Rain menatap layar ponselnya sesaat. Lalu mendesah, panjang dan berat. Liora maju satu langkah. “Rain? Kenapa? Ada apa?” Rain memandang cewek itu. Sorot matanya berubah. Dari santai jadi … siaga. “Kalau Papa udah ngomong kayak gitu …” Rain meraih dompet dan kunci mobil. “…pasti ada masalah besar.” “Masalah apa?” Rain diam sebentar. “Entah masalah di RS … atau masalah keluarga.” “Dan dua-duanya bisa bikin hidup aku jungkir balik.” Sorot matanya menggelap, tapi pikirannya sudah mulai penuh kemungkinan-kemungkinan. “Rain …” suara Liora pelan. Cowok itu menoleh. Liora menggigit bibirnya sebentar sebelum bicara. “Kalau gitu kamu harus ke RS sekarang.” Rain mendesah. “Iya. Tapi aku antar kamu dulu ke kampus.” Liora langsung menggeleng cepat. “Enggak.” Rain mengernyit. “Aku bisa na

