Om Raz menelungkupkan tubuhnya yang penuh peluh di atas tubuhku, napas kami berpacu dalam kenikmatan, kurasakan perutnya yang gendut menekan perutku hingga aku agak kesulitan bernapas, ku dorong Om Raz hingga telentang di sampingku. Kami berdua hanya terdiam sambil menikmati sisa kenikmatan yang baru saja kami alami.
Sambil memejamkan mata, aku merenungkan kejadian yang baru saja terjadi, aku baru saja selesai bercinta dengan tamu pertama dalam profesiku, kini aku sudah resmi menjadi seorang p*****r, kini aku harus siap melayani setiap orang yang mampu membayar pelayananku tanpa ada hak memilih, kini aku harus bisa memuaskan tamuku dengan cara apapun, kini aku harus bisa memuaskan diriku sendiri disamping tugas utamaku memuaskan tamuku, kini aku harus berusaha membuat tamuku kembali, kini aku harus siap menanggung segala resiko yang timbul akibat pekerjaanku ini, kini aku harus bisa bercinta tanpa mempertimbangkan rasa cinta atau rasa suka, dan banyak lagi keharusan lain yang harus aku siapkan.
"Gila Din, seperti bercinta dengan perawan, kencang banget" komentar Om Raz memecahkan kebisuan diantara kami.
"Habis punya Om Raz gede banget, seperti saat perawan dulu, mungkin lecet kali ini punyaku" kataku sambil tetap memejamkan mata.
"Perih tahu" Sambungku kembali
"Perih kok mendesah" Kata Om Raz sambil tertawa
"Meskipun aku bayar mahal, tapi aku ngga rugi aku bersamamu, nikmatnya luar biasa" sambung Om Raz kembali.
Sebenarnya aku mau mengaku bahwa aku sangat menikmati percintaan barusan setelah dua tahun tidak bercinta, tapi aku cukup malu untuk mengatakannya kepada Om Raz.
Tak lama kemudian telepon berbunyi, aku yang masih belum menggunakan pakaian segera bangun dari ranjang dan berjalan ke arah sofa dimana tadi aku menaruh tas yang berisi Hp ku. Terlihat nama Om Pras terlihat jelas dalam layar hp ku.
[Ya] kataku setelah memencet hpku dan mendekatkan ke telingaku
[Sudah apa belum? Aku sudah menunggu di bawah] kata Om Pras dari seberang telefon
[Sudah] Jawabku santai
[Tanyakan sama tamunya, mau dilanjut atau sudah] kata Om Pras
[Sebentar] kataku
kuberikan telepon itu ke Om Raz, entah apa yang mereka bicarakan aku tak tahu lagi karena aku langsung meninggalkan Om Raz yang masih berbicara didalam telefon ke kamar mandi untuk mencuci tubuh dan Apem ku dari semprotan Om Raz dan juga dari keringat Om Raz, ada rasa jijik melihat sisa sisa cairan dari dalam tubuh Om Raz yang tadi disemprotkan nya kedalam tubuh ku, begitu juga dengan aroma keringatnya yang seakan akan terbayang kembali dalam ingatanku, tapi aku tetap berusaha membawa diri dan aku tahan perasaan itu agar tidak menyinggung Om Raz.
“Din, aku ingin lebih lama tinggal tapi aku harus menjemput istriku di Juanda, terus terang aku sangat sangat sangat puas denganmu, mungkin besok aku kesini lagi” kata Om Raz ketika aku keluar dari kamar mandi
"Iya" jawabku sambil berjalan untuk mengambil pakaianku yang berserakan di sekitar ranjang.
Sebenarnya aku tak peduli dia mau kesini apa enggak, aku tidak berharap mendapat tamu yang seperti dia lagi. Meskipun aku dapat merasakan kenikmatan bersamanya, namun aku lebih berharap dapat tamu lain yang lebih enak dipandang daripada dia.
"Ini buatmu" kata Om Raz sambil memberikan beberapa lembar uang dolar kepadaku yang sedang mengenakan kembali pakaianku.
Aku hanya menatap Om Raz tanpa berani mengulurkan tangan menerima uang yang diberikannya. Om Raz Kemudian menarik tanganku dan meletakkan uang dolar tersebut di telapak tanganku.
"Besok aku kesini lagi ya" Kata Om Raz sambil menarik badanku dan kemudian mencium leherku sementara tangannya dengan nakal mampir ke belakang badanku.
"Iya Om" Kataku sambil mencoba tersenyum kepadanya.
Om Raz memberiku tip beberapa lembar uang ratusan dolar sebelum meninggalkan kamar, setelah Om Raz keluar dari kamar, aku membuka tanganku dan menghitung uang tip yang diberikan Om Raz. ku hitung ada lima lembar berarti ada 500 dollar dan mungkin jika aku rupiahkan sekitar tujuh jutaan rupiah. Aku tercenung di kamar sendirian sambil menggenggam dolar pemberian Om Raz, aku merasa begitu mudah mendapatkan uang dalam bisnis ini, belum lagi yang aku terima nanti dari Om Pras, aku mulai membayangkan manisnya profesi ini, disamping materi aku bisa mendapatkan kepuasan dalam berhubungan badan.
Meskipun dalam hati kecil aku masih belum sepenuhnya menerima pekerjaan ini, namun karena memang karena beberapa masalah yang sedang aku hadari sehingga mau tidak mau aku harus mulai bisa menerima pekerjaan ini, apalagi ketika aku melihat uang dolar yang ada dalam genggaman tanganku, aku merasa bahwa ini akan mudah aku lakukan dan aku akan berusaha terus menikmati nya sampai nanti akhirnya aku mempunyai cukup uang untukku pulang kampung dan memulai usahaku sendiri.
“Sudah dapat nikmat masih dibayar lagi” kata dalam hati sambil tersenyum. Aku memang sengaja memikirkan enaknya saja karena memang aku tidak mau terus merasa sedih dan hancur dalam menghadapi semua permasalahan yang sedang aku hadapi. Aku bukan sengaja masuk dalam dunia seperti ini, ini semua terjadi karena kebodohanku yang mencintai orang yang salah.
Dalam kesendirian ku di dalam kamar mewah itu, aku kembali teringat dengan apa yang sudah terjadi kepadaku hingga akhirnya aku harus terjerumus dalam dunia seperti ini. Aku dilahirkan dari sebuah keluarga Chinese di kota Surabaya. Papaku adalah keturunan Chinese sementara mamaku berdarah campuran Jawa dan Chinese. Ketika aku sekolah di bangku SMA, aku jatuh cinta dengan seorang laki laki yang bernama Iwan. Dia juga keturunan yang tinggal di kota ini. Meskipun dia keturunan Chinese juga seperti aku, namun agama dia berbeda dengan agamaku sehingga ketika aku berpacaran dengan Iwan keluargaku menolaknya dengan tegas. Saat itu karena cintaku yang teramat besar kepada Iwan akhirnya aku memutuskan untuk lari dari rumah dan memilih ikut dengan Iwan ke kota ini.
Tepat saat ulang tahunku ke 18 aku meninggalkan rumahku dan kedua orang tuaku untuk pergi bersama Iwan, saat itu Iwan dapat meyakinkanku bahwa kami akan selalu bahagia jika tetap bersama. Awalnya aku ragu, namun ketika aku pertama datang ke kota ini dan sambutan dari keluarga Iwan tenyata sangat baik, aku menjadi semakin mantap untuk hidup bersama Iwan. Aku sangat bahagia ketika keluarga Iwan memintaku untuk menikah dengan Iwan, saat itu tanpa ragu aku menerima nya dan bahkan meskipun agama kita berbeda, aku dengan suka rela mengikuti agama yang Iwan anut.
Pesta Pernikahan yang sederhana di langsungkan di keluarga Iwan untuk menyambut ku masuk secara resmi ke keluarga Iwan sebagai istri Iwan. Kebahagiaan pernikahan ku dengan Iwan ternyata tidak berlangsung lama karena akhirnya kebiasaan buruk Iwan yang suka berjudi dan main perempuan akhirnya tercium juga olehku, suatu hari dengan mata kepalaku sendiri aku memergoki Iwan sedang bersetubuh dengan selingkuhannya di dalam rumahku dan yang bikin aku lebih sakit itu dilakukannya di dalam kamarku. Meskipun sebelumya aku pernah mendengar Iwan berselingkuh, dan pernah juga memergoki Iwan tidur dengan wanita lain di dalam hotel, namun kemarahan ku saat itu tidak sebesar Saat aku memergoki Iwan bersetubuh dengan wanita lain di dalam kamarku sendiri.
Saat itu terjadi keributan besar dalam rumah tanggaku, keributan terbesar dan terakhir ku dengan Iwan mantan suamiku. Setelah terjadi keributan aku memutuskan untuk bercerai dengan Iwan dan memilih untuk bekerja di kota ini sebagai seorang staf pada salah satu perusahaan garmen. Aku berpikir dengan aku pergi dari rumah dan berpisah dengan Iwan kehidupanku akan menjadi lebih baik, namun ternyata aku salah besar, aku yang sudah tidak mungkin kembali lagi ke rumah orang tuaku, masih saja selalu di teror oleh Iwan yang selalu meminta uang kepadaku dan selalu mengancam ku jika tidak aku berikan. Saat aku meninggalkan rumah orang tuaku sebenernya aku membawa uang yang cukup banyak karena saat itu aku menjual beberapa aset papa dan mama untuk aku pakai buat modal hidup bersama Iwan.
Sekitar 18 bulan aku hidup sendiri dengan bekerja sebagai staf di perusahaan garmen sampai akhirnya Iwan kembali datang dan minta uang kepadaku sambil kembali mengancam ku.