Langit di luar jendela gedung mulai meremang, warna oranye merayap turun perlahan. Dengan semburat warna lain yang memperindah hamparan langit di sore hari. Pertemuan dengan Mr. Donovan sudah berakhir satu jam lalu, tetapi kepala Arya sama sekali tidak tenang. Ia berdiri di depan kaca besar, tangan di saku celana, garis rahangnya mengeras. Jasnya sudah dilepas dan digantung di kursi, sisa ketegangan masih menempel di bahunya. Pandangan matanya yang terus menatap keluar seakan menggambarkan betapa kalut pikirannya saat ini. Rendra berdiri tidak jauh darinya, membawa tablet berisi laporan. Dirinya yang masih mengecek data dan jadwal untuk keesokan harinya, membuat suasana hening—hening yang menekan. “Rendra.” pangil Arya dengan suara beratnya. “Saya, Raden.” Arya memejamkan matanya,

