Pendopo Arga sore itu diselimuti cahaya matahari yang mulai turun, memantulkan warna keemasan di setiap ukiran jati yang melekat di tiang-tiang bangunan. Raden Arya melangkah masuk dengan langkah panjang, tegas, namun penuh beban yang tak terlihat. Sepatunya menapak keras di lantai marmer, memantul di ruang lengang yang hanya diisi desau angin. Begitu pintu utama dibuka, Mbok Ratri langsung muncul dari balik sekat kayu. Wajah tua yang penuh keriput itu seketika memudar tegang saat melihat siapa yang datang. “Raden… Raden Arya?” suaranya bergetar, antara tak percaya dan takut. “Nyuwun sewu, Raden rawuh mendadak…” Pak Cahyo yang baru keluar dari arah dapur ikut terlonjak kecil, lalu membungkuk hormat. “Sugeng rawuh, Den Arya…” Arya hanya mengangguk tipis, sorot matanya menyapu seluruh ru

