Rahasia Suamiku
Bab 5
______
Pagi ini Mas Hakam sudah terlihat rapi dengan pakaian khas kantor yang biasa ia kenakan.
"Wi, aku berangkat ke kantor dulu ya," Mas Hakam berpamitan padaku. Tak lupa ia mencium keningku. Seperti biasanya, ia selalu melakukan hal ini sebelum berangkat bekerja.
"Iya, Mas. Hati-hati." balasku dengan tersenyum manis. Tapi tidak dengan hatiku.
Mas Hakam melambaikan tangannya. Setelahnya punggung lelaki itu sudah tak terlihat di balik pintu kamarku.
Cepat aku berlari ke kamar mandi. Mencuci keningku yang barusan dicium Mas Hakam. Aku jijik dengannya. Bekas mulut pendusta itu menempel di kening ini. Argh! Jelas saja kemarin juga bekas wanita jal*ng bernama Intan itu.
Berulang kali aku membasuhnya dengan sabun muka. Setelah kurasa bersih, ah mungkin belum. Tapi setidaknya bekas mulut kotor itu luntur bersama kucuran air dari kran wastafel.
Kupandangi diri ini di cermin. Lalu berkutat dengan alat-alat Make Upku. Hari ini riasan di wajahku sedikit mencolok. Baju dress berwarna hitam pekat kupilih untuk menyempurnakan apa yang ada pada diriku. Memberi pewarna bibir merah mencolok. Mencerminkan keberanian. Selesai. Kini aku sudah tampil cantik. Jika biasanya aku hanya mempoles wajahku dengan riasan natural. Beda dengan hari ini.
Kugapai ponselku yang berada di atas nakas. Bergulir melihat aplikasi pelacak jejak.
Ternyata Mas Hakam berbohong lagi padaku. Ia bilang akan pergi ke kantor. Namun aplikasi ini menunjukan. Bahwa ia pergi ke rumah Intan. Hebat kamu Mas!
Tak mau hal yang buruk semakin terjadi. Cepat aku pergi ke Bank terlebih dulu. Untuk memblokir semua kartu debit milik Mas Hakam.
Semua surat yang semalam sudah aku bereskan. Kuambil dan lantas membawanya.
Biar saja dulu Mas Hakam bersenang-senang dengan gundiknya. Dia pikir aku bodoh apa? Memang selama ini aku tak pernah ikut mengurusi kantor. Karena aku sibuk berkutat di rumah. Melayani Mas Hakam sepenuh hati, Sejak Bu Karti berhenti bekerja dari sini. Aku hanya memanggil ART dan itu pun bekerja hanya siang hingga sore saja. Kerjanya cuma beres-beres rumah. Masalah memasak, aku sering memasak sendiri untuk lelaki benalu itu. Tapi apa? Mata Mas Hakam sudah dibutakan oleh tipu muslihat dunia. Biar saja sekarang ia menikmati semuanya. Tapi sebentar lagi, Dia berlutut pun aku enggan memaafkan.
Mobil mercedes benz keluaran terbaru kupacu membelah jalanan kota yang mulai ramai kendaraan.
Masih kupantau keberadaan Mas Hakam di mana. Dia masih berada di rumah ular berwujud manusia itu. Di mana lagi kalau bukan rumahnya Bu Karti dan Intan.
Letak Bank tak jauh dari tempat tinggalku. Hanya lima belas menit aku sudah sampai di sini.
Mumpung belum ada antrian karena masih pagi. Cepat kuberikan semua persyaratan agar kartu milik Mas Hakam segera diblokir. Mana rela aku, enak saja mereka memakai harta orang tuaku untuk bersenang-senang.
Tak lama menunggu. Semua urusan menyangkut kartu yang dibawa lelaki itu sudah selesai.
Aku pergi dari gedung Bank ini. Langkah selanjutnya, aku ingin membalik semua aset keluargaku juga surat pindah kuasa kepemimpinan kantor.
Langkahku terhenti saat aku hendak memasuki pintu mobil. GPS di layar pintarku menunjukan, Jika mobil Mas Hakam tengah melaju ke arah pusat perbelanjaan.
Ini kebetulan atau sebuah takdir?
Baru saja kartu debit selesai aku blokir. Ia pergi ke mall. Wah, Wah, ingin sekali aku melihat wajah Mas Hakam. Malu semalu-malunya karena tidak bisa membayar barang belanjaan. Aku sangat hafal bagaimana Mas Hakam. Ia jarang sekali membawa uang tunai. Jikalaupun membawa, pasti hanya beberapa ratus ribu saja.
Kupakai masker berwarna hitam. Juga dengan kaca mata berwarna senada. Kini penampilanku tidak ada yang mengenali lagi. Aku berkaca pada sepion. Menyeringai yang akan terjadi. Aku lebih mirip detektif sekarang. Siap untuk mengungkap kebusukan lelaki yang selama ini kupelihara di rumah.
Tunggu Mas, aku akan menyusulmu. Aku sangat ingin melihatmu malu di tempat umum.
Kupercepat laju mobilku. Geram sekali rasanya, bila ingat kebohongan demi kebohongan yang Mas Hakam lakukan padaku. Ia bilang ke kantor, tapi apa? dia malah pergi ke tempat yang tak seharusnya.
*
Tibalah aku di parkiran mall. Kuedarkan padangan mataku. Tepat. Mobil Mas Hakam tengah terparkir di sini.
Sekarang giliran mencari sang empunya. Gegas aku melenggang masuk ke dalam mall.
Tak butuh waktu lama. Sosok Mas Hakam sudah terlihat di sana. Di deretan toko tas branded. Tunggu, kupincingkan mata, ternyata ia tak datang sendiri ke sini. Intan, Albert dan Bu Karti ikut juga rupanya.
Masih kupantau dari kejauhan. Asik sekali mereka memilah-milah tas mahal itu. Kira-kira, bisa bayar tidak ya, hahaha. Aku tertawa jahat menyaksikan mereka sangat antusias dengan barang belanjaan yang beberapa sudah berada di genggaman Bu Karti dan Intan.
Aku pun pura-pura membeli tas juga. Namun posisiku di deretan rak yang agak jauh dari mereka.
Pilihlah tas sesuka kalian. Tunggu semuanya di meja kasir. Aku di balik masker ini. Akan mempermalukan kalian. Termasuk kamu Hakam! Ck!
Bersambung....