Small Help

1113 Words
“Namanya juga usaha, Om. Kadang sepi, kadang rame,” kata Neo sambil menghembuskan asap rokok ke udara. “Om liat-liat bengkelnya rame terus. Kapan sepinya?” “Sekarang,” jawab Neo santai. Mereka duduk berdampingan di kursi panjang depan apartemen. Tadinya Neo berniat ke supermarket, tapi Om Wan keburu nyegat dan minta ditemani nyebat sebentar. “Ya jelas sepi, bengkel udah tutup. Kamu pikir Om bodoh?” gerutu Om Wan. Neo malah terkekeh kecil, tak ada takutnya dengan pria botak berbadan gembul di sebelahnya. Tatapan Om Wan bergeser ke depan. “Bukannya itu penghuni baru?” Neo mengikuti arah pandangnya. Felicia baru keluar dari apotek depan apartemen, menenteng kantong plastik kecil. “Iya,” jawab Neo singkat. “Janda ya? Anak dua.” “Tanya aja langsung, Om. Mumpung orangnya lagi lewat,” balas Neo tanpa minat. Om Wan mendecak. “Kamu ini gimana sih. Dia kan tinggal sebelahan sama kamu.” “Baru pindah kemarin. Masa iya saya langsung nanya status. Lagian emang kenapa kalo dia janda?” “Ya nggak kenapa-kenapa,” Om Wan menyeringai. “Cuma sayang aja. Cantik, body bagus.” Neo menghela napas pendek. “Jaman sekarang fisik bukan patokan. Udah jauh aja pembahasannya.” “Ah, kamu ini nggak bisa diajak gosip,” Om Wan berdiri, lalu pergi begitu saja. Neo mematikan rokoknya, bangkit, dan akhirnya berjalan ke supermarket. Ia membeli kopi kaleng, soda, dan beberapa snack ukuran besar sebelum kembali ke apartemen. “Shift malem, Bec?” tanya Neo saat berpapasan di tangga. Becky mengangguk. “Gantiin senior,” katanya singkat sambil menepuk bahu Neo. Tak lama kemudian Neo sampai di lantai empat. Lorong tampak sepi. Ia sempat melirik pintu apartemen sebelah, sedikit kepikiran kenapa Felicia ke apotek sore-sore, namun akhirnya ia masuk ke apartemennya sendiri. “Lu tuh harusnya teken kiri atas, bukan kanan atas, bloon.” Neo tersenyum kecil begitu pintu ditutup. Suasana itu sudah terlalu familiar. “Jangan keras-keras ngobrolnya. Sebelah ada balita,” ujar Neo sambil menaruh belanjaan di meja. “Aman, Bang. William udah wanti-wanti,” jawab Hagan. “Motornya William gimana?” tanya Noah tanpa mengalihkan pandangan dari layar PS. “Belum sempet gua sentuh. Bengkel rame tadi. Kenapa?” “Mau sunmori,” sahut Rohan santai. “Bonceng aja dulu. Kan bisa berempat.” “Gua udah sama pacar,” kata Hagan. “Nggak bisa boncengin William.” Neo mendengus. “Gaya amat. Jajan kantin aja masih minta duit nyokap.” “Iri bilang, Bang,” balas Hagan. "Tau, rangking lu noh dua dari belakang." Noah ikut-ikutan. "Lu nggak berhak komen, No." "Kenapa?" "Lu kan yang nomor satu." kata Hagan, "Dikomen sama yang lebih bloon tuh hina banget rasanya." *** “Gua pergi dulu,” kata Neo sambil meraih jaket kulit hitamnya di kursi. “Jangan aneh-aneh.” “Aman,” sahut Hagan. “Emangnya kita bocah?” protes William. “Orang gede mana yang berantem masuk BK?” Neo menyambar cepat. "Orang gede kalo berantem masuk lapas." sambungnya membuat Hagan, Rohan, dan Noah terbahak. William mendengus. Neo tersenyum tipis, lalu menepuk kepala adiknya sekali sebelum keluar. Membuat bocah SMA itu kembali kesal hingga mengumpat. “Eh, hei!” Neo baru melangkah beberapa langkah dari apartnya ketika suara itu memanggil. “Oh, hai,” sapa Neo. “Kenapa?” Felicia berdiri di depan apartemennya. “Boleh minta tolong bantu pindahin ranjang?” Neo mengangguk tanpa banyak tanya. Ia kemudian diajak masuk ke dalam. Apartemen Felicia dipenuhi kardus. Beberapa belum tertutup rapi. “Maaf, belum sempat dirapihin,” kata Felicia. “Gak apa-apa. Ranjangnya di mana?” Felicia menunjuk satu kamar. “Itu. Bisa didorong mepet tembok? Biar nanti lemari muat.” Neo melepas jaketnya, menaruh di meja rias. Ia berjongkok dan mendorong ranjang queen itu. Berat. Felicia refleks ikut membantu. Akhirnya ranjang bergeser pas ke dinding. "Ranjangnya kurang gede." kata Neo tersenyum kecil sembari ngos-ngosan. Feli tertawa kecil, "Kalo ranjangnya kecil, takutnya Lily jatuh. Dia nggak bisa diem pas tidur." Neo terkekeh, "Semua balita kalo tidur emang gitu ya?" Feli mengangguk, "Kayaknya gitu. Itu kenapa momen paling berat buat Ibu adalah ngurusin toddler." jelasnya. "Ngomong-ngomong, udah pada tidur?" "Lily udah pules, Nata di kamar. Pintunya dikunci, jadi nggak tau dia udah tidur atau belum." balasnya. Neo menaikkan satu alisnya, "Kenapa?" "Ngambek. Dia nggak setuju kita pindah ke sini." jelasnya. Neo ber-oh singkat, tak mau bertanya lebih jauh. "Mau dibikinin kopi?" Neo menggeleng kecil, "Nggak usah. Masih ada yang perlu dibantu?" Feli menatap sekeliling, "Nope. Ini aja, makasih ya. Maaf ngrepotin." "No problem. Panggil aja kalau butuh bantuan lagi." Feli mengangguk. Tak lama kemudian, Neo keluar dari apart Feli. Dan tak sampai satu jam, cowok itu sudah memegang cue stick. Bola putih meluncur pelan, menghantam bola merah tepat ke sudut meja. “Nice,” gumam Neo. "Yo, gua sama Liam mau blind date lusa. Mau join?" Leo, cowok dengan tindik di telinga menawari Neo. Neo menggeleng, "Sibuk." katanya. "Sibuk apa lu? Tiap hari cuma ngebengkel, pulang." Liam, cowok blonde yang menjadi rival mainnya bersuara. Neo hanya berdecak kecil, "Lu berdua bukannya kerja malah nyari pacar. Dipikir pacaran modal cinta doang." katanya. "Ngapain kerja kalo bisa minta duit bokap. Ya nggak, Le?" Leo mengangguk, setuju dengan ucapan Liam. Neo menggelengkan kepalanya. Liam adalah anak pemilik resto dan Leo anak pengusaha parfum. Duit tanpa dicari sudah mengalir dengan sendirinya. *** Pukul setengah enam pagi. Neo tengah merokok di balkon tepat saat pintu apartnya diketuk. "Oh hai. Perlu bantuan lagi?" Felicia, perempuan yang sudah rapi dengan vest tanpa lengan berwarna hitam dan celana trouser coffe berdiri di depan apart Neo. Ia menggeleng, "Ada lauk lebih, bisa buat sarapan ya." "Oh, thanks. Mau nunggu diganti dulu wadahnya?" Feli menggeleng, "Pakai aja dulu." Tak lama kemudian Feli pamit kembali ke apartnya. Neo menghela napas kala melihat sebuah amplop terselip di antara box makanan. Ada beberapa lembar uang di dalam amplop itu. Pasti untuk biaya servis motor yang kemarin. "Kesambet apaan jam segini udah deliv makan?" William dengan handuk yang melingkar diperutnya keluar dari kamar mandi. Ia mendekati meja makan yang sudah ada berbagai jenis lauk. "Dikasih sebelah." kata Neo. "Semoga tiap hari dikasih makan." celetuk William. "Nggak tau malu jadi orang." "Lah ngapain malu. Kuli bangunan noh yang malu." balas William masuk ke dalam kamar tepat saat Neo akan melemparkan remote tv padanya. *** "Gua liat si William lari. Nggak lu anter?" Neo menggeleng, "Dia yang ngide berangkat jogging. Biarin aja." katanya. Dylan tertawa, "Unik adek lu, bos." Di sisi lain, Nata sedang duduk di mobil sembari menatap keluar. Pandangannya tertuju pada seorang cowok yang tengah berlari kecil mengenakan seragam olahraga. Ia menyipitkan matanya, memastikan bahwa tebakannya salah. "Orang gila." lirih Nata saat menyadari bahwa cowok yang mengikat dasi di keningnya itu adalah William.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD