini apa yang harus dia lakukan apakah meninggalkan Armela sendirian di rumah sakit ? tapi jika mba Ida tidak kembali sekarang ke tempat kerja maka dia akan di pecat duh ...... bagaimana ini.
* Maafkan saya ya Armela saya tidak bisa membantu kamu lebih, sebab ini satu satunya mata pencaharian utama keluarga ku kalau aku sampai di pecat anak anakku makan apa nanti. *
* Semoga tuhan membantu semua masalah yang sedang kamu hadapi saat ini *
Dengan berat hati mba Ida akhirnya pergi dari rumah sakit untuk segera kembali ke tempatnya bekerja bersama staf lainnya yang tadi membantunya, di sepanjang perjalanan mereka sedikit berdiskusi mengenai nasib malang yang baru saja Armela alami namun apalah daya tangan mereka terlalu kecil untuk melepaskan diri dari simpul kekejaman dunia.
Sekembalinya mba Ida ke apartemen tempatnya bekerja pak Jono langsung memanggil mereka semua yang melihat peristiwa itu keruangan kerjanya, di
sana mereka diminta untuk tidak membicarakan peristiwa ini ke publik sebab akan berpengaruh buruk terhadap reputasi tempat hunian mewah ini.
Berita sekecil apapun yang menyangkut tentang hunian ini bisa menurunkan harga jualnya di pasaran yang saat ini sudah selangit, pak Jono juga meminta kepada mba Ida untuk tidak melaporkan hal ini ke polisi sampai pihak official bisa menyelesaikan masalah ini dengan bijak bersama tuan Alan,
Sebab mereka semua belum tahu alasan atau motif sebenarnya di balik peristiwa itu kenapa pemerkosaan itu bisa terjadi,
apakah memang salah tuan Alan ataukah Armela yang sengaja merayu tuan Alan tidak ada yang tahu ?.
" Aku minta sama ibu Ida dan pak Mugiono jangan bicara apapun mengenai masalah ini ? " pinta pak Jono.
" Tapi kenapa pak _ kondisi Armela begitu memprihatinkan _ apa kita akan diam saja ? " tanya mba Ida.
" Benar pak dan lagi pula Armela sudah lumayan lama bekerja di tempat ini "
tambah pak Mugiono.
" Saya tahu, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa _ tuan Alan termasuk orang yang berpengaruh disini dan juga kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi !"
" Kalau kita melaporkan hal ini ke polisi maka media akan mengekspos berita ini ke publik dan akan berdampak buruk terhadap perkembangan tempat ini kedepannya "
" Mana ada orang yang mau beli dan tinggal di tempat seperti ini bila sistem keamanan dan kenyamanan tempat ini cacat, apa kalian mau kehilangan pekerjaan kalua tempat ini ditutup ?!" tanya pak Jono pada bawahannya.
" Tapi kasian Armela pak kalau kita menutup mata terhadap Masalah ini ?" kata mba Ida.
" Kita tidak menutup mata mba Ida, kita tetap akan menyelesaikan masalah ini tapi mungkin secara kekeluargaan "
" Lagi pula ini bukan urusan kita_ itu urusan pak Alan dan Armela, kita saja tidak tahu apa benar dia diperkosa atau jangan jangan dia sendiri yang sengaja menggoda pak Alan _ " sanggah pak Jono.
" Tapi setahu saya Armela bukan gadis seperti itu pak_ dan juga Armela tidak mengenal tuan Alan ?" sanggah mba Ida yang masih berupaya membela Armela secara Armela merupakan salah satu teman baiknya.
" Mba Ida, mba Ida apa mba Ida yakin kalau Armela tidak punya niat untuk hidup enak ? secara sekarang ini banyak orang melakukan trik licik untuk bisa cepat kaya "
" Tapi _ " zssss
Mereka hanya bisa menghela nafas pasrah dan terpaksa membiarkan Armela mengahadapi masalah ini sendirian,
" Pokoknya nggak usah di bahas lagi, tugas kalian itu cuma bekerja disini dengan baik " perintah pak Jono.
" Baik pak _" jawab mereka semua.
" Bagus kalau Kalian semua mengerti _ sekarang kembalilah bekerja seperti biasa, mengerti ! "
" Mengerti pak ! " jawab mereka " permisi pak "
" Ya ... "
Lalu mereka semua keluar dari dalam ruang kerja pak Jono dengan perasaan kecewa terutama mba Ida yang menyaksikan langsung kejadian itu membuat perasaannya sebagai seorang wanita begitu miris,
Saat keadilan di pertanyaan bagi orang miskin dan rendahan seperti mereka tidak ada satupun tangan yang terbuka untuk membantu semuanya menutup mata, dengan berdalih kalau akan di selesaikan secara kekeluargaan.
Apakah mereka pikir uang bisa menutup semuanya, sementara beban mental dan sosial yang harus korban tanggung seumur hidupnya.
* semoga akan ada keadilan untukmu kelak Armela *