Mobil berhenti di sebuah rumah kontrakan sederhana. Vian menurunkan kaca mobilnya melihat keadaan di sekitar kontrakan. Jarak satu rumah dengan kontrakan itu cukup renggang membuat Vian merasakan ketidak amanan di lingkungan ini. “Kamu sering pulang malam?” tanya Vian. “Kenapa?” Melisa masih menjaga jarak dari Vian, takut jika mantan bosnya itu melakukan hal-hal aneh. “Apa tidak takut?” Vian menatap Melisa kemudian menaikkan kaca jendela mobil. Lalu lalang kendaraan tidak terlalu ramai karena rumah Melisa berada di g**g, terlebih ada beberapa pemukiman kumuh tidak jauh dari sana. “Sudah terbiasa.” Melisa menyampirkan tasnya. “Terima kasih telah mengantar saya.” Melisa membuka pintu mobil namun Vian mencegahnya. Pandangan mereka kembali bertemu membuat Melisa salah tingkah. “Apa bole

