"Bukan karna masih baru, tapi emang Karna memori otakmu itu yang belum memenuhi standar!!!!" ucap Shivin dengan memasang kan ekspresi wajah datar, sambil mengangkat kedua bahu nya.
"yasudah, kau boleh keluar!!!!!" lanjut nya.
Sheila melangkah keluar, dia merasa tubuhnya sangat menggigil, perasaan nya sekarang campur aduk. Ingin sekali ia membanting legenda yang ada ditangannya itu ke wajah shivin, berani sekali dia menghina ku. Dia seenak nya mem bullying orang-orang, dia sangat tidak pantas seperti itu. sekalipun itu bawahan nya. seharusnya dia tidak bisa melakukan hal itu seenak jidatnya.
"Dasar sialan!!! wajahmu yang tampan itu tidak seperti mulutmu yang suka menghina orang sesukamu. Aku harus kuat, aku harus membuktikan kepada mama kalo aku bisa akur dan meluluhkan hati pria tampan bertopeng monster itu. agar dia bisa berubah menjadi bos yang baik untuk semua bawahannya. Aku harus melakukan itu, aku berjanji". terbersit dalam benak Sheila.
Sheila membuka kaca mata tebal nya itu lalu menarik nafas panjang dan membuangnya. perlahan-lahan Sheila melakukan nya sampai dia merasa sedikit lega.
***
siang itu, saat jam istirahat Sheila dan teman-teman nya di sebuah kafe yang berada dekat dengan kantor nya. Sheila makan sambil menyibukkan diri dengan obrolan teman-teman.
tiba-tiba Sheila tampak melamun sedari tadi....
"Sheila hallo!!! Sheila... Sheila!". panggil Bima sambil menepuk pundak Sheila.
"Eh ya ada apa??" tanya Sheila, lamunan Sheila seketika buyar.
"ponselmu berbunyi sedari tadi" ujar Bima menunjukkan kearah ponsel yang diletakkan Sheila dimeja. Sheila segera meraih ponselnya seketika melihat nama yang tertera di layarnya membuatnya terkejut.
"Ya hallo, pak!!" sapanya lirih.
"kau ini bagaimana, sudah satu jam lebih aku menunggu disini, kau menelpon Nana kan?? kau sudah mengonfirmasi kan padanya kan, kalo aku ingin bertemu dengannya".amarah Shivin menyeruak.
"sudah pak saya sudah menelpon nya kemarin". ujar Sheila
"kau menelpon siapa???" tanya Shivin.
"pada sekretarisnya pak, saya bilang..." belum selesai Sheila dengan ucapan nya.
"kenapa kau tidak langsung menelpon Nana?" potong Shivin.
"kemarin saya sudah menelpon Bu Nana tapi nomor nya tidak aktif pak!!! jadi saya menelepon ke kantor nya". kata Sheila menjelaskan.
"lalu???" tanya Shivin Lagi.
"ternyata Bu Nana juga tidak ada dikantornya. saya menitipkan pesan pada sekretarisnya". ujar Sheila.
"kenapa kau tidak menelponnya setelah satu jam, atau tadi pagi untuk memastikan!!! sebenernya kau bisa bekerja atau tidak???" bentak Shivin.
"maaf pak!!! saya pikir....." Shivin memotong pembicaraan Sheila.
"maaf lagi!! aku benci kata itu, Sheila" ucap Shivin dengan suara yang tinggi.
Shivin memutuskan sambungan telponnya. Sheila lagi-lagi menggigit bibir bawahnya, rasanya sakit sekali. Sheila kembali ke meja dan mengambil tas nya.
"aku kembali ke kantor duluan ya!!!" pamit Sheila kepada teman-teman nya.
"tapi kenapa? makananmu belum juga habis" lirih Bima bingung.
"ada pekerjaan yang sangat penting, aku harus menyelesaikannya sekarang juga". ujar Sheila.
"pak Shivin menelpon ya?? ada masalah?". tanya Bima.
"sedikit!!!" ucap Sheila berusaha tersenyum, kemudian segera beranjak untuk kembali ke kantor.