Jadi Gembel

905 Words
Rahasia Suamiku Bab 7 Brugh! Astaga ponselnya jatuh! Tubuhku berbenturan dengan seseorang. Hingga ponsel itu terjatuh. Dan segera kupungut. "Maaf, aku tidak sengaja." kataku sambil menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya. "Iya, Nggak pa-pa." sahutnya lalu menyambut ponselnya kembali. Sekilas kuingat-ingat lelaki yang barusan bertabrakan denganku. "Kamu Rehan 'kan?" tanyaku dibalik masker. "Iya, anda kok tahu nama saya," wajah penuh tanya tergambar di sana. Kubuka masker yang sedari tadi menutupi area hidungku. "Aku Dewi," kataku berbinar. Rehan ini teman lamaku. Kami berpisah karena aku harus kuliah di Inggris. Dan terakhir bertemu entah beberapa tahun silam. "Ini beneran Dewi?" tambahnya tak percaya. "Iya, Han. Maaf aku tidak bisa lama-lama di sini. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan." aku buru-buru meninggalkan Rehan yang masih berdiri di tempatnya. "Tunggu, Wi!" cekalan tangan menghentikan langkahku. "ada urusan apa? siapa tahu aku bisa membantu." jelas Rehan lagi. "Jika kamu mau bantu, ikut aku sekarang! Ikuti mobilku." tanpa basa-basi aku menyuruh Rehan untuk ikut dalam situasi ini. Ah, entahlah. Tiba-tiba saja hatiku tergerak untuk mengajak Rehan. Di sisi lain aku juga takut ketahuan Mas Hakam. Untuk itu aku harus buru-buru pergi dari sini. "Memangnya harus mengikutimu ke mana Wi?" "Ke kantor!" "Ya sudah, aku satu mobil saja denganmu." "Lalu mobilmu bagaimana?" "Itu urusan gampang. Nanti biar aku ambil setelah urusanmu selesai. Banyak yang harus kita bicarakan, Wi. Aku kangen sama kamu." Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi. Apa maksud Rehan? "Eh, Maaf salah kata." ucap Rehan sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Dia terlihat grogi. Ada-ada saja dia, oh mungkin kangen karena sudah lama tidak berjumpa denganku. Kontak via online pun tak pernah. Oke, kumaklumi itu. "Iya, nggak pa-pa kok. Ya udah, yuk berangkat!" aku mengajaknya menuju mobilku. Rehan menyetir mobilku. Sedangkan aku duduk di sampingnya. "Han, bisa lebih cepat nggak bawa mobilnya?!" titahku pada lelaki berjangkun ini. "Iya, Wi." dia menurut saja. Lalu menambah kecepatan mobil yang kami tumpangi. 'Astagfirullah, apa aku salah? Berada dalam mobil bersama lelaki lain. Kenapa semua mengalir begitu saja. Untuk apa aku mengajak Rehan terlibat dalam masalahku.' gumamku dalam hati. Sekilas kuingat pada Mas Hakam. Aku selalu menjaga diri dari laki-laki lain. Tapi dia ... aku tak mau menyebutnya. Itu hanya akan membuat luka hatiku kian menganga. Semoga hadirnya Han bisa membantu masalahku. Eh, kok jadi berharap. Maaf ya Rabb. Aku hanya berharap pada-Mu. "Kenapa melamun?" Aku tertegun mendengar ucapan Han. "Iya, Han." jawabku singkat. "Cerita lah, Wi. kalau ada masalah. Bukan kah kita sudah berteman lama ya," "Nanti kamu juga akan tahu sendiri, Han." aku menjawab sekenanku. Tak ada lagi pertanyaan dari Han. Mungkin dia paham dengan sikapku yang cenderung diam. * Sekarang aku sudah berada di kantor. Tepat di ruangan yang biasa di tempati Mas Hakam. Kucari semua dokumen penting tentang kantor ini. Mataku membola melihat sebuah brosur bergambar rumah. Ada beberapa bentuk rumah di brosur ini. Dan salah satunya mirip sekali dengan yang di tempati Intan dan Bu Karti. Aku yakin sekali. Rumah itu dibeli menggunakan uang kantor. Tanganku menyambar telepon yang tergelak di meja depanku. Kutekan nomor yang menghubungkan dengan staf keuangan di perusahaan ini. Tak lama orang yang kumaksud datang. "Ini, Bu. Laporan keuangannya." Meli memberiku berkas bermap biru tersebut. Wajahnya terlihat takut-takut. Aku mengangguk. Lalu mengibaskan tangan. Pertanda menyuruh Meli pergi. Semua data keuangan berada di berkas ini. Uang keluar masuk ada semua. Dan ini yang paling membuatku tercengang. Mas Hakam sudah beberapa kali mengambil uang perusahaan. Pasti ini buat beli rumah. Aku yakin itu. "Ada apa, Wi?" Han bersuara. Aku baru sadar di sini ada dia. "Maaf, Han. Aku telah mencuekkanmu." balasku tersenyum kecut. Ia terkekeh. "Tak apa. Lanjutkan saja. Aku siap membantu." tambahnya kemudian duduk di depanku. Kubuka brosur bergambar desain rumah tersebut. Aku jadi punya ide untuk menghubungi pihak yang bersangkutan dengan rumah yang di tempati Intan dan Bu Karti. Hanya ingin tahu lebih rinci. Berapa harga rumah yang sudah dibeli Mas Hakam. Kutekan beberapa digit nomor menggunakan telfon kantor. Akhirnya tersambung juga. "Hallo, PT Hunian Mewah Harga Pas. Siap membantu. Dengan siapa ini?" wanita di sebrang telfon menyambut dengan ramah. "Hallo, Mbak. Maaf saya mau tanya, Rumah atas nama Hakam Abdullah itu harganya berapa ya?" tanyaku to the point. "Oh, sebentar ya, Mbak. Saya chek dulu ...." Aku menunggu beberapa saat. "DP-nya dua ratus juta mbak, perbulannya dua puluh lima juta. Pak Hakam ngambil angsuran rumah ini dalam jangka waktu tiga tahun. Dan dia sudah membayar selama dua puluh bulan. Mbak ini siapanya Pak Hakam ya?" "Saya istrinya." jawabku singkat. Aku amat geram mendengar semuanya. Pintar juga Mas Hakam. Membeli rumah dengan cara kredit. Agar pengeluaran uang perusahaan tidak terlihat mencolok. Aduh Dewi, kamu sudah kecolongan separah ini. Jangan beri ampun pada lintah darat itu. "Jadi semua berapa Mbak kurangnya? Sisanya saya yang akan bayar. Nanti serahkan surat rumah itu pada saya. Bahkan saya akan membayarnya lebih mahal." cetusku. Dadaku bergemuruh hebat. Cukup Hakam! Aku sudah habis kesabaran. Ternyata kamu sangat licik. Rehan bertanya dengan mimik wajahnya. Aku belum menjawab. Masih mengendalikan gejolak emosi yang terasa mencekat. "Baik, Mbak. Sebentar saya hitung dulu." Sambil menunggu pihak penjual rumah itu. Kutekuri ponsel pintarku untuk mengirim pesan singkat pada ART-ku di rumah. Kebetulan tadi pagi dia sudah datang. [Ci, tolong kemasi semua baju-baju Mas Hakam. Masukan ke dalam koper. Jangan sampai ada yang tersisa satu pun. Nanti setelah selesai, taro di teras depan.] kirim. Aku tinggal menunggu balasan pesan dari Cici--ARTku. Terimalah semua yang kau tanam Mas. Jadi gembel kamu sekarang. Bersambung.... Follow, love dan komen ya, kak. Terimakasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD