Jantung Azura yang berpacu cepat mendadak seperti kehilangan debarnya, tiba-tiba di ujung pelepasan tuan Aditya beliau justru memanggil nama wanita lain. Padahal yang ada di kungkungannya kini adalah Azura.
Sedih memang tapi tidak membuat Azura sampai menjatuhkan air matanya, hanya ada sedikit perasaan kecewa di dalam hati.
Tubuh mereka masih menjadi satu, namun ternyata yang tuan Aditya bayangkan adalah Siena.
Azura mendadak terkulai lemas, hilang semua kebahagiaan yang sempat dia rasakan. Terbang tinggi lalu seketika itu juga dijatuhkan dengan begitu keras.
'Siena? mungkinkah nama itu adalah nama istri tuan Aditya?' batin Azura, dia perlahan bergerak untuk melepaskan diri dari penyatuan ini. Mulai merasa risih dengan semua yang terjadi.
Sementara Aditya sedikitpun tidak merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan, Aditya sadar, sangat sadar ketika menyebut nama Siena di akhir penyatuan. Karena memang begitulah adanya, sejak tadi Aditya memejamkan mata dan menganggap Azura adalah istri pertamanya.
Lingerie merah maron yang digunakan oleh Azura membuat fantasinya tentang sang istri pertama mampu dia dapatkan.
Malam ini juga terasa berbeda bagi Aditya, lebih nikmat daripada malam-malam sebelumnya.
"Jangan memunggungiku," ucap Aditya ketika dia merasakan pergerakan yang dilakukan oleh Azura.
"Maaf Tuan, bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan?" tanya Azura.
"Kenapa selalu meminta maaf sebelum mulai bicara? Aku tidak suka mendengarnya."
Azura terdiam sesaat.
"Cepat katakan, Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?"
"Apa Siena adalah nama istri pertama anda?"
"Jaga ucapanmu, Siena bukanlah seseorang yang bisa kamu panggil dengan sebutan nama seperti itu. Panggil dia dengan sebutan Nyonya," tegas Aditya. Mereka saling bicara tanpa menatap satu sama lain, Aditya bahkan sudah memejamkan matanya.
Sedangkan Azura menatap langit-langit kamar ini dengan tatapan kosong, Padahal di dalam kepalanya banyak sekali pertanyaan yang berterbangan. Coba mencari jawabannya satu persatu tapi sulit untuk ditemukan.
Sebenarnya Tuan Aditya ingin pernikahan mereka yang seperti apa?
Haruskah Azura menyiapkan sarapan ketika pagi? Makan malam ketika tuan Aditya datang ke rumah ini?
"Dan harus kamu ingat, Azura. Bagiku hanya Sienalah istriku satu-satunya," ucap Aditya lebih jelas, "Pernikahan kita hanya sementara dan aku sudah mengingatkanmu untuk tidak menggunakan perasaan."
Hening sesaat, sampai suara kecil Azura terdengar menjawab ucapan tersebut. "Iya, Tuan."
"Masih ada yang ingin kamu tanyakan?"
"Tidak."
"Bagus ... aku lelah sekali."
Tak berselang lama kemudian Azura samar-samar mendengar deru nafas tuan Aditya yang teratur, sebuah pertanda bahwa pria itu sudah tertidur pulas.
Namun Azura masih juga belum mampu memejamkan mata. Tuan Aditya selalu bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri, jika bisa Azura rasanya juga ingin seperti itu juga.
Untuk tuan Aditya hidupnya masih berjalan seperti biasa, pernikahan ini sedikitpun tidak mengganggunya. Azura juga ingin seperti itu.
Tidak ingin hidupnya terganggu dengan pernikahan ini. Azura juga ingin memiliki kehidupannya sendiri. Kehidupan yang penuh dengan semangat, bukan hanya kehidupan yang penuh rasa putus asa ketika bersama dengan tuan Aditya.
Memikirkan itu semua akhirnya Azura seperti menemukan tujuan baru di dalam hidupnya. Setelah pernikahan ini berakhir jangan sampai hidupnya juga ikut hancur.
'Aku sudah mulai meminum obat pencegah kehamilan, jika aku tidak hamil lalu bagaimana aku bisa mendapatkan rumah ini?' batin Azura.
Kemudian berpikir untuk mulai mencari pekerjaan dan mengumpulkan uang.
'Tuan Aditya hanya datang ke rumah ini saat malam hari, jadi ketika siang aku masih bisa bekerja,' batinnya lagi.
Saking yakinnya dengan pemikiran tersebut Azura sampai menganggukkan kepalanya sendiri. Malam ini adalah malam terakhir dia merasa nelangsa dengan nasibnya, besok pagi ketika matahari terbit Azura harus menganggap bahwa hidupnya baru saja dimulai.
*
*
"Azura! Azura!!" panggil Aditya dengan suara yang terdengar menggelegar. Rumah ini terlalu kecil untuk bisa mengimbangi suara besar Aditya tersebut.
Azura yang sedang menyiapkan sarapan langsung berlari menghampiri sumber suara, tuan Aditya masih ada di dalam kamar. Padahal saat ini waktu sudah menunjukkan jam 07.00 lewat beberapa menit.
Biasanya di jam seperti ini tuan Aditya sudah pergi entah kemana.
"Iya Tuan, ada apa?"
"Kenapa tidak membangunkan aku? dasar bodoh, aku bisa terlambat Jika seperti ini!" makinya, seraya buru-buru mengenakan baju yang tergeletak di atas meja rias Azura.
Aditya masih mengancingkan celananya, belum menggunakan baju. Jadi Azura menurunkan pandangannya, tidak ingin menatap tubuh polos tersebut.
"Maaf Tuan, anda tidak memberi perintah apa-apa. Jadi saya tidak tahu harus bagaimana."
"Apa kamu tidak memiliki otak untuk berpikir? sampai semua hal kecil harus aku jelaskan padamu!"
Azura terdiam, mau menjawab lagi pasti hasilnya akan tetap salah. Semua kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak pernah benar.
"Dan apa ini? kamu masih menggunakan baju lusuh itu!" gertak Aditya.
Padahal bukan tanpa sebab kenapa Azura masih menggunakan bajunya yang lama, karena dia pikir pagi ini tuan Aditya akan langsung pergi dari rumah. Jadi dia tidak perlu menggunakan baju-baju yang dibelikan oleh tuan Aditya.
Tapi pemikiran Aditya tidak seperti itu, meskipun keberadaannya di rumah ini hanya 5 menit tapi Azura harus menggunakan baju yang dia beli.
Saking geramnya Aditya melihat penampilan Azura yang kampungan, Aditya langsung menuju lemari pakaian Azura dan mengkeluarkan semua isinya dengan kasar.
Sebuah tindakan yang membuat Azura sangat terkejut, sebab di tempat itu dia menyembunyikan obat pencegah kehamilan.
"Tidak Tuan! jangan dibuang!" mohon Azura dengan suara yang tinggi pula, Azura bahkan menjadikan tubuhnya sebagai tameng di depan lemari pakaian tersebut.
Seolah tengah melindungi sesuatu yang sangat berharga di dalam hidupnya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya salah," rintih Azura. "Jika masih ada Anda di rumah ini saya tidak akan menggunakan baju-baju yang lama," mohon Azura, kedua matanya mulai nampak merah. Namun sekuat tenaga menahan diri agar tidak menangis.
Semalam Azura pikir hari ini adalah awal mula hidupnya yang baru, Tapi tetap saja selalu diawali dengan luka.
Dan Aditya yang sudah kepalang marah, pilih untuk langsung pergi tanpa menanggapi apapun lagi. Terlebih dia sudah kehabisan waktu, janji pertemuannya dengan klien adalah jam 08.00. Tapi jam 07.30 dia baru meninggalkan rumah ini.
"Sial!" maki Aditya. Tanpa sadar dia kembali membanting pintu rumah saat keluar.
BRAK!!
Namun apa pedulinya, Aditya segera masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.
Sementara Azura akhirnya menjatuhkan air mata. Lalu perlahan merasa lega ketika obat pencegah kehamilannya masih aman tersembunyi di dalam lemari, belum sempat terlempar oleh sang suami.
Dengan menghapus air matanya tersebut Azura mulai merapikan beberapa baju yang berserak di lantai. Setelahnya memeriksa pintu utama yang akhirnya sudah tidak bisa ditutup rapat lagi.
"Astagfirullah," ucap Azura lalu menghela nafas berat. "Mana bisa aku membenarkannya sendiri, Siapa yang harus aku mintai tolong?"